
"Kalian siapa...? Kenapa kalian mengikuti ku,?" Sentak Amara pada dua orang lelaki berbadan gempal dan tegap, dengan wajah yang sangar.
"Nona harus ikut kami, karena Bos kami ingin berjumpa dengan Nona," ucap salah satu di antara mereka.
"Tidak Aku tidak mau, lagi pula Aku tidak mengenal siapa kalian...Dan juga siapa Bos kalian, sebaiknya sekarang kalian pergi dari sini dan menyingkirlah, karena aku tidak akan pernah mengikuti keinginan kalian itu...dan sampaikan kepada bos kalian jika dia ingin bertemu denganku tidak usah jadi pengecut. Kenapa bukan dia saja sekalian yang datang untuk menemuiku? jika memang dia ada keperluan denganku." Tolak Amara dengan nada tinggi.
"Tapi,, Nona maafkan kami, kami harus membawa Anda," ucap salah satunya lagi sedangkan tangannya kini mulai ingin menyentuh tangan Amara.
"Hentikan...! apa yang akan kalian lakukan pada wanita itu, jika kalian berani menyentuh nya mana kalian akan tau akibatnya,!" ancam seorang wanita yang begitu cantik dan bertubuh **** itu.
Mendengar nada ancaman dari wanita tersebut membuat kedua lelaki itu lari tunggang langgang.
"Terima kasih, untung ada kamu disini jadi mereka kabur, tapi ngomong-ngomong kamu siapa,? kenapa mereka takut saat melihatmu?''
"Perkenalkan namaku Melisa, aku tadi kebetulan lewat, dan tidak sengaja melihatmu sedang di ganggu oleh kedua lelaki brengsek itu."
"Kau benar sekali, ntah karena apa aku juga tidak tahu, karena Aku pun tidak mengenal mereka," ucap Amara.
"Lain kali kau Hati-hati lah untuk berjalan sendiri, ngomong-ngomong namamu siapa?" Tanyanya to the poin.
"Oh...ya aku Amara, senang berkenalan denganmu," ucap Amara tersenyum sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Aku Melisa," balasannya.
"Oh...iya maaf sepertinya aku harus pergi karena aku takut terlambat, Aku takut suamiku akan lama menunggu kedatanganku karena hari ini adalah hari Anniversary kami," ucap Melisa sambil melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah sekali lagi Terima kasih, dan Happy Anniversary, semoga kau selalu bahagia dengan pasanganmu," ucap Amara tulus.
"Ok...baiklah aku pergi dulu ya By...''
"Tunggu dulu sepertinya ada milikmu yang terjatuh,!" seru Amara Menahan langkah
__ADS_1
Melisa, di saat sesuatu ia melihat sesuatu jatuh dari dalam bagian yang di pakai Melisa. Amara lalu mengambil sesuatu yang terlihat seperti sebuah foto.
Deg.
"Catrine...?" ucapnya pelan.
"Oh... ya maaf ini foto tidak berguna buatku," ujar Melisa, mengambilnya dari tangan Amara.
"Tidak berguna maksudmu,?" tanya Amara semakin penasaran.
"Dia adalah wanita penggoda kau tau kenapa,? ucapnya sambil tersenyum miring.
"Dia hampir saja berhasil menghancurkan rumah tangga ku, tapi beruntung aku cepat mengetahuinya, dia mendekati suamiku dan mengatakan kalau dia sedang hamil anak dari suamiku, padahal ia sedang berdusta, dia sama sekali tidak hamil anak dari suamiku, beruntung kesalah fahaman diantara aku dan suamiku cepat terselesaikan, ketika kami mengetahui kebohongannya wanita itu kabur ntah kemana, dan foto ini akan aku bakar bersama suamiku sebagai simbol kalau perusak rumah tangga kami sudah hilang." Ucapnya kembali dengan begitu panjang lebar.
Sementara itu Amara hanya diam tercekat, mendengarkan apa yang baru saja di ceritakan oleh Melisa.
"Hei...Amara kenapa kau diam saja,? apa kau juga mengenal wanita ini?''
"Kalau bagitu kau harus Hati-hati padanya jika kau sudah bersuami, jangan sampai dia berhasil menggoda suamimu,baiklah aku pergi dulu ya by."
Amara masih bergeming pada tempatnya memikirkan apa yang baru saja di dengar dari mulut Melisa.
"Apa aku harus memberi tahukan hal ini pada Kak Darandra tapi…bukankah wanita itu adalah sahabat yang sudah di kenalanya agak lama"
Amara terus saja berpikir dalam diamnya hingga saat tersadar ia pun segera bergegas meninggalkan tempat tersebut, la memilih untuk pulang kerena tidak mungkin juga ia menemui Darandra kerumah sakit.
"Sebaiknya aku singgah dulu untuk sarapan apa lagi ini sudah jam 10:00 kasihan mereka belum makan.
Gumamnya mengelus perutnya dengan lembut, ia pun singgah di sebuah restoran untuk menikmati santapan paginya, Namun baru saja langkah kakinya terayun, Tiba-tiba tatapannya tertuju pada seseorang yang telah merubah dunia nya yang sudah berwarna kesedihan kini dengan kehadirannya menambah warna sedih nya menjadi duka dan luka.
"Catrine…kebetulan sekali, sebaiknya aku kesana untuk menemuinya."
__ADS_1
Ucapnya dalam hati dan berjalan menuju tempat dimana saat ini Catrine berada.
"Tunggu…kau mau kemana,? katakan padaku kalau anak yang kau kandung ini bukan anak dari Kak Randra kan?"
Deg.
"Kau... S-siapa yang mengatakan itu padamu?" gugup Catrine, saat tiba-tiba saja ada seseorang yang menahan langkahnya.
"Kau tak perlu tau darimana aku mengetahuinya yang jelas sekarang kau ikut aku untuk menjelaskan semuanya pada Kak Randra!" sentak Amara menarik pergelangan tangan Catrine.
"Dan aku tidak mau ikut denganmu kau hanya seorang pembantu, aku bisa menyuruh Darandra untuk memecat mu karena telah berani kurangajar padaku!" gertak Catrine kembali.
"Itu aku tidak peduli yang jelas Kak, Randa harus tau siapa kau itu yang sebenarnya," timpal Amara sambil tersenyum miring.
"Tidak lepaskan aku, aku tidak mau Aaaah…"
Bugh.
"Amara… apa yang kau lakukan pada Catrine!?" sentak Darandra yang baru saja tiba di tempat itu, karena kebetulan dia memang datang ketempat itu untuk menemani Catrine sarapan sebelum dia akan datang untuk menemui Amara untuk menanda tangani berkas pendaftaran pernikahan mereka.
Namun apa yang terjadi saat tiba' ia begitu terkejut melihat Catrine dipaksa oleh Amara dan beruntung ia cepat tiba saat hampir saja perut Catrine mengenai ujung meja.
"Kak, Andra… D-dengar kan aku Kak, ini semua tidak seperti yang Kakak fikirkan, Aku hanya tidak mau wanita ****** ini menjebak mu Kak, dia tidak hamil anak mu dia hanya ingin menggodamu dan memisahkan kita!" sengit Amara berusaha menjekaskan.
Plak.
Satu tamparan keras mengenai wajah Amara, bahkan saking kerasnya membuat Amara hampir saja tersungkur ke lantai, bahkan darah segar kini mulai mengalir dari sudut bibirnya yang terluka akibat tamparan tangan Darandra.
"Jangan coba-coba kau mengatakan ibu dari anakku wanita ******, dan ya aku memutuskan akan menikahi Catrine sebelum ia melahirkan, dan mari kita berpisah, ini semua sudah tidak berguna lagi untukku karena kau bukanlah Amara ku, kau bukan Amara yang aku kenal," Darandra mengeluarkan sebuah Map, Lalu melemparkan nya ke wajah Amara.
"Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita, tadinya aku fikir untuk datang memberi tahumu dan meminta tanda tanganmu, tapi sebaiknya kau tanda tangani kertas kosong itu karena aku akan mengurus surat perpisahan kita, dan sebaiknya mari tidak usah bertemu. Ayo sayang mari kita pergi."
__ADS_1
"Kak, apa yang kau katakan ini? Aku akan menjekaskannya padamu aku mohon dengarkan aku Kak..." Amara terus tergugu melihat Darandra yang semakin menjauh meninggalkan nya dengan menggandeng tangan Catrine.