Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Patr 27


__ADS_3

"Sayang maafkan aku, aku berjanji akan melakukannya dengan pelan," ujar Jhony, merasa bersalah di saat melihat air mata istrinya kembali mengalir.


Jhony kembali memberikan kecupan lembutnya pada kedua mata wanitanya itu, bahkan kini la kembali memberikan ******* dan usapan lembutnya pada dua gundukan yang kini sudah menjadi favoritnya itu.


"Auhk...Akh..Jho..ny.." Erang tasya dengan suara yang terbata saat kembali merasakan sensasi yang luar biasa pada tubuhnya dimana bagian atasnya di sesap dengan lembut sedang bagian intinya sedang bergesekan dengan milik Jhony yang sudah menegang dari tadi, sedangkan Jhony terus saja berusaha untuk membobol benteng pertahanan milik wanitanya itu, hingga.


"Aaaakh...Jhon...sakit" rintih manja tasya yang membuat Jhony semakin bergairah.


"Sayang setelah ini tidak akan sakit kok, aku janji akan pelan-pelan saja." Ucap Jhony setelah berhasil masuk, dan menjeda permainannya sejenak karena ingin memberikan kesempatan pada tasya untuk bisa menerima miliknya terlebih dahulu, sedangkan kuku tajam milik tasya masih tertancap dengan indah di punggungnya.


Setelah beberapa saat terdiam kini Jhony mulai bergerak perlahan-lahan, sedangkan tangannya kembali memberikan rem..asan lembuatnya, dan benar saja kini Tasya sudah bisa menerimanya dengan sempurna Jhony pun mempercepat tempo gerakannya dan memberikan tekanan demi tekanan yang mampu membuat Tasya menggelinjang tak karuan entah sudah beberapa kali suara erangannya lolos keluar.


"Sayang...aku..."


"Kita keluarkan sama-sama ya sayang," ucap Jhony menjeda kalimat Tasya karena ia tahu apa yang sedang di rasakan istrinya ini, dan Jhony pun kembali mempercepat tempo gerakannya, hingga Bluss...sesuatu yang hangat di rasakan oleh Tasya telah menembus dinding rahimnya itu.


Mereka pun sama-sama terkulai dengan nafas yang saling memburu. Jhony menatap wanitanya yang kini telah menjadi miliknya seutuhnya itu, yah bukan saja penikahan yang mengikat keduanya tapi cinta, dan saling memiliki yang kini lebih memperkuat ikatan pernikahan mereka, cinta yang kini menghadirkan rasa mampu mengikis kebencian yang selama ini bertahta, di hati Tasya.


"Terima kasih sayang untuk malam ini, dan untuk cinta yang telah hadir di hatimu,"


Jhony kembali mencium pucuk kepala Tasya dengan penuh cinta lalu memeluknya dengan penuh kasih, namun tiba-tiba saja ia mengurai pelukannya di saat ia merasakan tubuh istrinya bergetar.


"Ada apa sayang? kenapa kau_"


"Maafkan aku jika tarlambat menyadari hatiku yang sebenarnya jatuh cinta semakin dalam padamu," sela Tasya menjeda kalimat suaminya itu.


"Maksudnya,?" tanya Jhony heran saat Tasya mengatakan jatuh cinta semakin dalam padanya.


Tasya menatap lekat manik mata lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu.


Kini la pun tersenyum hingga kembali nampak terlihat deretan giginya yang tersusun rapi itu.

__ADS_1


"Kau tau,, aku sebenarnya sudah mencoba dan terus mencoba mencintai Darandra namun setiap aku mencobanya, kau seolah selalu ada di fikiranku, itu yang membuatku kadang marah, dan membencimu, Aku berfikir kenapa aku terlalu mencintaimu, dan rasa itu semakin menguat semenjak kita menikah, hingga saat seminggu yang lalu aku memutuskan untuk menyudahi, bahkan ingin membicarakan ini denganmu namun kau tak memberiku kabar sama sekali, membuatku kembali berfikiran kalau kau kembali mengkhianatiku, aku takut di saat rasa cintaku sudah melimpah maka rasa itu akan membuatku kembali kehilangan dirimu, dan akan membuatku hancur dan hilang arah."


Mendengar penuturan Tasya yang panjang lebar membuat Jhony mengeratkan pelukannya, bahkan kini dia yang menangis.


"Kau kenapa suamiku,?" tanya Tasya binggung, seharusnya suaminya itu bahagia tapi kenapa ia malah menangis.


"Maafkan aku istriku, aku sudah banyak memberikan luka dan bahkan menaburkan garam di atas lukamu itu, kau tau semenjak kejadian itu aku ingin membalas dendam padamu bahkan pada Jelita, Namun aku sadar aku yang banyak bersalah, saat aku mencoba untuk meminta maaf padamu kau sudah bersama Darandra waktu itu."


Setelah saling mencurahkan rasa dan perasaan mereka, Jhony dan Tasya pun kembali saling memeluk menyalurkan rasa yang selama ini membelenggu perasaan mereka masing-masing.


...----------------...


Pagi.


Tasya menggeliat mencari sosok lelaki yang semalam memberikan nya kenyamanan dan kehangatan. Siapa lagi kalau bukan suaminya sendiri.


'Kemana perginya sih kenapa tidak membangunkan aku,?' Tasya berusaha hendak bangkit namun bagian intinya begitu nyeri.


"Mama...mama...mama...,!"


"ltu, kan suara Riri, lalu siapa yang di panggilnya Mama...,?"


"Assalamualaikum selamat pagi sayang apa kau sudah bangun,?" tanya Jhony yang sedang menggendong Riri.


"Waalaikum salam. Suamiku kau, darimana saja aku mencari mu dari tadi,?" Tanyanya pada Jhony yang baru saja masuk.


"Kami tadi keluar sebentar jalan-jalan, ayo kita sarapan aku sudah pesan makanan kesukaanmu,!" ajak Jhony pada tasya.


"Tapi Suamiku aku__" Tasya tak melanjutkan ucapannya Karena ia merasa risih karena di antara mereka ada Riri.


"Mama kenapa,?" tanya Riri

__ADS_1


sambil bulatkan matanya.


"Mama? kau, memanggilku Mama?" Tasya bertanya ulang.


"Iya,, Mama, karena Papa bilang kalian adalah orang tuaku sekarang," ucap Riri dengan mata yang berbinar.


"O...orang tua, suamiku kau_"


"Sebaiknya kita sarapan dulu, aku ambilkan makanannya, aku tau kau mungkin tak bisa bergerak sekarang, maafkan aku," sela Jhony menjeda kalimat Tasya yang nampak terlihat sedikit kesal, bagaimana tidak kesal kalau suaminya itu belum meminta pendapat tentang menjadikan Riri sebagai anaknya.


"Mama, sakit ya?" tanya Riri mengalihkan perhatian Tasya, la turun dari gendongan Jhony dan kini ia berjalan mendekat, sedangkan Jhony keluar mengambil makanan untuk sarapan pagi mereka.


"Mama tidak sakit sayang hanya saja, Mama sedikit pusing," ucapnya berbohong.


"Baiklah sebaiknya kalau Papa datang aku akan menyuruhnya memijat kepala Mama, karena Papa jago memijat pasti kepala Mama akan cepat sembuh nantinya."


"Oh..ya..Benarkah, kalau Papa pandai memijat?" kok, Mama baru tau," ucap nya sambil menoel hidung Riri yang begitu mancung itu.


"Ayo kita makan sayang, Riri ingin makan apa sayang?"


"Aku mau apa yang Mama makan, pasti kesukaan Mama sangat enak," ujarnya kembali.


"Baiklah, ayo sekarang semuanya sudah siap,"


"Suamiku makananmu mana,?" Aku belum lapar lebih baik kalian berdua yang duluan makan," ujar Jhony.


"Sini biarkan Aku akan menyuapimu," Jhony pun meraih mangkok yang berisi makanan yang di pegang Tasya.


"Papa Riri juga mau Pa' di suap," ucap Riri.


Jhony pun menyuapi kedua orang yang sangat di cintainya itu.

__ADS_1


"Suamiku, sebaiknya kau makan juga sini biar aku yang gantian menyuapimu," ujar Tasya mengambil alih sendok yang ada di tangannya itu.


__ADS_2