Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Hanya 6 Bulan


__ADS_3

Melihat Jhony yang hanya diam, Tasya pun memilih keluar dari kamarnya.


"Hanya enam bulan Sya," akhirnya Jhony memilih memberanikan diri untuk berbicara karena ia tak ingin membuat Tasya semakin tersiksa hidup bersamanya, melihatnya menangis di depannya saja membuatnya merasa sakit, dia ingin sekali memeluk dan menghibur wanitanya itu namun ia tak ingin membuat Tasya bertambah, marah.


"Apa maksudmu,?" tanya Tasya yang menghentikan langkahnya, padahal ia sudah berada di ambang pintu, ia pun berbalik dan berjalan kembali menghampiri Jhony.


"lya,, hanya enam bulan Sya, kau harus bersabar, hanya enam bulan, kau bisa bebas, untuk itu aku mohon jangan bersedih lagi, jalani apa yang ingin kau jalani aku tidak akan melarang mu tapi aku mohon jangan larang aku untuk perduli padamu selama kau bersetatus menjadi istriku," pinta Jhony dengan tatapan seriusnya.


Sesaat Tasya terdiam seolah ia sedang memikirkan sesuatu.


"Haaaa....baiklah aku setuju dengan apa yang kau katakan, tapi...apa ucapanmu itu bisa di pertanggung jawabkan,?"


"Kau tak perlu khawatir soal itu siang ini pengacaraku akan datang menemuimu kau bisa menandatangani surat perjanjiannya, tapi aku tidak akan menjadikanmu istri kontrakku, karena kau adalah istri Sah ku," ucapnya menatap lekat pada Tasya.


"Sebaiknya sekarang pergilah basuh tubuhmu setelah itu kita sarapan bareng Oma bagaimana,?" ajak Jhony, sambil menatap Tasya.


"Ok, baiklah, tapi kau harus ingat tidak boleh menyentuh sama sekali menyentuhku."


Jhony hanya mengaguk menyanggupi permintaan Tasya.


Mereka pun kembali turun dengan begitu mesranya untuk menemui sang Oma.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Amara yang bangun pagi sekali menyiapkan segala kebutuhannya dan kebutuhan Darandra, kemudian ia menuju dapur untuk menyiapkan segala makanan yang sudah di masaknya pagi ini.


'Apa semalam Kak, Darandra apa tidak pulang?, kenapa kamarnya terbuka lebar?' Amara melangkah masuk kedalam kamar yang di tempati Darandra, memang, kalau mereka bertengkar mereka akan mereka akan memilih tidur di kamar yang terpisah.


Amara berjalan pelan membuka jendela kamar, agar udara segar ikut masuk kedalam kamar.


Kriieet.


Hembusan angin di pagi hari membuat pikiran Amara menjadi tenang, sejenak ia berdiri di depan jendela kamar sambil memejamkan kedua matanya, Amara menghirup udara pagi yang sejuk, yang masuk melalui idungnya hingga terasa ke seluruh aliran darahnya yang menghangat.


"Apa yang kau lakukan disini,?"


Deg.


"Kenapa kau diam saja, aku bertanya apa yang kau lakukan di kamar ku,?"


"K-kau mengejutkan ku, A-aku fikir kau tak pulang semalam jadi__"


"Jadi apa? apa kau akan mengacak-ngacak.kamarku,?"


"Ti-tidak seperti itu," gugupnya.


"Kemarilah, sebentar,! dan berdiri di samping ku sebentar, saja," lanjutnya lagi meraih tangan sang suami, bukannya meladeni kemarahan Suaminya itu Amara malah menarik tangan lelakinya untuk mendekat kepadanya.

__ADS_1


"Peluk aku dari belakang," ujarnya pada Darandra, Darandra yang binggung hanya mengikuti apa yang di pinta wanitanya itu, dengan posisi yang masih menghadap ke jendela.


"Kau mau apa sih,?" Darandra akhirnya bertanya karena jujur ia binggung dengan apa yang di lakukan wanitanya itu.


"Aku ingin mengikuti adegan di Film Titanic, ketika Jakc memeluk Ros dari belakang mesra sekali bukan?" ujar Amara sambil tersenyum tanpa rasa malu, ia juga mengedipkan mata pada Darandra, membuat Darandra salah tingkah.


"Kau ini pagi-pagi mengahayal, sudahlah jangan ganggu aku, apa kau tidak lihat aku sedang sibuk," Darandra menepis tangan Amara lalu pergi meninggalkan nya begitu saja.


"Tunggu,! aku ingin berbicara serius padamu Kak,!"


"Apa yang ingin kau bicarakan aku tidak punya banyak waktu kau tau kan aku sedang terburu nanti saja membahasahnya,"


"Baiklah setidaknya sarapan lah aku sudah membuat makanan kesukaanmu,"


"Bukankah aku sudah bilang padamu, kalau aku sedang sibuk, aku buru-buru, ada hal yang jauh lebih penting di bandingkan hanya menemanimu sarapan, menyingkirlah kau menghalangi jalanku."


Darandra mendorong tubuh Amara dan menyuruhnya menyingkir.


"Kak, kita berangkat sama-sama ya,!" teriak Amara.


"Cepat lah, untuk hari ini saja," ujar Darandra. Dengan semangat 45 Amara pun segera mengambil semua perbekalan yang ada.


Tidak ada yang berbicara ketika di dalam mobil Darandra hanya sibuk melirik telponnya, sedangkan Amara hanya menatap jalan yang berada di depannya itu, 30 menit mereka pun sampai di tujuannya.


"Turunlah, aku akan sagera pergi, cepatlah pulang, kau jangan kemana-mana apa kau mendengarku,?"


la pun melambaikan tangannya ke arah mobil Darandra, namun ia kecewa saat lelaki itu seenaknya saja berlalu pergi begitu saja tanpa menolehnya atau menurunkan kaca mobilnya.


Amara melangkah dengan lesu masuk kedalam Cafe.


"Des, apa kau melihat Kak, Renata,? dari tadi aku mencarinya tapi aku belum berjumpa," tanyanya pada rekan kerjanya di Kafe itu.


"Hari ini sepertinya dia tidak masuk, mungkin dia tidak enak badan kau tahukan dia aku lihat pucat sekali," Ujar Desi.


"lya kau benar sekali Des," timpalnya membenarkan perkataan Desi.


"Ya,, sudah, terima kasih, nanti kalau sudah jam istirahat aku akan mencoba untuk menghubunginya," lanjut Amara kembali, lalu diapun melanjutkan aktifitas kerjanya.


"Hai...Amara..!" teriak Desi mengejutkan Amara.


"Ada apa sih Des,? kau membuatku hampir mati karena terkejut, beruntung aku tak punya riwayat serangan jantung," kesalnya sedang kan Desi hanya bisa terkekeh mendengar ocehan Amara.


"Maafkan aku," ujar Desi sambil menyentuh ke dua telinganya."


"Apa yang ingin kau katakan padaku seperti nya penting amat,?" selidik Amara.


"Apa kau tau Bos pemilik Cafe ini akan datang, kabarnya dia tinggal di Singapura selama ini, dan dia duda anak dua loh, katanya sih anaknya mau tinggal sekolah di sini, jadi Bos akan pulang pergi, pasti dia ganteng, iya kan Amara,?"

__ADS_1


"Entahlah, aku juga tidak tertarik dengannya, walaupun dia genteng.


"Amara, bisa tidak kau sedikit memujinya di depanku," ucap Desi dengan wajah kecewanya.


"lya, iya dia pasti ganteng puas," timpal Amara lagi sambil menarik hidung Desi, membuat Desi meringis.


"Sakit Amara,"


"Habis kau__"


ucapan terjeda, saat ada panggilan masuk di gawainya.


📲Drt...Drt Drt...


"Siapa,?" tanya Desi setengah berbisik.


"Kak, Renata" jawab Amara juga setengah berbisik, sambil memperlihatkan teleponnya kepada Desi, Desi pun hanya menggangguk dan melangkah meninggalkan Amara yang menerima panggilan itu.


"Hal...,"


"Amara cepatlah datang kemari tolong Kakak, Auh...ahk...sakit sekali Ra,!" Renata menjeda kalimat Amara karena, ia benar-benar merasa sangat kesakitan, Amara yang mendengar nya pun jadi Panik.


"Tunggu aku Kak, Aku akan segera ke tempat Kakak, Aku akan menelpon Dokter David dulu," ucapnya dengan tangan dan kaki yang gemetar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai...yuk kepoin juga karya Author di bawah ini👇Dan jangan lupa budayakan Like, komen, Vote, dan beri hadiah agar Autoh tetap terus berkarya.😍😘



Nomor 31


Dilarang Plagiat


Menelan pil pahit bukanlah suatu keinginan tapi mungkin sudah keharusan dan takdir.


harus dijalani itu yang pasti.


Rumah tangga Nadira harus kandas ditengah jalan karena perbedaan prinsip dan tersandung kasus lain yang menyebabkan mereka harus berpisah.


Dan kali kedua ini ataukah masih hidup bersama pria yang diinginkan nadira.


"Ceraikan aku" tanggis Nadira.


"Sampai kapan pun aku takkan pernah meninggalkanmu atau pun berpisah. Aku tak ingin itu terjadi"


"Tapi ini. Adalah kenyataan bahwa kau" .

__ADS_1


__ADS_2