Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 76


__ADS_3

"Dan aku tidak akan melepaskanmu untuk orang lain, karena kau masih sah__"


"Sayang… bagaimana apa kau sudah mengatakan nya?" seru seseorang yang baru saja masuk di ruangan tersebut, Membuat kalimat Darandra terjadi.


Baik Darandra dan juga orang itu Sama-sama terperangah karena mereka Sama-sama tidak menyangka kalau orang yang mereka sukai ada di tempat yang sama.


"Kau ada apa kau kemari?" tanya Darandra datar.


"Ya,, tentu saja menemui dan menjemput calon istriku jawabnya sambil tersenyum dan menggenggam tangan Lara, begitu pun dengan Lara yang membalasnya. Dan semua itu dapat di pastikan membuat Darandra mengepalkan kedua tangannya.


"Dan kau sendiri kenapa berada di tempat ini dengan calon istri ku? jangan bilang kalau kau adalah orang yang akan si jodohkan dengannya?"


"Aku kemari ingin menemui istriku yang kau anggap adalah calon istrimu itu. Ayo kita pulang" Darandra dengan kesal menarik tangan Amara agar terlepas dari tangan Khalid.


Baik Khalid, dan Amara hanya diam dalam keterkejutan nya mendengar apa yang di katakan Darandra tadi.


"Lepaskan aku apa kau gila,? kita belum menikah, aku tidak mau ikut denganmu!" sentak Amara mengepaskan genggaman tangan Darandra, Namun sayangnya tenaga jauh lebih kuat dari tenaganya.


Sedangkan Darandra bukannya menjawab namun ia memilih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Amara sedikit ketakutan, apa lagi saat ia mengingat sesuatu yang tiba-tiba membuat kepalanya pusing.


"Astaga Lara, kenapa aku masih diam di sini?" cicit Khalid, begitu tersadar jika Lara nya di bawa kabur oleh rekannya sendiri yaitu Darandra.


"Turunlah…!" titahnya pada Amara, namun Amara masih bergeming, apa lagi gawainya terus saja berdering, saat ia ingin menganggkat telpon masuk dari Khalid, Tiba-tiba saja Darandra merampas lalu melemparkan nya hingga membuat handphone nya saat ini hancur tak berbentuk.


"Kau…! Aaauuu… lepaskan aku turunkan aku, aku" Amara terus saja berteriak dan memberontak saat dirinya tiba-tiba di angkat oleh Darandra seperti karung beras. Hingga ia menurunkan tubuh Amara setelah tiba di salah satu kamar di apartemen mewah miliknya.


"Kau…apa maumu sebenarnya, katakan padaku kenapa kau jahat padaku?"


"Cuci tangan mu!" seru Darandra saat mengingat tangan sang wanitanya di genggam Khalid. Bukannya menurut Namun wanita itu kini terlihat bergeming pada tempatnya membuat Darandra terpaksa kembali membawanya masuk kedalam Bathroom. Dengan cara kembali mengangkat tubuh wanita nya itu.


"Kau jahat-hahat sekali, aku membencimu"


Pekik Lara memberontak.

__ADS_1


"Diamlah kalau tidak nanti kita akan terjatuh disini"


Byurr...


Dan benar saja keduanya terjatuh ke dalam Bathub yang sudah berisi Air. Dan itu tentu saja membuat Amara begitu malu karena posisi tubuhnya tepat di atas Darandra.


"Cepat bangun, ganti pakaianmu nanti kau masuk angin," ucap Darandra kembali. Membuatnya kembali tersadar dan salah tingkah.


Namun, Mau tidak mau meski la masih emosi Amara hanya menurut apa yang di katakan lelaki gila tersebut. Yang ada di otaknya saat ini memilih mencari kesempatan lain untuk bisa kabur.


"Kau jangan berfikir untuk mencari kesempatan agar bisa kabur dari sini, kalau kau tidak kau akan tau sendiri akibatnya"


Glek.


Hingga satu minggu berlalu Amara benar-benar tidak bisa melarikan diri bahkan keluar pun tidak bisa, karena Darandra benar-benar menguncinya, bahkan tak ada alat komunikasi yang di tinnggal kan untuknya untuk menghubungi seseorang, hingga membuatnya putus asa.


Ceklek.


"Apa kau baik-baik saja? maaf kan aku kalau aku melakukan ini padamu karena aku tidak mau Khalid membawmu kabur dariku, tapi kau tenang saja Aku sudah mengirinya kerumah sakit dan dia tidak akan berani mengganggu mu lagi"


"Kau kenapa?" tanya Amara dengan nada khawatir.


"Tidak apa-apa" ucap Darandra cepat dan segera pergi.


"Ayo kita pulang si kembar merindukanmu" "Benarkah kau akan mengeluarkan aku dari sini?" Tanya Amara tidak percaya. Namun Darandra terus saja berlalu membuatnya kembali hanya mengikuti lelaki itu.


Dan disinilah Amara di dalam mobil yang terus melesat meninggalkan Apartemen mewah milik Darandra.


"Turunlah, karena sebentar lagi aku akan mengantarkanmu pulang."


"Pulang?" dan lagi-lagi Darandra berlalu tanpa ingin menjawab, dan itu mampu membuat Amara bertanya dalam hati apa yang terjadi dengan Darandra kenapa seolah ia berusaha menghindari nya.


"Ayo kemari sayang sama Mamy!" serunya pada si kembar. Amara pun menyuapinya si kembar satu persatu.

__ADS_1


Namun Tiba-tiba saja wajah Steven membiru dan memucat membuat Amara panik.


"Stev… Steven Kamu kenapa sayang Steven…!" Teriakan Amara sontak mengejutkan Darandra yang sedang menelpo seseorang.


Ia pun bergegas berlari mendekati Amara yang berteriak histeris Memanggil nama Steven.


"Apa yang terjadi? apa yang kulakukan pada mereka?"


"Aku tidak tahu, sungguh aku tidak tahu kenapa Steven tiba-tiba kejang-kejang seperti itu?"


"Makanan apa yang kau berikan padanya?" "Aku hanya membuatkan merekasandwich dan telur,"


"Apa? telur. Apakah kau sengaja ingin nmembunuh mereka?" dengan cepat Darandra mendorong tubuh Amara lalu mengambil Steven dari pangkuanya.


"Sayang bangun sayang, Sayang bangun, lihat Daddy Steven, bangun Sayang bangun!" Darandra, terus saja mengguncang tubuh putranya tersebut tanpa mempedulikan Amara yang terjatuh di lantai akibat dorongan tadi bahkan saking kertasnya membuat Amara sedikit meringis karena merasa nyeri di bokongnya, Darandra segera berlari keluar diikuti oleh Amara yang sudah bangkit dan menggendong Stefani.


Dia pun juga ikut panik Darandra pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


"Dokter dokter dokter…!" teriak Dara Darandra Begitu tiba di UGD.


"Ada apa ini?" tanya sang dokter Begitu tiba di depan Darandra. "Tolong selamatkan anak saya dokter!" Dokter pun segera membawa tubuh Steven untuk segera ditangani.


Sementara itu Amara nampak syok melihat semuanya, bahkan ia tidak henti-hentinya menangis.


"Bagaimana dokter tanya Darandra, begitu dokter keluar.


"Hampir saja kita tidak bisa menyelamatkan nyawa nya jika kalian telat sedikit saja, dan kalian ini orang tuanya kenapa kalian tidak tahu makanan yang boleh atau tidak boleh di makan."


"Maaf dokter ini keteledoran kami, kami lengah tidak mengawasi dengan benar."


"Lain kali Anda harus memperhatikan makanannya dengan benar apalagi Anda juga seorang Dokter, baiklah ini obat yang harus di tebus." ucap sang dokter kemudian memberikan secarik resep yang sudah di catatannya.


Sang dokter pun pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


Hening tak ada yang bersuara, hanya suara dengkuran halus Stevani yang tertidur pulas.


"Maafkan aku."


__ADS_2