Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Next Part 80


__ADS_3

Kini kesibukan kembali terjadi disaat pagi hari di mana Amara yang sibuk membangunkan sang suami, namun yang di bangunkan malah kembali mendengkur, karena memang semalam mereka tidur hingga hampir menjelang pagi. Setelah beristirahat satu jam di hotel mereka memilih pulang kerumah lama mereka, karena Amara meminta ingin memulai semuanya dari sana, dan benar saja Darandra benar-benar tidak melepaskannya hingga pagi hampir menjelang, ntah dari mana kekuatan lelaki itu, Amara juga sangat heran Darandranya yang sekarang jauh lebih bersemangat daripada Darandra yang dulu.


Beruntung si kembar di titipkan kepada Oma dan juga Oppanya.


Amara beranjak keluar kamar dan menuju kamar Putra dan Putrinya ia membereskan kamar yang berantakan, oleh berbagai macam mainan si kembar yang belum sempat ia bersihkan.


Setelah semuanya beres ia segera menuju dapur untuk melihat apa saja yang bisa di masaknya.


Mata Amara menelisik isi kulkas dan yang ada hanyalah sebutir telur dan dua lembar Roti tawar.


"Ya ampun suamiku kenapa kau semiskin ini? apa tidak ada makanan lain selain ini?" ucapnya pada diri sendiri.


"Ada apa sayang? Hmmm… nanti agak siang kita jemput si kembar dan kita pergi berbelanja, bagaimana?" tanya Darandra pada Amara yang terkejut atas kedatangan nya itu.


"Sayang…kau ini kenapa selalu membuatku terkejut apa kau ingin aku cepat mati karena jantungan?" kesal Amara yang masih mengelus dadanya.


"Usst…" Darandra menyimpan satu telunjuknya pada bibir sang wanita nya.


"Jangan pernah katakan itu lagi, sudah cukup kau yang membuatku mati selama tiga tahun ini, dan aku tidak ingin kau melakukannya lagi padaku, jika tidak maka aku akan benar-benar mati karena terus memikirkanmu."


Darandra memeluk erat tubuh Amara, seolah ia tidak ingin kehilangan wanita yang pernah membuat hidupnya seperti mati segan hidup tak mau, andai tidak ada si kembar mungkin hidupnya akan berakhir tragis.


"Sayang…kau menangis?" tanya Amara saat merasakan punggung nya terasa lembab.


"Siapa bilang aku menangis, dan sejak kapan seorang lelaki menangis, meski ia ingin sekali untuk menangis" Amara tak percaya dengan ucapan Darandra tersebut ia pun memilih untuk menggunakan pelukan suaminya itu.

__ADS_1


"Tidak perlu malu untuk mengakui kalau kau sedang menangis, menangislah jika kau ingin menangis, lagi pula dengan menangis tidak akan mengubah seorang lelaki menjadi cengeng dan lemah bukan? justru dengan menangis kau akan mengurangi beban di dalam sini." tunjuk Amara tepat di posisi jantung suaminya itu.


"Sayang Aku__" Darandra tak sanggup lagi untuk berkata-kata, hanya air matanya yang berbicara atas segala yang ia rasa sudah bercampur aduk di dalam dadanya selama ini, ada rasa bahagia, rindu, sedih bahkan rasa takut akan kehilangan Amara dan kehilangan cinta dari wanita itu sungguh membuat tak ingin melepaskan nya.


Amara pun memeluk suaminya itu membiarkan Darandra meluahkan saranya, begitu pun dengan dirinya yang kini ikut menangis, di saat membayangkan, bagaimana stress Darandra saat mengetahui harus kehilangan istrinya untuk selamanya dan, membayangkan bagaimana perjuangan sang suami yang berusaha menggantikan perannya sebagai ibu selama ini, dan itu tidak lah mudah selain profesi nya sebagai dokter dan Kepala rumah sakit, tentu itu akan membuatnya sedikit kerepotan, Namun tidak bagi Darandra dia selalu membawa si kembar kemana pun ia pergi kecuali ke luar negri si kembar akan di titip pada Oma dan oppa nya.


Bahkan ia juga memasak makanan sehat untuk si kembar, pantas saja si kembar kini nampak menggemaskan dengan wajah gembul mereka.


"Sayang, Aku minta maaf jika aku meninggal kan mu terlalu lama, mulai sekarang dan selamanya Aku berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi" Ucap Amara kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


"Benarkah itu sayang?" tanya Darandra dengan tatapan mata yang mulai berbinar.


"Kalau begitu kau harus membuktikan nya dengan perbuatan" ucap Darandra tersenyum penuh arti.


"Apa yang kau maksudkan?" tanya Amara dengan perasaan yang mulai tidak enak, karena Darandra terus saja menatapnya dengan tatapan tanpa berkedip.


"Takut? kau takut kenapa sayang?" telisik Darandra pura-pura tidak tau arah omongan istrinya itu.


"Aukh…sayang turunkan aku, kau akan membawa ku kemana?" pekik Amara saat merasakan tubuhnya kini terasa kembali melayang di udara.


"Tentu saja mengobati lukamu sayang, tadi kau mengatakannya masih perih bukan?"


"A-apa kau__"


"Sudahlah jangan takut, aku ini suamimu sayang… bukan seorang penjahat kelamin yang perlu kau takuti."

__ADS_1


"B-bukan itu, hanya saja aku masih harus_"


"Kau jangan kemana-mana tunggu aku di sini ya! aku mau isi Bhathub dengan air hangat dulu" sela Darandra mendudukkan Amara di atas kursi yang ada di kamar mandi tersebut.


Setelah memakan waktu kurang lebih 5 menit, Bathub pun sudah terisi dengan air dingin dan air hangat. Sebelumnya Darandra juga sudah menuangkan sedikit cairan Anti septic kedalam air tersebut.


"Ayo kemarilah semuanya sudah siap, biarkan aku yang akan membantumu." Ucap Darandra tersenyum dan bahagia bisa membantu istrinya untuk mandi.


"Tapi sayang Aku bisa sendiri kok…" tolak Amara malu-malu, kenapa juga Darandra mengajaknya mandi bukan kah dia semalam sudah mandi.


"Kau jangan pernah menolak suamimu ini, lagi pula apa yang perlu kau takutkan,? Aku hanya akan menyuruhmu berendam beberapa menit saja, agar rasa nyerimu berkurang karena nanti malam kita akan melanjutkan nya sampai pagi" bisik Darandra sambil tersenyum penuh arti.


Glek.


Namun itu tidak berlaku bagi Amara justru dengan susah payah dia menelan salivanya.


"Sayang apa kau tidak ingin mandi?" ucap Amara tanpa sadar.


"Ah…tentu saja sayang…Aku juga akan mandi, jadi aku boleh ikut ya?"


"Ah…Mam-maksudku, Aku ingin kau mandi setelah aku selesai mandi." Ucap Amara kembali. Darandra pun hanya bisa mengurungkan niatnya untuk mandi bersama sang pujaan hati.


"Sayang ambilkan Aku handuk, boleh?"


"Tentu saja boleh sayang, ini pakailah punya ku" ucap Darandra yang entah sejak kapan ia membelitkan handuk di pinggangnya itu.

__ADS_1


"Aaaa Kak…Andraaaa…tutup punyamu cepat…!" teriak Amara menunjuk dengan jengah, sesuatu yang sama sekali tidak di tutupi oleh Darandra itu,.


"Sayang… dia tidak akan memangsamu hari ini, aku sudah bilang kan kita akan melakukan malam ini saja. Apa kau keberatan, bukankah kau juga sudah sering melihatnya jadi untuk apa kau malu." Goda Darandra membuat Amara semakin menunduk malu.


__ADS_2