
"Jangan pernah menolak ku Amara,! atau Kau akan__"
"Akan apa?! Mari kita bercerai saja.!"
Mendengar ucapan Amara Darandra pun menghentikan aksinya. Darandra yang geram mendorong tubuh Amara merinding lalu menghimpitnya.
"Tutup mulutmu Amara! Apa kau tidak dengar kalau aku akan mendaftarkan pernikahan kita, agar kau sah menjadi istriku, dan selamanya Kau akan hidup denganku, seharusnya kau merasa senang dan puas Mendengar hal itu. Bukankah itu keinginanmu selama ini,?"
"Yah... kau benar sekali dokter Darandra yang terhormat, tapi itu dulu dan sekarang aku tak menginginkannya lagi, kau tahu kenapa aku membencimu dan sangat-sangat membencimu, walaupun kita akan hidup bersama Aku akan berusaha melupakan rasa cintaku padamu agar yang tersisa hanya kebencian di hatiku untukmu. Bukankah dulu kau mengatakan bahwa kau tidak bisa menyentuh wanita lain selain aku,?
kau tidak bisa melakukan hubungan dengan wanita lain selain diriku karena kau tidak bernafsu, lalu kenapa dia bisa hamil,? jelaskan padaku kenapa dia bisa hamil,?" jerit Amara berapi-api, mendengar pertanyaan dari amara Darandra pun begitu terkejut.
Deg.
"Benar seperti apa yang dikatakan Amara Bukankah selama ini aku tidak bisa melakukan hubungan itu dengan wanita lain selain dengan Amara,? tapi kenapa Catherine bisa hamil? tapi waktu itu dia yang menyelamatkanku dan menolongku, hingga terjadilah hal seperti yang tidak diinginkan itu,"
Monolognya dalam hati, dan kini ia mulai sedikit menjauh dari Amara.
"Amara mungkin keadaannya waktu itu berbeda, karena waktu itu aku sedang mabuk, kau ingatkan saat pertama kali aku pulang di hari kita menikah aku pulang dalam keadaan mabuk karena aku tidak terima dengan kenyataan jika aku harus kehilangan Tasya.
Dan aku benar-benar tidak bisa mengingat apa-apa.
Apa yang aku lakukan bersama Catherine hanya saja waktu itu aku sadar Kami memang pernah tidur bersama, tapi sebelum Caterine terbangun aku meninggalkannya terlebih dahulu, mungkin Jika aku mabuk, atau dalam keadaan tidak sadar aku bisa melakukan hal itu." Ucapnya menjelaskan panjang lebar.
"Aku tidak ingin tahu apa permasalahanmu dengan wanita itu, tapi yang harus kau tahu adalah, Aku ingin lepas darimu. Aku ingin jauh darimu aku mohon lepaskan aku."
__ADS_1
"Tidak Amara!!! Aku tidak akan pernah melakukan itu, dan tidak akan pernah! Kau Harus bersamaku selamanya Kau Harus Mencintaiku,!"
"Baiklah aku akan mencintaimu selamanya hingga akhir hidupku, tapi bisakah kau mencintaiku seumur Hidupmu,? dan usir wanita itu dari dari hidupmu.
Apakah kau bisa melakukan itu untuk ku,?"
"ltu tidak akan mungkin aku lakukan kau tahu kan Aku ini seorang dokter, Catherine sedang mengandung anakku aku tak mungkin mengusirnya Lalu bagaimana denganku Seandainya aku mengandung anakmu Apa kau tetap tak ingin mengusirnya,?" Amara aku mohon jangan mempersulit keadaan kau tidak akan mungkin hamil Amara karena kau sudah meminum obat pencegah kehamilan yang aku berikan padamu.
Maafkan Aku seandainya Caterine tidak sedang mengandung anakku tidak apa-apa, tapi untuk saat ini, aku akan fokus dengan kandungan Catrine dulu karena kandungannya sedang lemah apa lagi dia mencoba untuk bunuh diri,"
"Apa bunuh diri?" kejut Amara mendengar apa yang dikatakan Darandra dia tidak menyangka kalau wanita itu lemah sekali.
Untuk itu aku harap kau bisa diajak kerjasama, dan jangan pernah membantahku, mulai besok kita akan pindah ke apartemen harus ikut karena tidak ada yang akan mengawasi Caterin dan menjaganya, Jika ia membutuhkan sesuatu."
"Jika kau ingin pergi ke sana pergilah bersamanya, sedangkan aku akan tetap tinggal di sini, sekarang kau bisa kan menggaji seorang pelayan untuk menjaganya. Dan harus kau ingat aku ini istrimu yang kau nikahi sedangkan dia belum kau nikahi,"
"Aku tau dua ibu Dari Anakmu,! Dan aku pun bisa menjadi Ibu Dari Anakmu jika kau menginginkannya, tapi kau tak pernah menginginkan itu.
"Sekarang sebaiknya keluarlah Aku tak ingin melihatmu disini."
"Apa kau benar-benar mengusirku,? Amara apa kau tak merindukanku,?" tanyanya dengan menyentuh dagu milik wanita nya itu.
"Kemarin mungkin tapi untuk saat ini tidak akan pernah lagi." Ucap Amara dengabsuara yangbbergetar.
"Tidak Amara, Kau harus tetap merindukanku dan kau harus tetap mencintaiku," ujarnya menatap lekat, sambil menyentuh mata Amara yang nampak sembab.
__ADS_1
"Kau itu egois Darandra sangat egois,!" Amara marah memberontak di saat daran berusaha memeluk tubuhnya namun semakin kuat ia melawan itu tidak membuat Darandra melepasnya, Entah mengapa ia begitu merindukan untukn menghirup aroma tubuh wanitanya itu.
Ya,,sejak satu bulan ia terus merindukan aroma tubuh Amara bahkan ingin menghirup aroma tubuh wanitanya tersebut karena jika tidak kepalanya akan terasa pusing.
la pun juga bingung dengan keadaannya yang selama 1 bulan seperti ini, bahkan ia juga sudah memeriksakan keadaannya pada seorang dokter namun jawabannya tak di dapat penyakit apa pun yang menyebabkan ia merasa pusing.
"Kau tahu Amara selama satu bulan kita tidak bertemu aku merasa ingin selalu memeluk tubuhmu ini, seolah aku tak ingin jauh darimu untuk itu tetaplah seperti ini dulu, Aku hanya ingin menghirup aroma tubuhmu,"
Mendengr perkataan suaminya dengan nada yang lembut itu amarah pun terdiam meski dalam sesenggukan tangisnya, sebenarnya tidak dipungkiri juga kalau la juga sama sangat merindukan pelukan hangat lelakinya itu.
"Hei...lihatlah Aku kenapa kau masih terus menangis,? Please, aku tidak tahu caranya untuk menghibur orang yang sedang menangis,"
Darandra kembali menatap wajah wanitanya itu lalu mencium kedua mata milik Amara, bahkan kini ciuman itu berubah menjadi sebuah tautan yang sangat menuntut, di saat Darandra kembali memberikan tautannya, bahkan kali ini Amara pun bembalasnya, membuat keduanya terbuai oleh sensasi yang di rasakan nya.
Darandra merobek dres yang di pakai Amara hingga tak berbentuk, bahkan melemparnya ke segala arah, begitu juga dengan miliknya. sedang tangannya kini mulai aktif membelai lembut dua buah gundukan yang sudah jadi favoritnya, Namun entah kenapa kedua buah itu nampak berbeda tak seperti biasanya.
"Aku rasa punyamu semakin membesar dan tubuhmu juga semakin padat, apa kau makan banyak semenjak aku meninggalkan mu.?"
Amara hanya menggangguk sebagai sebuah jawaban karena permainan lembut suaminya pada kedua gundukannya itu, membuatnya, tak bisa berkata-kata.
"Aku meginginkanmu malam ini apa boleh aku melakukannya,?" Amara kembali hanya memberikan anggukan dengan cepat, bahkan kini ia menggigit pundak suaminya itu, karena sejak tadi jemari tangan Darandra bermain di tempatnya yang mulai lembab itu.
Mendapat anggukan dari Amara Darandra pun segera mengambil posisi, ia segera mengarahkan miliknya kedalam lembah yang sudah mulai mencair, dengan mengangkat satu kaki milik Amara agar bisa menerobos nya, Darandra pun berhasil masuk dan kini mulai bergerak, dan mengangkat tubuh Amara, Amara pun membelit kan kedua kaki nya pada pinggang suaminya itu.
Dengan gerakan pelan tapi pasti, Darandra memberikan tekanan, demi tekanan, hingga akhirnya mereka berdua kembali terkapar, dengan Nafas yang memburu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...