
"Apa kau mau aku antar pulang?"
"Tidak! Terima kasih, Aku akan di jemput," tolak Lara.
"Siapa yang akan menjemputmu? apakah dia lelaki atau__"
"Dia calon suamiku, maaf sepertinya dia sudah tiba. Aku pergi dulu!" cicitnya meninggalkan Darandra.
"Terima kasih! Kau tidak usah singgah ke mana-mana, karena ini sudah malam, sebaiknya kau langsung pulang!" mendengar apa yang dikatakan Darandra sejenak Lara menghentikan langkahnya kakinya, namun ia memilih segera berlalu tanpa ingin berbalik menatap Darandra atau bahkan menimpali nya.
Karena merasa penasaran, bahkan jiwa kepo dan Darandra menyuruhnya untuk melihat siapa calon suami Lara, karena terus terang saja hati kecilnya keberatan jika Lara didekati oleh orang lain.
'Apa yang mereka lakukan?' tanyanya pada dirinya sendiri saat melihat dari kejauhan Lara dipeluk oleh seorang lelaki.
Ck, dasar wanita apa semudah itu dia berbagi pelukan pada seorang pria? dan Kenapa mereka tidak bisa memilih tempat lain untuk bermesraan dasar wanita gila.' gerutunya penuh kesal.
'Bahkan lelaki itu bukan suaminya?' lanjut nya lagi.
'Tapi kenapa aku jadi kesal dengan hubungan mereka? terserahlah dia mau apa itu urusan mereka sendiri.' Darandra yang kesal memilih pergi masuk ke dalam kamar.
Namun entah mengapa setibanya di kamar ia tak bisa memejamkan mata, di saat mengingat kejadian di depan matanya tadi.
Dan seperti yang di janjikan Lara pun segera berangkat ke tempat ia akan bertemu dengan orang yang di jodohkan dengan nya.
Sesampainya di sana ia pun binggung karena orang yang di carinya tidak ada, ia pun terpaksa menunggu, namun 30 menit berlalu orang yang di tunggu nya pun tak kunjung datang. Lara yang kesal berdiri dan ingin beranjak pergi.
"Tunggu! maafkan Aku kau pasti sudah menunggu lama."
Mendengar suara orang yang di tunggu nya Lara yang kesal pun segera berbalik ingin memaki-maki nya.
__ADS_1
"Kau…! apa kau tau Aku…kau…?" Lara tak melanjutkan ucapannya karena dirinya dan orang di depannya itu Sama-sama terkejut.
"Aku tidak menyangka ternyata kau itu wanita yang bukan saja gila tapi juga aneh."
"Apa kau bilang? Aku aneh dan gila? kau saja yang masih mesum" kesal Lara tak ingin kalah.
Darandra hanya tersenyum mendengar umpatan dari Lara, dan ntah mengapa senyuman yang selama ini hilang dari bibir nya kini kembali merekah di saat ia bersama Lara.
Deg.
"Kau kenapa?" Tantanya Lara saat melihat Darandra iba-tiba saja terdiam.
"Aku tidak apa-apa hanya saja Aku__"
"Apa kau sedang merindukan nya?" Darandra tidak menjawab ia hanya menatap ke arah Lara dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Maafkan Aku, aku sudah menolak perjodohan ini tapi__"
"Kenapa? apa kau menolak? apa karena kau tahu aku sudah punya dua anak, atau karena calon suamimu itu masih lajang?" sela Darandra tanpa sadar, seolah dia tidak suka dengan ucapan Lara yang menolak perjodohan dengannya.
"Kau benar sekali, jika aku punya yang masih lajang untuk apa aku memilih orang yang sudah punya dua anak dan bahkan seolah kau merasa tidak suka aku dekat dengan siapapun sedang kan jika kita menikah aku akan menjadi bayang-bayang istrimu yang tidak akan pernah bisa kau cintai, sedang aku dengannya saling mencintai"
"Apa kau kira Aku sangat ingin perjodohan ini, asal kau tau aku juga tidak ingin menikah dengan wanita seperti mu, tapi mengingat kedua Anakku aku akan menyetujuinya,"
"Tidak! aku tidak mau ini di lanjut kan, Aku akan mengatakan nya pada Mama dan Papa untuk tidak memilihmu."
Lara pun segera berdiri dari ruangan tersebut, Namun tiba-tiba saja lampu di tempat itu mati.
"Aaaaa…" teriak Lara ketakutan, namun tiba-tiba saja pinggang nya di tarik dan bersamaan dengan lampu yang menyala.
__ADS_1
"Kini keduanya saling melempar tatapan dengan tatapan begitu dalam dan mengunci.
"Kau tidak boleh pergi dan membatalkan rencana perjodohan ini."
Dan entah mengapa Darandra dengan lembut memberi lumayan pada bibir wanita gila yang sudah membuatnya candu itu.
'Aku tahu kau adalah Amara ku dan aku tidak akan membiarkan siapapun untuk menyentuh dan bahkan menikah denganmu, Aku akan mengembalikan memori mu yang hilang untuk itu kau harus tinggal bersama ku apa pun caranya' Monolog nya.
Ya Darandra sebenarnya sudah menolak perjodohan dengannya Lara dengan menelpon kedua orang tuanya, namun berapa terkejutnya ia dengan semua apa yang di dengarnya dari orang tuanya itu, kalau Lara sebenarnya adalah Amara istri nya yang di nyatakan sudah meninggal, Antara senang dan ingin marah, saat mendengar kebenarannya. Namun ia sadar apa yang di lakukan oleh kedua orang tuanya membuatnya sadar berapa penting istrinya di dalam hidupnya selama ini, bahkan Amara diluar sana terus berjuang sendiri, karena selama satu setengah tahun ia dalam keadaan Koma, mendengar semua tentang istrinya ia pun menangis penuh penyesalan dan berjanji akan membayar semua.
Bagaimana pun caranya, ia akan terus berjuang untuk mendapatkan cinta yang hilang dari Amara, cinta yang tulus yang pernah di acuhkan dan di campakkan nya itu, kini ia akan berjuang untuk cinta itu. Tak peduli seberapa banyak Amara akan menolaknya.
ltulah yang membuat Darandra sempat terlambat selama 30 menit, bahkan ia pun harus pura-pura terkejut.
"Kau, lepaskan apa kau sengaja ingin membuat mati seperti istrimu itu!"
"Usst…jangan ucapkan kata-kata itu, karena aku tidak ingin mendengarnya." Ucapnya lembut, berbisik di telinga Amara nya itu.
Bahkan Darandra kembali memeluk istrinya dengan Fosesif.
"Maafkan aku, maafkan jika aku pernah salah dalam berucap, tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk menebus semuanya.
Demi Anak-anak yang sangat menyayangi mu dia merindukanmu ibunya,"
"Tapi Aku bukan ibu kandung mereka, aku hanya mirip dengan ibu kandung nya."
"Aku tidak peduli tentang hal itu, yang jelas kau harus bersama kami,"
"Kau, apa kau akan berubah jadi pemaksa seperti ini, aku tidak akan mungkin bisa menjadi istrimu di saat hati ku mencintai orang lain, apa kau akan membuat dinding pemisah di antara kita? jika masalah anak-anak aku akan memaklumkan nya meski setelah menikah aku akan sering datang berkunjung ke tempat mu dan aku rasa calon suamiku akan mengerti dengan apa yang aku inginkan karena dia sangat mencintai ku bahkan cinta mati, buktinya ia rela melakukan apa saja untuk mendapatkan cintaku dan restu kedua orang tuaku, tapi sayang kedua orang tuamu yang terlebih dahulu datang untuk menjodohkan ku denganmu untuk itulah aku ingin menolaknya dan aku harap kau mengerti."
__ADS_1