Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Aku tidak suka.


__ADS_3

Praaang...


Darandra yang begitu emosi mendengar tuduhan Amara membanting telepon milik Amara, hingga membuat Amara terkejut, dengan apa yang di lakukan oleh Darandra, bahkan Darandra melempar telpon miliknya ke cermin hingga membuat cermin bahkan telpon miliknya hancur tak berbentuk.


"Tutup mulutmu Amara, kau sudah terlalu jauh mengurusi wilayah pribadiku aku tidak suka itu, dan mulai detik ini berhentilah mengurusiku, dan ya, mulai sekarang kita hidup sendiri-sendiri saja karena kau juga tak pernah mengikuti apa yang aku katakan kau sudah banyak membuatku kecewa," setelah berucap Darandra pun pergi meninggalkan Amara yang masih bergeming pada tempatnya, kini hanya tetes air mata yang membasahi kedua pipi mulusnya itu.


'Kau jahat, Kak, kenapa kau jahat sekali padaku,! apa salahku padamu, apa aku salah karena terlalu mencintaimu,? apa tidak ada cinta di hatimu sedikit saja untukku,? kenapa kau terlalu membenciku, dan kenapa aku harus mencintaimu sedalam ini, aku membencimu, aku membencimu Darandra,!'


Teriak Amara meluapkan segala Amarahnya.


'Tidak Amara, kau tidak boleh lemah kau harus kuat, ini hanya sementara saja, setelah ini tidak akan ada lagi rasa sakit yang akan kau rasakan, tidak ada lagi rasa kecewa yang kau alami,' ucapnya menguatkan dirinya sendiri, Amara pun segera masuk ke kamarnya, dan menumpahkan segala rasa sakit yang menumpuk di dadanya selama ini, Namun sesaat kemudian la pun seperti bingung sendiri ketika kepalanya tiba-tiba terasa sakit.


'Aku kenapa? apa aku menangis,? tapi kenapa aku menangis?' Amara terus bertanya dalam kebingungannya saat menyentuh wajahnya yang sudah bersimbah airmata bahkan menyisakan isakan tangis, lalu ia pun memilih untuk segera bangkit dari tidurnya hanya untuk mencari toilet.


Amara keluar kamar dan memeriksa satu persatu ruangan, padahal di kamarnya sudah ada toilet, Namun karena ingatannya kini mulai menurun ia pun menjadi binggung sendiri, hingga ia pun membuka lebar sebuah kamar.


"Mendengar suara pintu terbuka membuat membuat Darandra terusik.


"Untuk apa lagi kau kemari,? apa yang kau inginkan dariku sebenarnya Amara,?"


"Amara,? siapa Amara? dan kau juga siapa? apa kau seorang penjahat kenapa kau berada di dalam toilet keluarlah aku ingin ke toilet," usir Amara membuat Darandra binggung, bukankah di kamarmu ada toiletnya, lalu untuk apa kau datang kekamarku hanya untuk mecari toilet?"


"Di kamarku ada toilet,?" kini giliran Amara yang binggung bahkan dia lupa di mana letak kamarnya sendiri, Darandra yang melihat kebingungan di wajah Amara pun kini mendekatinya.


"Amara ini tidak lucu, cepat kembalilah ke kamarmu, kalau tidak aku akan melakukan nya bersamamu malam ini," Ancamnya dengan pura-pura.


"Apa kau tau aku sangat menginginkanmu malam ini," lanjutnya lagi dengan seringai di wajahnya itu.

__ADS_1


"Kau, mau apa dan siapa kau sebenarnya,?"


Mendengar ucapan pertanyaan yang di lontarkan Amara tidak membuat Darandra terkejut atau bahkan panik seperti yang sudah-sudah, karena ia menganggap Amara sedang membohonginya dengan berpura- pura hilang ingatan.


"Aku akan membuatmu ingat siapa aku sebenarnya," Darandra mendekati wajah Amara begitu dekat, lalu ia pun mentuh dagunya dan mendongakkan wajah Amara.


"Amara kenapa semua yang ada dalam dirimu selalu membuat ingin melakukannya,"


ucapnya namun hanya dalam hati.


Begitu Darandra ingin menautkan bibirnya tiba-tiba saja Amara jatuh pingsan, beruntung Darandra dengan cepat menahan tubuhnya dan segera membaringkannya di tempat tidur.


"Aku tau Amara ini pasti akan terjadi lagi, dan Aku tau kau hanya berpura-pura saja ingin membuatku panik, tapi kau salah aku tidak akan bisa kau tipu lagi, setelah bangun kau akan mengingat semuanya dan berpura-pura lupa dasar aneh sekarang bangunlah sebelum aku melemparmu keluar," Darandra sengaja berkata seperti itu agar Amara segera bangun, namun Amara yang benar-benar pingsan tidak menggubris sama sekali perkataannya, melihat tidak ada reaksi sama sekali Darandra kembali mendekat dan menautkan bibirnya dan tetap saja tak ada reaksi sama sekali.


"Apa kau benar-benar pingsan Amara?" Darandra segera mengambil peralatan kesehatannya dan la pun segera melakukan pemeriksaan mulai dari tekanan darah dan detak jantungnya.


Pagi.


Amara terus saja mengerjap-ngerjapkan matanya saat ia terusik dengan suara seseorang yang sedang menelpon.


"Aku dimana,? kenapa aku berada di sini bukan kah semalam aku berada di kamarku, dan bagaimana bisa aku berakhir di tempat tidur ini,"


dalam keadaan kebingungan Amara pun segera turun dari tempat tidur dan ingin segera beranjak dari tempat tersebut.


"Kau jangan khawatir Aku pastikan Amara tidak mendengar pembicaraan kita, karena dia masih istirahat, semalam dia tiba-tiba masuk di kamar seperti orang linglung dan tiba-tiba saja jatuh pingsan" ucap Darandra pada orang yang di seberang telpon.


"Aku sudah melakukannya tapi tetap saja tidak berhasil, apa kau ingin melakukan nya bersamaku, jika iya mari kita bertemu, setidaknya untuk melepas kangen, Tasya Aku mencintaimu sangat-sangat, mencintaimu."

__ADS_1


Amara yang semenjak tadi berdiri mencuri dengar apa yang di katakan Darandra dan dengan siapa ia bicara, setelah menyadari kalau, Darandra hanya membahasnya, ia pun segera beranjak dari tempatnya tersebut.


Namun baru saja ia ingin melangkahkan kakinya ia berhenti kembali saat mendengar ucapan cinta suaminya untuk wanita lain, yang masih ia sangka adalah istri yang sangat di cintai suaminya itu.


Dengan langkah gontai Amara menuju kamarnya dan kini yang di tujunya adalah dapur ia ingin segera memasak, sarapan untuk suaminya itu.


Sementara itu Darandra hanya diam memikirkan apa yang telah ia ucapkan kepada wanita yang kini menjadi milik lelaki lain, ia melakukan itu saat menyadari kalau dirinya melihat Amara yang kebetulan sedang lewat di belakangnya, setelah melihat Amara pergi baru ia menjelaskan apa maksudnya mengatakan semua itu kepada Tasya.


"Makanlah aku sudah memasak makanan kesukaanmu," Ujar Amara begitu melihat Darandra yang sudah berpenampilan rapi.


"Kau tidak usah repot-repot mengurusku, aku sedang buru-buru, mungkin aku akan makan di luar,"


Setelah berucap ia benar-benar meninggalkan Amara sendiri tanpa pamit, membuat hati Amara bergemuruh menahan, sedihnya karena Darandra benar-benar sudah tidak menganggapnya lagi.


'Aku tidak boleh bersedih, Bukankah waktuku sebentar lagi, aku harus merelakan semuanya, Tapi Aku ingin hanya sekali saja Darandra betul-betul mengucapkan kata cinta padaku sebelum aku benar-benar melupakan semuanya, apa sebaiknya Aku harus pergi dari rumah ini, dan aku harus mencari tahu apa sebenarnya mereka rencanakan selama ini."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai... ikuti juga novel teman aku di bawah ini ya dan jangan lupa budayakan like, comment, vote dan juga hadiahnya bantu Autor agar bisa terus berkarya😍



Cinta memang tidak pernah salah menjatuhkan pilihannya, tapi bagaimana jika cinta menjatuhkan pilihan pada seseorang yang sudah menemukan pelabuhan hatinya?


Niki seorang mahasiswi yang terobsesi dengan dosen di kampusnya, nekat melakukan hal apapun termasuk membiarkan gosip berkembang jika ia sudah melakukan hubungan terlarang dengan dosennya itu. Akibat perbuatannya itu, ia terjebak dalam pernikahan sebagai istri kedua, namun tidak diinginkan oleh dosennya.


Bagaimana Niki menjalani kehidupannya sebagai istri kedua yang dibenci oleh suaminya sendiri sementara ia juga harus menghadapi hujatan dari teman serta dosen di kampusnya, sebagai mahasiswi penggoda dan penghancur rumah tangga orang?

__ADS_1


__ADS_2