Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 55


__ADS_3

Lama Darandra menenangkan hatinya yang kini tidak menentu karena detakan jantungnya yang tidak bisa di ajak kompromi, bahkan langkah kakinya terasa semakin berat saat ia memutuskan untuk segera melangkah masuk ke rumah menemui wanita yang sangat ia rindukan, Dan wanita yang benar-benar sangat ia cintai itu.


Darandra menebarkan pandangannya ke seluruh halaman rumah tersebut, dan saat ia memperhatikan ada banyak perubahan di halaman itu, sepertinya tempat itu semakin tertata rapi, apa lagi ada taman kecil dan bunga warna-warni, dan Darandra mempekatikan se sosok orang yang sedang bekerja membersihkan halaman tersebut.


"Kenapa ada tukang kebun di sini,? Apa Amara yang membayarnya,? jika lya lalu kenapa Amara tidak pernah memakai uang yang aku kirim untuk nya,? bukankah Aku sudah menyerahkan Kartu ATM ku untuknya."


Darandra kembali berdebat dengan fikiran nya sendiri, Saat mengingat kembali kalau ia pernah menyerah kan Kartu ATM nya untuk Amara, Yah...Meski mereka tidak saling menemui dan saling berkomunikasi kalau masalah nafka Darandra tidak pernah telat untuk mentransfer uang buat Amara.


Namun sejak awal hingga kemarin ia sama sekali tidak pernah melakukan penarikan Dana terbukti dari M-banking nya tak pernah menerima laporan penarikan sejumlah uang.


"Maaf Tuan, apakah Anda ada perlu dengan Nyonya rumah ini,?" Tanya seseorang yang tiba-tiba saja mengejutkan Darandra yang di saat ia ingin meraih Handle pintu.


"Iya aku ingin bertemu dengannya, dan ya kalau aku boleh tahu kau itu siapa,? dan kenapa kau berada di rumahku,?"


"Maaf Tuan, tapi Nyonya kami telah membayar dan menugaskan kami untuk menjaga semuanya," terang wanita yang berdiri di depannya itu.


"Baiklah, biarkan aku masuk dan menemui Nyonya kalian itu!" pinta Darandra pada akhirnya.


"Tapi Tuan Nama Anda,?"


"Darandra! namaku adalah Darandra," tegas Darandra kembali, ia juga begitu heran kenapa Amara harus sedetail itu untuk menyuruh seseorang bertanya masalah nama.


"Baiklah Tuan Silakan masuk ke dalam," ujar wanita yang Kira-kira berusia hampir 40 tahunan itu.


Ceklek.

__ADS_1


Darandra membuka pintu dan ia sejenak terdiam menatap seluruh ruangan dimana ruangan itu masih tetap sama saat terakhir ia meninggalkan temoat tersebut.


Dengan perasaan yang masih berdbar kini Darandra mulai mengayunkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah yang sudah lama ia tinggal kan itu.


Dan kini langkah kakinya berhenti di sebuah kamar yang mana kamar itu memang khusus di tempati Amara tidur jika ia dan Amara sedang bertengkar dan tidak bertegur sapa.


Lama Darandra terdiam menatap pintu yang sedikit tertutup rapat tersebut, hingga ia pun mengangkat tangannya dan mulai mengetuk pintu pelan.


"Ra…Ra…Amara…aku sudah pulang, apa boleh aku masuk untuk menemuimu,? karena ada hal yang sangat penting yang ingin aku sampaikan kepadamu."


Namun sunyi tak ada jawaban sama sekali, dan la pun mengulangi untuk memanggil wanitanya itu, Nihil tetap saja tiada jawaban, membuat perasaan yang awalnya berdebar kini berubah menjadi persaan resah, Dan ntah mengapa tiba-tiba saja perasaan nya mulai berubah tidak enak.


Darandra Pun segera membuka pintu kamar tersebut, dalam ke kakalutan hatinya.


Ceklek.


Darandra terus saja berbicara pada dirinya sendiri, hingga ia memutuskan untuk melangkah keluar dari kamar tersebut.


Namun baru saja ia hendak berjalan keluar matanya tanpa sengaja menatap sebuah buku catatan atau bisa di bilang buku 📓Dairy yang berada di atas Nakas.


Darandra berbalik dan berjalan mendekati Nakas, Lalu meraih buku tersebut, ia pun membuka buku catatan itu, dan mulai membacanya, betapa terkejutnya ia saat membaca sebuah pesan yang di tinnggal kan Amara untuk dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Dear... Suami yang sangat aku Cintai, Mungkin setelah kau membaca pesanku ini aku sudah pergi jauh meninggalkan mu dan duniamu yang selama ini ingin aku miliki,

__ADS_1


Aku sudah lama menunggu mu namun amarah mu tak jua padam hingga membuatmu lupa kalau ada aku yang selalu menanti mu meski di dalam kesunyian ku dan di dalam kesendirian ku kucoba untuk bertahan walau aku tahu ingatanku semakin hari semakin kian melemah. Aku takut aku takut jika suatu saat kau tahu kebohongan terbesar ku, tapi aku sudah memutuskan untuk mengatakannya padamu, kalau Aku sebenarnya sedang Hamil buah cinta kita dan mereka kembar. Jangan terkejut aku sudah menukar obat pencegah kehamilan dengan dengan Vitamin penyubur kandungan, Maafkan Aku.


Dear, Suamiku...Jika kehadiranku dalam kebersamaan kita selama ini membuatmu tidak ingin mengerti tentang rasaku padamu, mungkin dengan kepergianku, akan membuatmu tahu akan rasa diriku yang kau anggap Antara Ada Dan Tiada, Dan Aku harap kau selalu berbahagia dengan pilihan hidupmu.


By Amara.


Deg.


Tangan Darandra bergetar setelah selesai membaca pesan yang di tinnggal kan Amara


la begitu terkejut dan terpukul saat membayangkan Amara pergi dengan membawa ke dua buah hatinya yang belum lahir.


"Ra...kenapa kau pergi meninggalkan kan aku? Ra...kenapa kau tak sabar menungguku


Ku,, akui aku terlambat mengakui rasa yang sebenarnya, dan saat ku tersadar kau sudah tak sisiku lagi, kau pergi membawa Cinta ku yang sudah lama bersemi, dan kau pergi membawa ke dua buah cinta kita."


Darandra masih saja menatap nanar tulisan yang berada di dalam Buku harian milik wanita nya itu, Bahkan dia berharap semua itu adalah mimpi bukan kenyataan, bahkan kini tangannya mulai bergerak, membuka setiap lembaran-demi lembaran dan lalu membaca nya kembali.


Sambil berurai air mata ia kini benar-benar merasa kehilangan, kehilangan orang yang begitu mencintai nya namun selalu ia abaikan, Hingga matanya tertuju pada sebuah tanggal yang tertera di atas tulisan tadi.


"Tanggal 29, 01,2008" Ucapnya mengeja angka tersebut.


"Jadi Amara pergi hari ini? dan Jangan-jangan wanita yang Aku lihat tadi di rumah sakit itu adalah Amara dasar kenapa aku bodoh sekali dalam mengenali seseorang Darandra terus merutuki kebodohannya. Kini ia pun bergegas keluar dari dalam kamar, dan kini tujuannya hanya satu mencari istrinya dan membawa nya kembali pulang, bahkan ia menyuruh beberapa orang menyebar untuk mencari keberadaan Amara di mana.


Amara sendiri tiba-tiba merasa perasaan tidak enak saat dirinya kembali teringat tentang Darandra.

__ADS_1


"Apa Anda baik-baik saja Nona?" tanya Susan


saat melihat Amara yang duduk gelisah di kursi penumpang pesawat yang tujuannya adalah UEA Abudabi.


__ADS_2