Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 46


__ADS_3

"Ada apa Ra,?" Tanyanya bingung.


"Kak, kali ini kau harus melakukan selembut mungkin,?"


"Apa,? kau ini ada-ada saja,'' kesal Darandra di saat sesuatu yang ingin segera di tuntaskan malah, tertahan oleh Amara.


"Baiklah,, aku akan melakukannya selembut mungkin," ucapnya pada akhirnya, Darandra pun kembali ingin melakukan penyatuannya itu, namun lagi-lagi Amara menahan tubuhnya untuk yang ke dua kalinya.


"Apa kau yakin akan melakukannya dengan lembut?" ucap Amara saat mendapat tatapan tajam dari Darandra, Amara sebenarnya takut untuk melakukan penyatuannya karena ia baru saja pulang dari rumah sakit, ia takut akan terjadi sesuatu kepada ke dua anaknya meski dokter mengatakan aman untuk melakukannya namun ia masih trauma dengan apa yang di alaminya seminggu yg lalu.


"Sejak kapan kau mulai meragukanku?" tanya Darandra kesal, karena tidak taukah Amara kalau selama beberapa minggu ini ia selalu berusaha untuk menahan diri untuk tidak, menyentuhnya dan ia rasa jika berada lama di samping Amara maka ia benar-benar tidak kuat untuk tidak melakukannya.


''Aku tidak meragukanmu hanya saja_"


"Kalau begitu biarkan aku melakukannya," ucap Darandra lagi dengan gusar menjeda kalimatnya.


"Baiklah," meski masih merasa ragu Amara akhirnya pasrah dan mengizinkannya.


Darandra pun kembali bersiap melakukan penyatuannya, dan baru saja Darandra mencelupkan miliknya Amara kembali menahannya, dan bahkan kali ini Darandra sedikit tersentak karena Amara yang berteriak.


"Kak...stop..! aku rasa sebaiknya kita tidak melakukannya sekarang aku benar-benar takut kau akan menyakiti mereka," ucap Amara tanpa sadar.


"Menyakiti mereka,? apa maksudmu dengan menyakiti mereka, apa kua_"


"Aku tidak mau kau melakukannya, karena kau taukan Caterine sedang hamil anakmu, dan Apa kau tau, seorang bayi meski berada di dalam kandungan ia akan tau apa yang di lakukan ayahnya, dan dia pasti tidak menyukai itu," Amara dengan cepat menyela ucapan Darandra karena kebodohannya hampir saja membuatnya ada di dalam masalah.


"Apa benar seperti itu? sepertinya aku tak pernah mendengarnya?" meski nampak binggung dan dan tidak percaya, Namun Darandra benar-benar mengurungkan penyatuannya.


"Baiklah, aku akan coba percaya padamu kali ini, meski aku tahu kau selalu saja berbohong padaku, tapi kau harus membantuku," ucap Darandra dengan seringai di bibirnya.


Deg.

__ADS_1


"M-membantu Apa,?" perasaan Amara mulai tidak enak.


"Menidurkannya," bisik Darandra hampir tak ter dengar, membuat Amara membulat kan mata dan dengan susah payah ia menelan ludah.


"Tat-tapi Kak, A-Aku t-tidak, maksudku aku benar-benar tidak tau b-bagaimana c-caranya,?'' gugup Amara.


"Apa kau benar-benar tidak tau caranya?"


"Tidak...!" jawab Amara cepat, dan itu membuat Darandra tersenyum, karena kepolosan istrinya itu.


"Mam-maksudku Aku tidak pernah melakukannya," ucap Amara tertunduk dengan wajah yang merah merona.


"Baiklah anggap saja kau dapat bimbingan gratis dariku jadi jika saat genting kau harus mempraktekkannya," ucap Darandra dengan wajah yang menahan senyum.


"Baiklah Kak,?"


"Darandra pun kini membalik posisinya dengan Amara yang berada di atas perutnya dan ia pun mulai menuntun Amara untuk menyatukan penyatuannya, dan Amara begitu polosnya menurut saja apa yang di lakukan suaminya itu.


Suara khas orang bercinta kini terus bersahutan, silih berganti, hingga kedua saling merengkuh saat sesuatu yang ingin segera di tuntaskan membuat tubuh keduanya kembali bergetar hebat.


Dengan nafas yang masih tersengal-sengal


Darandra menghujani Amara dengan kecupan-kecupan hangat di seluruh wajahnya.


"Bagaimana apa kau menyukai apa yang sudah aku ajarkan tadi? dan aku harap kau sudah paham, dan mengerti"


"Kak, kau...! itu sama saja kau melakukannya," Amara memukul dada bidang milik suaminya itu, hingga ia kembali mendapat pelukan dan kecupan di kening nya, Dan itu cukup membuat Amara marasa bahagia bahkan apa yang di lakukan Darandra kali ini sungguh sangat jauh berbeda dari sebelumnya membuat Amara kembali di landa kebimbangan.


"Kak...Aku_"


Cup.

__ADS_1


Kembali Darandra memberikan kecupan di bibir istrinya itu, membuat Amara terdiam meresapi semuanya.


"Diamlah jangan banyak bicara, kau sedang lelah, lebih baik kau istirahat, hmmm."


Amara hanya mengaguk mengiyakan ucapan suaminya yang begitu lembut terdengar di gendang telinganya dan juga begitu syahdu menyentuh di hatinya.


"Kak, apa boleh kau menceritakan kisah mu dan Caterine selama ini bukankah kau mengatakan berpisah dengannya di saat kalian Sekolah Menengah Atas, lalu bagaimana dia bisa mengenalmu?" tanya Amara yang penasaran.


"Aku dan Caterine memang berpisah, di saat orang tuanya di pindahkan dan kami selama ini berteman di media sosial hingga dua tahun terakhir Akun media sosialnya sudah tidak Aktif lagi." Amara yang mendengar hanya bisa menggukkan kepalanya saja.


"Aku harap kau bisa mencintai Caterine karena dia sudah menjadi ibu dari anakmu, dan untuk surat pernikahan kita kau tidak usah repot-repot mengurus nya. Karena kita tidak tau kedepannya hubungan kita ini akan seperti apa,"


"Ra,! tatap aku, Aku ingin kau sabar menunggu hingga aku benar-benar bisa yakin dengan perasaanku padamu, jika aku benar-benar mencintaimu maka aku akan segera mengatakannya padamu, aku tidak ingin terburu-buru mengakuinya karena kau tau sendiri apa yang di lakukan buru-buru itu hasilnya tidak akan baik, dan kau boleh mengandung anakku jika anak dari Caterine sudah lahir dan sudah besar, bagaimana apa kau mau,?" Amara hanya mengaguk, mengiyakan.


Dan kembali ia mendapatkan pelukan dari suaminya itu.


"Maafkan Aku Kak, mungkin Aku bukanlah wanita yang kuat menanti dan di duakan, walau cinta bisa kau beri tapi aku tidak ingin pernah berbagi, biarlah Aku jadi wanita yang paling egois itu tak mengapa, karena cintaku bukanlah sebuah angkot yang menanti penumpang untuk memberi uang, begitupun dengan hatiku yang telah lama dalam belenggu yang tanpa kepastian, ada kalanya pasti akan merasa bosan karena terlalu lama di abaikan, sedalam apa pun saraku padamu saat ini, suatu saat ia akan berlalu, tanpa melihatmu lagi, dan aku harap tak ada sesal di hatimu di saat Aku akan menjauh pergi, di saat itu kita sudah mulai berjalan sendiri-sendiri.


Hanya harapan yang akan terus gantungkan, karena hanya itu yang bisa membuatmu akan bertahan dalam Sebuah belenggu penyesalan.'' Gumamnya hanya dalam hati.


Amara perlahan menatap suaminya itu.


"Ada apa? kenapa kau menatapku seperti itu?"


Tanya Darandra menatap binggung, Bukannya menjawab Amara hanya menyunggingkan senyumnya.


"Kak, lepaskan aku, Aku ingin membersihkan diri," ucap Amara karena Darandra tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Ayo aku juga ikut,!" Darandra pun bangkit lalu mengangkat tubuh Amara dan membawanya masuk kedalam Kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1



__ADS_2