Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 71


__ADS_3

"Berhentilah mendekati Putriku jika kau memang ingin apa yang kau lakukan selama ini tak di ketahui oleh ibumu!"


"Om siapa? kenapa mengancamku!"


"Aku orang tua Lara aku bisa saja melakukan apapun padamu, termasuk


menghancurkanmu anak muda, tapi aku tidak akan melakukannya, apa kau kira dengan wajah tampan mu itu bisa memberi makan putri ku,? aku sudah tahu berapa banyak wanita yang sudah kau hancurkan, dan kau jangan berani melakukan itu pada putri ku!" ucap dokter James penuh penekanan dengan wajah datarnya.


"Tapi Om, Akusangat mencintai Lara dan…"


"Lupakan cinta mu itu, karena tidak ada cinta yang tidak berkorban."


"Apa maksud Anda saya tidak mengerti?" "Jika kau benar-benar mencintai Lara maka tinggalkan dia,! Aku tidak ingin Lara menderita karenamu,! apa yang bisa dibanggakan dari laki-laki sepertimu,? kau masih hidup di bawah ketiak kedua orang tuamu, bahkan Kau hanya bisa menghabiskan uang kedua orang tuamu untuk berfoya-foya bersama gadis-gadis yang kau sukai, dan kau tidak tahu Bagaimana caranya untuk mendapatkan uang itu, Kau hanya tahu cara untuk menghabiskannya.


Apa itu caranya kau mencintai Putriku? dengarkan aku, Aku tidak akan pernah membiarkan Anakku jatuh di tangan pria sepertimu, selangkah saja kau berani mendekat maka kau akan tahu akibatnya!" tegasnya lagi penuh dengan nada ancaman.


"Jadi Apakah kedatangan Anda ke sini hanya untuk mengancam saya?"


"Aku tidak sedang mengancammu tapi hanya memberikan peringatan." Setelah berucap seperti itu, dokter James pun pergi meninggalkan Khalid, Doter James memang mengetahui sudah sejauh mana Hubungan Khalid dengan Lara selama ini, dari orang-orang suruhanya.


"Tunggu dulu Om! Anda harus mendengar apa yang ingin saya katakan, hari ini mungkin aku akan meninggalkan Lara, Tapi suatu saat nanti Aku akan kembali untuknya, aku akan membuktikan bahwa aku pantas untuk Lara. Dan di saat itu Om harus berjanji untuk merestui kami, dan saya tidak akan menggunakan kekayaan kedua orang tua saya untuk bisa berdiri sendiri,"


"Baiklah, buktikan ucapanmu itu! aku akan melihatnya, dan aku akan memegang janjimu. Dan ingatlah seorang pria itu yang dipegang adalah janjinya," dokter James pun meninggalkan Khalid yang masih berdiri dengan perasaan yang tak menentu.Padahal dia sudah berjanji pada Lara malam ini untuk memberikan kejutan, la ingin mengungkapkan perasaannya.


"Ma...! kenapa Papa tidak ikut mengantar apa ada yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Lara saat sang mama mengantarnya ke Airport.


"Tidak apa-apa sayang, Papa hanya lagi sibuk"


"Tapi kenapa Lara harus buru-buru dikirim ke Singapura Ma,?"


"Karena perusahaan memang sedang membutuhkanmu sayang."


"Baiklah tapi Mama lihat tidak handphone Lara? Lara sudah mencarinya tapi tidak ada. "Kamu sendiri menyimpannya di mana sayang?"

__ADS_1


"Ada kok Ma, di bawah tempat tidur, tapi kok aku tumben tidak ada."


"Dah pake ini aja, ini baru juga kok, nomor nya sudah Mama beli juga" ucap Nyonya Bianca.


Lara pun dengan berat hati menerima telpon yang di berikan oleh sang Mama tanpa berani menolak nya.


Tak lama kemudian terdengar suara pengumuman pemberangkatan pesawat yang akan ia naiki telah tiba.


"Ma Lara masuk dulu ya! Mama kalau pulang Hati-hati."


"lya sayang jangan lupa kalau sampai telpon Mama di telpon itu hanya ada nomor telpon Papa dan Mama," ucap Nyonya Bianca.


"lya Ma," ucap Lara pelan karena fikiran nya kini tengah kemana-mana.


"Maaf kan Mama sayang Papa yang mengambil ponselmu." Lirihnya menatap sang putri yang kian menjauh.


Sementara itu, Khalid yang terus saja menelpon Lara dari tadi membanting handphone nya hingga hancur, la marah karena nomor Lara sudah tidak aktif lagi.


"Aku bersumpah kalau aku akan menjadi orang yang bisa kau banggakan Lara dan di saat itu aku akan datang untuk melamarmu menjadi wanitaku satu-satunya."


Satu minggu telah berlalu seperti apa yang di inginkan Lara, ia pun akhirnya pulang, tanpa sepengetahuan Mama dan Papanya. la memang meminta izin untuk pulang, tapi ia tidak memberitahukan kapan hari dan waktu kedatangannya. la pun mendarat pukul 23:00 malam Lara sengaja memilih penerbangan malam karena akan menjadi kejutan buat ke dua orang tuanya.


Sesampainya di Bandara lnternasional, Lara yang buru-buru masuk sebuah mobil tanpa melihat siapa yang berada di mobil tersebut, bahkan saking capeknya ia pun langsung tertidur, begitu pun orang yang berada di samping Lara, dia tidak terlalu memperhati kan ada seseorang yang baru saja masuk di dalam mobil dan duduk bersamanya. Karena kepalanya masih terasa pusing sebab seminggu ini kurang beristirahat, Apalagi matanya kini tertuju pada Tablet yang berada di tangannya karena asyik menonton Vidio sikembar yang selama ini ditinggal keluar Negri.


Yah lekaki itu adalah Darandra, setelah puas ia pun memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan penatnya selama beberapa saat.


"Tuan, sudah sampai," ucap sang sopir taxi setelah tiba di depan halaman rumahnya.


"Ah…ya!" ucap Darandra la pun segera bangun lalu bergegas turun karena ingin segera memeluk sikembar, karena tadi sebelum berangkat dia sempat menelpon Cleo sang Mami untuk membawa si kembar ke rumah nya dan di titip kan ke Nani nya saja.


"Maaf Tuan istri Anda,? apa Anda akan meninggalkan istri Anda di dalam mobil ini?"


tanya sang sopir taksi membuat Darandra melongo.

__ADS_1


"lstri,? tapi say…" Darandra terdiam saat berbalik, melihat sesoso tubuh kini tengah tertidur pulas dengan sebuah dengkuran.


Karena merasa sang sopir terus menatapnya la pun mengguncang tubuh wanita yang tak di kenalnya itu, namun Lara tidak bergerak sedikit pun. lngin rasanya ia memaki wanita yang tak di kenalnya itu, atau menyuruh sopir taksi membuangnya karena ia baru tahu ada seseorang wanita yang tak di kenalnya tidur bersamanya di mobil dan sangat membuat nya merepotan.


"Sebaiknya Anda menggendong istri Anda Tuan, kasihan istri Anda mungkin sangat capek," ujar sang sopir kembali.


Darandra mau tidak mau harus mengikuti saran dari sang sopir tadi.


"Bantu aku membawa barang nya masuk," perintah Darandra pada sang sopir.


"Tuan…" cicit seorang pelayan di rumahnya itu,


"Bi minta tolong bukakan pintu kamar itu!" seru Darandra memberi perintah, untuk membuka kamar milik Amara.


"Tapi di situ ada si kembar Tuan, tadi mereka tidak bisa tidur, pas di bawa kekamar tersebut si kembar langsung tidur Tuan," ucap sang Pelayan.


Darandra pun akhirnya memilih kamar nya untuk sementara membaringkan tubuh wanita yang tak di kenalnya itu.


"Dasar wanita bodoh! apa kau tidak melihat dengan baik, kau masuk mobilnya siapa?"


Dengan perasaan kesalnya ia pun membanting tubuh Lara di atas tempat tidur miliknya.


Sedangkan ia memilih segera masuk kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


la pun keluar dengan handuk yang masih membelit di pinggang nya.


"Jangan-jangan jangan tinggalkan aku,! aku mohon…" cicit Lara sambil terisak membuat Darandra yang baru saja ingin memakai bajunya berjalan mendekati tubuh Lara, bahkan baju yang tak sempat di pakai tergeletak di lantai.


"Apa dia bermimpi?" lirih Darandra bergumam pelan.


"Hei…bangunlah kau jangan menangis seperti in…" Darandra yang berusaha membangunkan wanita asing itu namun tiba-tiba ia tercekat saat ia membalik tubuh wanita itu dan berapa terkejutnya la melihat wajah wanita yang sejak tadi tertutup rambut panjang miliknya itu, kini terbuka dengan jelas di depan mata nya.


Deg.

__ADS_1


"Amara…?!"


__ADS_2