
"Obat? Obat apa yang kau taruh di minuman ini?" tanya Jhony mulai tidak merasa tidak,enak namun bukannya menjawab Tasya malah tertawa lebar membuat deretan giginya yang berbaris rapi terlihat begitu putih.
"Sya...! Aku serius aku tidak sedang bercanda,?" Tasya tadinya yang tertawa terbahak-bahak kini menghentikan tawanya dan menatap wajah Jhony yang masih terlihat panik.
"Aku hanya menyimpan sebutir obat perangsang di salah satu minuman yang kita minum," ucapnya dengan begitu santai.
"Ap-apa kau sudah gila? kenapa kau lakukan itu?" Sergahnya mulai gelisah.
"Aku hanya ingin melihat jika kau yang meminumnya Apakah kau akan mampu untuk menahan dirimu agar tidak sampai menyentuhku, dan kalau aku yang meminumnya aku ingin lihat bagaimana caramu untuk melepaskan diri dariku." Ucap Tasya dengan seringai tipis.
"Apa kau sudah gila Sya,!"
"Tidak Jhony, Aku tidak gila. Aku hanya ingin membuktikan Apakah kau sangat mencintaiku atau tidak sama sekali.
"Baiklah, jika itu keinginanmu apapun keinginan akan aku ikuti," ucap Jhony pada akhirnya karena tak ada gunanya iya berdebat dengan Tasya, namun setelah menunggu beberapa menit tak ada perubahan pada dirinya, Jhony pun beralih menatap Tasya.
"Sya,, Apa kau tidak apa-apa?" tanya Jhony yang nampak mulai khawatir begitu melihat Tasya menunjukkan gejala yang aneh.
"Jhon... kenapa aku ingin sekali, Aku ingin sekali kau menyentuhku," ucap Tasya menatap Jhony dengan tatapan menggoda nya.
"Tidak Sya, Aku tidak ingin kita melakukannya tanpa kesadaran," Tolak Jhony berusaha menjauh.
"Benarkah,? tapi aku ingin melakukannya sekarang denganmu, aku tahu kau keluar selama satu minggu meninggalkan aku tanpa kabar kau ingin memuaskan hasratmu dengan wanita-wanita itu kan? sekarang lakukanlah, aku ini kan istrimu lakukan itu sepuas hatimu, kau mengatakan bahwa kau sangat mencintaiku jadi Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan padaku," Ucap Tasya dan kini mulai mendekat.
__ADS_1
"Tidak Sya, Aku tidak akan melakukannya," ucap Jhony sambil menggekaengkan kepala menatap wanitanya dengan tatapan bersalah nya.
"Maafkan Aku, dan Ayo aku akan membawamu ke kamar mandi aku akan menyiram tubuhmu," Ajaknya.
"Tidak,! aku tidak mau, Aku ingin melakukannya sekarang,!"
"Dengar Sya,! sadarlah, kau itu dalam pengaruh obat perangsang jadi Mana mungkin aku akan melakukannya,"
"Lalu jika aku tidak dalam pengaruh obat Apakah kau akan melakukannya denganku?" tanya Tasya sedang kedua tangannya menyentuh wajah prianya itu.
"Walaupun sadar aku tidak ingin melakukannya denganmu, karena aku tidak ingin kau hamil, aku tidak ingin kau mengandung anakku." Mendengar perkataan Johny seperti itu membuat dada Tasya teras sesak kembali.
"Kenapa Jhon,? kenapa kau tak ingin melakukannya denganku dalam keadaan sadar, apakah karena aku kurang cantik, atau kurang menarik, atau kau sebenarnya tidak pernah mencintaiku,?" Ucapnya dengan menekan setiap kalimat yang di ucapnya.
"Karena itu semua akan memberatkan kita nanti ketika kita akan berpisah, Ayo kita ke kamar mandi sekarang aku akan mendinginkan tubuhmu," Ajak Jhony kembali, sambil menggenggam tangan Tasya.
"Tidak…aku tidak ingin ke kamar mandi, Aku ingin tetap di sini bersamamu ucap Tasya lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sya, Mengertilah Posisiku sekarang ini,"
"Dan kau tidak pernah mengerti tentang diriku Jhony,!" Tasya mulai membuka bajunya yang melekat di tubuh satu persatu hingga Hanya menyisakan bagian dalam dan pembungkus segitiganya saja.
"Stop Sya apa yang kau lakukan!" Jhony pun berpaling saat melihat apa yang dilakukan oleh Tasya, Jhony memilih pergi meninggalkan tasya daripada la berlama-lama karena Bukan Tanpa Alasan sekarang ini ia pun sudah terpancing dengan suasana yang diciptakan oleh Tasya.
__ADS_1
"Kamu mau pergi ke mana? apa begini caramu mengacuhkanku,?" tanya Tasya begitu sengit menatap tajam ke arah Jhony membuat Jhony dengan susah payah menelan salivanya, kini Tasya mendekati Jhony Ia pun dengan perlahan membuka kancing kemeja milik Jhon.
"Berhentilah Tasya! hentikan samua permainan ini sekarang! sebaiknya kau masuk ke kamar mandi aku akan memandikanmu,"
"Dan sudah berapa kali aku mengatakannya padamu, Aku tidak mau kenapa,? apa aku takut untuk bertanggung jawab jika aku hamil? Oleh karena itu kau di luar mencari wanita lain,?"
"Sya! Dengarkan Aku, Aku tidak melakukan itu dan tidak pernah melakukan itu seumur hidupku dengan wanita lain Sya, aku tahu Kesalahan terbesarku yang pernah ingin menodaimu, itu karena aku tak tahan melihat kau jauh dariku dan memutuskan hubungan kita, Aku hanya ingin memilikimu seutuhnya, tapi karena kebodohanku itu membuatmu terluka hingga sekarang ini, dan kata Maaf mungkin tak mampu untuk mengobati luka hatimu, untuk itulah aku tak ingin melakukan kesalahan lagi padamu, Aku tidak ingin melakukan hubungan ini karena aku tidak ingin kau menyesal," mendengar semua perkataan Jhony Tasya pun tertunduk diam sedang air mata mengalir di pipinya, Tasya pun mengusap dan kasar air mata yang jatuh di pipinya.
"Sayang Kenapa kau menangis,? Maafkan aku jika aku__"
"Kau tidak perlu minta maaf padaku aku yang salah, sebenarnya aku tidak menyimpan apa pun di dalam minuman kita, aku hanya mengerjaimu saja," sela Tasya menjeda kalimat Jhony dan berbalik, lalu ia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang setengah polos itu, bahkan tubuhnya kini sudah berada di atas tempat tidur dan memilih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, sedangkan Jhony masih tertegun mendengar apa yang baru saja dikatakan istrinya ternyata istrinya hanya mengerjainya saja.
Jhony pun masih berdiri dalam diam dan sesaat kemudian la mendengar suara isak tangis dari Tasya, membuatnya segera tersadar, Ia pun mendekat karena tak tega melihat istrinya itu menangis dengan perlahan Jhony menyibak selimut yang menutupi tubuh Tasya.
"Sya,, lihat aku, aku minta maaf bukan maksud untuk__"
"Sudahlah lupakan itu, aku sudah mengatakan kau tak perlu lagi minta maaf padaku, disini aku yang salah karena aku sudah sudah terlalu kelewatan mengerjaimu," Sela Tasya kembali.
"Tidak Sya, sebagai suami aku yang salah, maafkan aku, sebagai suami aku tak pernah peka akan perasaanmu, Maafkan aku jika selama 1 minggu ini tak pernah ada kabar dan berita, maafkan aku karena telah membuatmu khawatir," ucapanya dengan penuh penyesalan karena lagi-lagi ia membuat istrinya itu kecewa, dan bahkan saat ini menangis, Jhony pun ikut merebahkan tubuhnya di belakang Tasya Karena posisinya sekarang membelakangi Jhony.
"Boleh aku memelukmu sekali saja,?" pinta Jhony, Tak Ada Jawaban dari Tasya namun Jhony tetap melakukannya, Iya menyibak selimut lalu masuk bersama istrinya, yang sudah lama ia rindukan itu, Jhony minghirup dalam-dalam aroma tubuh Tasya yang dari dulu tak berubah, yaitu White Musk, yang membuat pikirannya selalu tenang.
"Kenapa kau masih memakai parfum dengan aroma ini? bukankah kau sangat membenciku?" tanyanya karena Aroma parfum sampo bahkan sabun itu adalah pemberiannya saat baru-baru saling mengenal.
__ADS_1
Tasya memilih berbalik saat dirinya tak mampu ketika hembusan nafas hangat Jhony mampu membuatnya merinding, dan merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya, saat napas Jhony menerpa tengkuknya.