
"Amara...kau?"
Deg.
Mendengar Tasya menyebut nama Tasya membuat Darandra begitu terkejut dengan jantung yang berdetak begitu kencang.
"Dimana Amara? aku tidak melihatnya?" tanyanya bingung karena tak melihat sama sekali, dimana istrinya itu.
Namun yang ditanya hanya terkekeh sambil terus berlalu.
"Aku hanya bercanda jadi lupakan saja,!" teriak Tasya sambil terus berlalu namun masih saja terkekeh.
"Awas saja kau, aku akan membalas mu nanti,!" teriak Darandra sambil tersenyum, namun senyumnya seketika menghilang saat debaran jantungnya terus saja berdetak dengan kencang.
'Ada apa dengan jantungku apa aku sakit,?' Gumamnya.
"Maaf Dokter ada seorang pasien yang ingin bunuh diri ia terus berusaha menyayat pergelangan tangannya sebaiknya Anda segera menemuinya Dok!" Ucap seorang perawat membuyar kan lamunannya.
"Baiklah,, aku akan segera kesana, dan kau harus menemaniku, tunjukan dimana tempatnya"
Darandra pun mengikuti langkah Perawat tersebut.
Sementara itu Tasya yang baru saja ingin berjalan pulang, melihat sosok wanita sedang bermain bersama seorang anak kecil, sedang wanita itu orang yang sangat di kenalnya.
'Amara,? bukankah itu Amara? lalu sedang apa dia berada disini?' Gumamnya pada diri sendiri, la pun memilih meminggirkan mobilnya lalu turun untuk mendekat.
"Dah...sekarang sudah tidak apa-apa, lain kali hati-hati ya sayang, Mama kamu kemana,?"
"Zidan-Zidan kamu kemana sayang?"
"Bunda..."
"Zidan sayang kenapa Zidan berada di sini,? Zidan kenapa sayang? apakah Zidan ada yang terluka"
"Mbak, Anak ini putranya Mbak ya?"
"Ya Mbak terima kasih, sudah membantu anak saya" ucap wanita tersebut.
__ADS_1
"Lain kali hati-hati Mbak, jika tidak mbak akan kehilangan putra mbak sendiri." ujar Amara memberi peringatan.
"la mbak, tadi, saya sedang melakukan pembayaran di kasir, namun tiba-tiba dia sudah menghilang, sekali lagi terima kasih, kenalkan nama saya Jihan," ucapnya sambil mengulurkan tangan hendak berkenalan
"Amara," balas Amara menyambut uluran tangan Jihan, Jihan berbalik menatap putra nya.
"Ayo sayang kita pergi sayang aku takut nanti Ayah mencari kita" ajak nya pada pada sang Putra.
"Maaf sepertinya Aku harus pergi dulu,sekali lagi terima kasih telah menyelamatkan putraku," Jihan pun tersenyum lalu melambaikan tangan dan berlalu, sedang Amara yang tersenyum menatap kepergian Jihan, kini memutar tubuhnya lalu hendak mengayunkan melangkah kakinya pergi dari tempat itu.
"Amara! tunggu,!" bukannya berhenti Amara tetap berlalu dengan langkah cepatnya, saat mendengar suara yang memanggilnya, dan suara itu sudah tidak asing lagi di telinga nya.
"Amara Tunggu aku! ada sesuatu yang ingin aku Jelaskan padamu, Kita harus berbicara Empat Mata agar kesalahpahaman ini jangan sampai terjadi, dengarkan aku Amara aku bukanlah istri dari suamimu itu, maksudku aku tidak pernah menikah dengan Darandra dan kau tahu siapa suamiku sebenarnya? suamiku adalah lelaki yang paling mengerti akan diriku, dia adalah lelaki yang selalu mencintaiku dalam keadaan apapun dan aku sangat mencintainya, lelaki itu adalah Jhony Amara,!" Tasya terus saja berteriak saat Amara memilih untuk tidak berhenti.
Dan benar saja mendengar apa yang dikatakan Tasya Amara pun menghentikan langkah kakinya, namun tanpa ingin berbalik menatap Tasya yang melangkah mendekatinya itu.
"Untuk apa? untuk apa kau mengatakan semua itu padaku,? bagiku itu semua itu sudah tidak penting aku sudah tidak peduli dengan semuanya, karena aku sudah capek Aku sudah lelah, sekarang ini aku hanya ingin menikmati waktuku yang tersisa," ucapnya tanpa sadar.
"Apa maksudmu Amara? dengarkan aku Amara kau pantas mendapatkan cinta dari suami yang mencintaimu, dan kau tak pantas memberikan cinta pada orang yang selama ini menyakitimu yaitu suamimu,"
"Kenapa kau mengatakan semua itu?"
Sebaiknya kita bicara di tempat yang jauh lebih enak karena tidak baik kita bicara di tempat seperti ini nanti orang-orang akan curiga."
"Oke baik, aku akan ikut ke mana kau pergi," "Bagaimana kalau kita ke taman kota saja, kamu jangan khawatir aku akan menemaniku pulang nantinya bagaimana apa kau setuju,?"
"Terserah kamu saja," timpal Amara.
"Baiklah ayo ikut aku sekarang!"
Amara pun bisa bernafas lega karena ia bersyukur Tasya tidak curiga dengan ucapannya tadi, dan kini Iya mengikuti ke mana langkah kaki Tasya.
"Sebaiknya sekarang kita bicara di sini saja, aku yakin pemandangan di sini akan menyegarkan pikiran kita," ujar Tasya begitu sampai di sebuah taman yang berada di rumah sakit tersebut.
Taman tersebut memang sangat luas dan indah membuat mata yang memandang tak akan berhenti untuk menatap karena taman itu didesain penuh dengan bunga yang berwarna-warni di sekelilingnya burung dan kupu-kupu pun ikut menghiasi tempat tersebut.
"Sekarang katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku,?" ucapa Amara setelah mendudukkan bokongnya pada sebuah kursi taman di taman itu.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu tidak sabaran sekali untuk menungguku berbicara,"
"Aku hanya ingin segera pulang karena aku capek," ucap Amara jujur karena kepalanya memang sudah mulai agak sedikit pusing.
"Apakah kau sedang sakit,?" tanya Tasya menatap wajah Amara yang terlihat Memang agak sedikit pucat itu.
"Tidak aku tidak apa-apa aku hanya sedikit pusing saja," jawabnya cepat.
"Sebaiknya kita memerisakan dulu ke dokter, atau aku akan panggilkan Kak, Darandra bagaimana?"
"Tidak terima kasih aku hanya tak ingin mengganggu kesibukannya hari ini, apalagi aku tahu hari ini dia baru tiba dari luar negeri, aku sebagai pulang saja,"
"Baiklah kalau begitu bagaimana kalau aku yang mengantarmu,?"
"Tidak usah, terima kasih, aku tidak ingin merepotkan."
"Dan aku tidak pernah merasa direpotkan, sebaiknya kita berbicara di mobil saja, Bagaimana menurutmu,?"
"Itu terserah kau saja," Timpal Amara.
"Baiklah ayo kita pergi dari sini mungkin kapan-kapan kita bisa ke sini lagi, dengan meminum kofie bagaimana menurutmu? Apa kau setuju,?"
"Baiklah boleh juga," Setelah itu mereka kembali melangkah menuju mobil.
"Masuklah, duduklah di depan bersamaku," ucap Tasya mempersilakan Amara masuk dan duduk di sampingnya.
Tak ada penolakan dari Amara ia mengikuti apa yang di ucapkan Tasya.
"Maafkan kesalahan ku selama ini yang tak sengaja mungkin ikut andil dalam menggoreskan luka di hatimu." Amara yang sedang fokus menatap jalan kini menatap sekilas Tasya yang berada di kursi kemudi,kemudian ia kembali menatap jalan yang berada di depannya itu.
"Lalu apa yang kalian lakukan perdua di dalam ruangan waktu itu,?" tanyanya menatap kembali kepada Tasya. Namun Tasya yang di tanya nampak kebingungan, dan se saat kemudian ia pun kembali tersenyum dengan senyum yang melebar, membuat Amara nampak binggung, dan takut jika apa yang di pikirkan selama ini benar adanya.
"Jadi pertanyaanmu hanya itu,?" ucap Tasya setelah berhenti tersenyum.
"Untuk sekarang ini, mungkin hanya itu," Tasya menarik nafas lalu menghempaskan nya perlahan.
"Kau bisa menebak apa yang di lakukan oleh dua orang di tempat itu,"
__ADS_1
"Jadi kau dan kak, Andra__?"