Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 53


__ADS_3

Disinilah Tristan duduk di samping wanita yang di bencinya namun telah mencuri seluruh hatinya. Sementara Darandra ikut menemaninya.


"Hai...bangunlah, sudah saatnya kau kembali. Kau sudah terlalu lama meninggalkan aku untuk bermain petak umpet, dan kau berhasil membuatku berada di dalam ketakutan saat aku merasa tidak bisa menemukan mu." Tristan terus saja mencium tangan wanitanya itu dengan penuh cinta sambil sesekali ia akan mengelus perut buncit milik Catrine.


"Maafkan aku yang sudah menyia-nyiakan kalian selama ini," ucapnya kembali dengan suara yang sedikit bergetar.


Darandra mengelus punggung Tristan untuk memberikannya sedikit kekuatan. Dan tiba-tiba tangan milik Tristan seperti ada yang menggenggam sontak Hal itu membuat Tristan terkejut dan menatap ke arah Chatrine.


"Catherine k-kau sudah b-bangun sayang...?" ucapnya dengan suara yang gugup, dan benar saja seperti suatu keajaiban Catherine mengerjabkan mata secara perlahan, Ia pun melenguh membuka matanya sediki demi sedikit, Lalu Ia menatap di sekelilingnya, bahkan alat-alat masih menempel di tubuhnya.


"Sebenarnya aku ada di mana,?" Tanyanya dengan sedikit bingung.


"Apa perlu aku panggilkan Dokter?" tawar Darandra, Namun mendapat gelengan dari Chatrine.


"Kau berada di rumah sakit sayang, dan kau koma selama kurang lebih 4 bulan" Sela Tristan.


"Kurang lebih 4 bulan,?" kejutnya membulatkan mata.


"Amara…Amara…kemana dia,? dan wanita ular itu yang melakukan ini padaku, aku takut." Ucapnya sedikit gugup.


"Jadi maksudmu bukan Amara yang telah mencelakai mu,?" tanya Darandra harap-harap cemas.


"Bukan…"


Deg.


lalu Siapa yang melakukannya tanya Daranda mulai gelisah.


"Wanita ular itu yang melakukannya" Jawab Chatrine kembali, sambil menatap lelaki yang masih menggenggam tangannya begitu erat.

__ADS_1


"Wanita ular,? siapa yang kau maksudkan,?" kali ini Tristan yang bertanya dengan wajah yang kembali datar dan berkerut.


"Apa kau yakin ingin mengetahui semuanya,?" timpal Chatrine tersenyum sinis seolah memberi sebuah sindiran kepadanya.


"Apa kau masih meragukanku setelah apa yang aku katakan kepadamu dan ya, aku tidak akan mengampuni orang yang telah mencelakaimu." Tegasnya kembali.


"Yah,, aku harap kali ini kau bisa menepatinya, tapi bukan berarti aku memaafkan mu." Ucap Chatrine sambil membuang mukanya.


"Terserah kau saja, karena itu adalah hakmu, yang penting aku ingin tahu siapa saja yang terlibat di dalamnya."


"Siapa lagi kalau bukan istri tercintamu itu." "Maksudmu Melisa yang melakukannya?"


"Ya,, siapa lagi, Dan dia tidak sendiri ada Mami dan juga Adikmu di balik semua ini,"


''l-itu tidak mungkin Mami, dan Aurora yang melakukannya sayang, mungkin kau salah,?"


"Sudah ku duga, Ternyata Anda orangnya masih sama Tuan, tetap saja tak pernah percaya padaku, dan untuk apa Anda berada di sini sekarang,? sebaiknya Anda segera Pergi! karena kami sudah tidak membutuhkan Kehadiran orang seperti Anda lagi," usir Chatrine.


"Aku minta maaf karena aku tanpa sengaja telah masuk dan merusak hubungan kalian, waktu itu, aku ingin membuat bertemu dan menyatukanmu kembali dengan Amara, dan Aku memutuskan ingin menjelaskan semuanya, karena Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi antara kau dan dia, jika aku tidak hadir di antara kalian mungkin kau dan Amara sekarang sudah berbahagia, tapi wanita ular itu tiba-tiba saja datang, dan dia mengacaukan semuanya.


Flashback on.


Chaterine yang meminta Amara dan Daranda untuk datang ke sebuah Villa yang berdekatan dengan pantai, Ia sengaja memilih tempat itu karena Suasananya yang aman dan nyaman, namun tanpa sepengetahuan nya seseorang telah mengikuti mobil yang membawanya.


Chatrine turun dari Mobil, dan masuk ke dalam Villa, Namun karena lama menunggu ia pun keluar dan berjalan menuju tepi pantai sambil sesekali melihat gawainya untuk menelpon Amara yang belum juga bisa dihubungi. Setelah puas berkeliling di sekitar Villa, ia pun kembali memilih masuk karena merasa kepalanya sedikit pusing, Apa lagi Angin saat itu begitu kencang, membuatnya sedikit kedinginan.


Chatrine yang baru tiba di depan Villa segera berjalan cepat saat mendengar pintu Villa di buka, la fikir mungkin Amara atau Darandra sudah tiba, Namun begitu masuk ia tidak mendapatkan siapa-siapa di tempat itu.


"Amara…Darandra…apa kalian sudah tiba,?" Chatrine sedikit mengencangkan suaranya karena mungkin Amara dan Darandra tidak mendengar panggilan nya.

__ADS_1


Dan tetap saja tak ada jawaban, hingga ia memutuskan untuk naik di lantai dua, dan Lagi-lagi orang yang di carinya itu tidak ada, Chatrine kembali ingin turun ke lantai satu namun baru saja ia ingin menuruni tangga tiba-tiba tangannya di cekal dari belakang, la pun berbalik dan begitu terkejutnya la begitu mengetahui siapa yang mencekal tangannya.


"Kau, untuk apa kau kemari,? dan siapa yang menyuruhmu datang kemari, dan apa maumu dariku kenapa kau mengikutiku seperti hantu…?!" Ketus Chatrine pada orang di depannya itu.


"Hahahaha....kau bertanya kenapa aku mengikutimu,? asal kau tahu, aku hanya ingin satu saja darimu, yaitu membuatmu pergi dari dunia ini, dan aku sudah mengatur semuanya, aku akan membuatmu pergi dari sini tanpa ada yang tahu dan begitu wanita bodoh itu tiba disini aku yakin dia akan menjadi tertuduh, baguskan rencanaku hahahaha"


Melisa terus tertawa melihat ketakutan di wajah Chatrine, sedangkan Chatrine merasa takut jika terjadi apa-apa dengan kandungan nya.


"Lepaskan aku Mel...kau benar-benar wanita ular, apa salahku padamu, bukankah aku sudah meninggalkan Tristan untukmu,"


"Yah,, kau benar sekali, Kau sudah meninggal kan Tristan untukku tapi tidak dengan hati dan fikirannya, semua tertuju padamu,"


"Apa maksudmu Mel...?"


"Kau itu bodoh, atau pura-pura bodoh Chatrine,? Atau Jangan-jangan kau dan Tristan sudah sering bertemu Diam-diam di belakangku!?" geram Melisa, mencengkram dengan kuat tangan Chatrine membuatnya kembali meringis kesakitan.


"Sungguh,, aku tidak pernah bertemu dengan nya kalau kau tidak percaya kau bisa bertanya kepadanya secara langsung." Ucap Chatrine kembali berusaha memberi penjelasan.


"Bagiku bertanya kepada Tristan itu tidak ada gunanya, karena dia tidak akan pernah ingin menjawab pertanyaan dariku, Satu-satunya jalan adalah membuatmu benar-benar pergi dari hidupnya, Ucapkan selamat tinggal,"


"Tidak Melisa jangan…Aaaaa…ahk Anakku"


Chatrine berteriak histeris di saat Melisa melepaskan tangannya dan mendorong turun tubuh Chatrine dari atas tangga hingga membuatnya bergulingan hingga di lantai dasar, meski begitu ia berusaha untuk melindungi perutnya agar tidak terbentur dengan anak tangga.


"Tunggu kematian menjemputmu wanita pembawa sial, dan kau tahu Mami dan juga Aurora menginginkan kau mati agar anak dalam kandunganmu itu tidak jadi pewaris tunggal keluarga Abraham,"


Ucap Melisa dengan seringai jahat di bibir nya melihat Chatrine yang sudah tidak ada pergerakan, dan ia pun pergi meninggalkan Chatrine begitu saja.


Flashback off.

__ADS_1


Mendengar apa yang di ceritakan Chatrine membuat Tristan mengepalkan kedua tangan dengan rahang yang mengetat.


__ADS_2