Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 22


__ADS_3

"Dasar Anak bodoh...apa untungnya kau mengatakan semua ini? Apa kau kira Mama mu ini sudah tidak waras? mama sudah tahu semuanya sejak lama, Lara sudah pergi untuk selamanya, tapi hingga sekarang Mama tak pernah melihat jasadnya, hingga Papa datang membawa Raya, yang waktu itu seusia dengan Lara, dan mulai saat itu Mama memanggil Raya dengan panggilan Lara, karena Raya juga kehilangan kedua orang tuanya di saat kami harus kehilangan Lara, dan berapa tahun belakangan ini kecelakaan itu kembali terjadi membuat Mama merasa terpukul dan merasa bersalah karena mama lah yang meminta Raya untuk pulang pada hari itu.


Flashback on.


📲 Drt..drt..drt...


Raya yang masih merasa mengantuk berusaha mencari dimana letak gawainya dengan cara meraba Nakas di atas kepalanya dengan mata yang masih tertutup rapat.


"Halo..." sapa Raya dengan suara paraunya khas suara orang yang masih mengantuk.


"Lara apa kau masih tidur? bukankah di tempatmu udah siang Nak,?" teriak suara cempreng wanita di seberang telepon.


Sontak membuat Raya menutup gendang telinganya dan dengan malas ia pun menutup tubuhnya kembali dengan selimut tebal yang di pakainya.


"Lara... apa kau mendengarkan mamamu ini." teriak sang mama kembali mengusijk tidurnya.


"I-iya Ma.." sahutnya dengan malas.


"Baiklah, Lara dengarkan Mama.


Besok malam adalah hari ulang Tahun Kakakmu, jadi hari ini kau harus pulang secepatnya bantu Mama untuk membuat kejutan untuk Kakakmu itu.


"Apa! hari ini Ma,?" kejut Raya membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


"Tidak tahun depan. Ya hari inilah Lara, mama kan sudah bilang besok malam adalah hari ulang tahun kakakmu itu." Omel Nyonya Bianca pada putrinya itu.


"Baiklah Ma, Aku akan pulang, tapi aku mau Kakak yang menjemputku karena selama ini kakak tak pernah ada waktu buat Lara," ucapnya sedikit kecewa, dan kesal karena kakak tercintanya itu memang tak pernah sama sekali ada waktu untuk nya karena kesibukannya sang kakak menjadi dokter, membuat sang Kakak jarang berjumpa dengannya.


"Baiklah Ma, Lara siap-siap dulu" ucap Lara lalu bergegas menyibak selimut yang masih menutup tubuhnya itu.


Flashback of.


"Dan itu terakhir kali Mama berbicara pada Lara, maksud mama Raya," ucap Nyonya Bianca mengakhiri ceritanya.


"Sayang,, jadi selama ini kau tidak sakit,? Lalu kenapa Anthony mengatakan kalau kau itu depresi,?"


"Maafkan aku, Aku melakukan ini agar Putramu itu sadar dan punya tanggung jawab untuk segera menggantikanmu, tapi anak itu tetap saja keras kepala, dan aku yang meminta Anthony untuk melakukannya, meski pada awalnya dia menolaknya."


"Dan Mama tau aku siapa,?" tunjuk Amara pada dirinya sendiri.


"Kau itu bodoh sekali, kenapa kau mempermainkan perasaan lelaki tua ini,?" ucapnya penuh penekanan, namun segera memeluk istrinya dengan penuh cinta.


"Maafkan aku sayang, kau tau di masa tua kita aku hanya mempunyai dirimu sebagai keluarga yang paling dekat denganku, aku ingin menikmati waktu yang tersisa ini dengan terus berdua denganmu, kau tau kalau Anak-Anak menikah mereka akan pergi meninggalkan kita." Ujar Nyonya Bianca dengan di sela isakannya.


"Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau hanya sesaat, karena Aku akan berada di sampingmu selamanya." Balas dokter James, sambil mengusap wajah istrinya yang telah banjir dengan air mata.


"Tapi aku belum bisa tenang jika Putramu Itu belum menikah, dan kau tau hingga saat ini ia belum mencari pasangannya, atau bahkan pacar ia tak punya, bagaimana kalau kau menyuruhnya pulang dan kita akan membicarakannya," usul Nyonya Bianca.

__ADS_1


"Tentu saja sayang, kita atur waktunya saja kapan. kita akan menyuruhnya untuk mencari sendiri atau kita yang akan menjodohkannya," ucap dokter James.


"Amara, Papa minta maaf sama kamu Nak, Papa sudah salah menilaimu." Ucap dokter James mengusap lembut kepala Amara.


"Tidak apa-apa Papa, Amara mengerti perasaan Papa seperti apa," timpal Amara, sambil menghapus buliran bening di sudut matanya.


"Dengar Nak, kau jangan takut. Ada Mama, dan Papa, yang akan melindungimu dan calon anakmu ini, jadi kau tidak usah takut, karena Mama tidak akan pernah mengusirmu, kau tetaplah akan menjadi Anak Mama dan Papa." Mendengar apa yang di katakan Nyonya Bianca membuat Amara merasa terharu, karena ia tak perlu takut dan ragu lagi untuk tinggal di rumah dokter James.


"Oh,, Ya sebaiknya kau istirahat dulu, agar tubuhmu kembali fres, Mama Papa akan ada dan standby untukmu jadi kau tidak usah sungkan-sungkan." Ucap Nyonya Bianca pada akhirnya dan merekapun pamit meninggalkan Amara untuk rehat.


Amara pun tersenyum penuh arti melihat cinta yang di miliki kedua pasangan yang beda usia darinya itu.


"Apa aku akan memiliki cinta yang sebesar itu, atau selamanya akan menjadi sebuah angan semu saja."


Lirihnya dalam hati saat mengingat kisah percintaannya yang bermula, dan akan berakhir sebelum cinta itu bertaut pada hati yang ingin dimiliki.


Amara menarik Nafas panjang lalu memilih merebahkan tubuhnya, karena ia ingat pesan dokter James kalau ia harus istirahat total karena sekarang ada nyawa yang akan selalu bersamanya. Amara kembali mengelus perutnya masih rata itu.


'Tetap sehatlah bersama Mami ya sayang, Mami janji akan menjadi Mami yang terbaik buatmu,' Amara merebahkan tubuh dan kepalanya lalu menutup matanya dengan perlahan, Ia ingin berusaha melupakan segala pemikirannya tentang Darandra walau hanya sesaat saja.


'Tanpamu aku tetap akan baik-baik saja bersama anak kita, jika. Hari ini aku tak mendapatkan cinta darimu Aku berharap, jika anak kita lahir kau bisa Mencintainya, dan menerimanya, karena Biar bagaimanapun dia adalah darah dagingmu. Aku harap kau bisa Mencintainya melebihi nyawamu sendiri. Marisayang Saatnya kita tidur, karena esok akan ada hari cerah yang akan menyambut kita.


Ucap Amara menyentuh perut, lalu ia pun mulai terlelap ke alam mimpi.

__ADS_1


Dua minggu telah berlalu selama ia diketahui sedang hamil dan selama dua Minggu itu pula ia benar-benar istirahat total di dalam rumah. la benar-benar tak di izinkan untuk melangkah keluar hingga ia merasa jenuh dan bosan sendiri, apalagi saat ini ia mendengar kabar Kalau Renata sudah tidak tinggal di Cafe lagi. Amara memang sempat menelepon ke cafe dan di jawab oleh Desi, Desi lalu menceritakan semuanya.


'Kak, Kau di mana sekarang ini? apa kau pergi dengan Pak Tuan itu? apa aku juga akan sepertimu pergi meninggalkan orang-orang yang kita cintai dan kita sayangi hanya untuk menghindari Perasaan hati dan rasa kecewa dan selama ini kita jalani.'


__ADS_2