Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 39


__ADS_3

"Kenapa kau diam saja? Apa kau tak ingin makan, makanan yang aku bawa,?" tanyanya dengan pertanyaan menyelidiki.


"Bukan seperti itu Aku hanya..." Amara menjeda kalimatnya.


"Kau kenapa,? Apa kau ingin aku suapi,"


"A-apa boleh Aku memintanya, Aku ingin makan dari tanganmu,?" ucap Amara antusias, dengan sedikit terbata, karena dia tidak menyangka kalau Darandra akan mengerti isi hatinya, padahal tadinya la sangat takut untuk memintanya.


"Baiklah untuk kali ini aku akan menyuapimu," ujar Darandra yang membuat Amara tersenyum semakin lebar dan benar-benar membuatnya bahagia.


Dan benar saja, Darandra memberikan suapannya, sesuap demi suap masuk ke mulut Amara.


"Apa yang kau lakukan tadi bersama lelaki Brengsek itu,?" tanya Darandra di sela-sela ia menyuapi wanitanya itu, tidak di pungkiri la masih merasa kesal karena masih mengingat kejadian tadi.


"Aku tidak melakukan apa-apa dengan Kak Danu, Percayalah padaku aku hanya memintanya mentraktirku martabak telur Dan Dia membelikanku dua martabak telur yang super jumbo," Ucap Amara dia pun memilih menceritakan kejadian yang sebenarnya karena tak ingin ada salah faham lagi di antara dia dan Darandra.


"Apa martabak telur,? apa aku tidak salah dengar,?" Darandra menjeda suapannya.


"Bukankah kau__" Darandra kembali menjeda kalimatnya, dan kini matanya menatap lekat wanita di depannya itu.


"Apa kau tidak ingat di saat kau hampir saja mati gara-gara makan telur, dan sekarang kau memakan telur." Tegas Darandra yang sedikit panik dengan apa yang di sampaikan Amara.


"Kau mau apa Kak,?" tanya Amara binggung saat Darandra membuka kancing baju tidurnya.


"Aku ingin melihat tubuhmu, apa kah ada bintik merah yang akan timbul, akibat kau memakan telur." Timpalnya


"Kak, kakak! lihat aku, aku tidak apa-apa." Ucap Amara menahan tangan suaminya, yang kini hampir saja membuka bra yang di pakainya.


"Aku juga heran kenapa aku tidak alergi sama telur, padahal itu makanan yang paling aku takuti."


"Syukurlah kau tak apa-apa aku sangat khawatir,"


"Benarkah kau sangat mengkhawatirkan ku?" Amara bertanya dengan wajah cerianya.


"Tentu saja aku khawatir kalau kau sakit siapa yang akan menjaga Caterine,"


Deg.


Mendengar ucapan Darandra membuat wajahnya yang ceria berubah cemberut.


"Jadi kau hanya pura-pura baik padaku?"

__ADS_1


"Ber Pura-Pura baik, maksudmu,?"


"Dasar tidak peka," umpat nya dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Kau bilang apa?" tanya Darandra bingung, karena memang dia tak mendengar umpatan Amara tadi.


"Cepatlah selesaikan mak__" Darandra menjeda kalimatnya dan kini menatap Amara begitu intes, dari bawah hingga ke atas.


Membuat Amara heran dengan sikap Darandra yang tiba-tiba itu.


"Tunggu dulu tadi kau bilang, kau sudah makan dua Martabak yang suoer jumbo dan sekarang kau kau memakan bebek bakar saos kecap untuk porsi dua orang,?" Mendengar itu Amara hanya diam saja, karena dia juga binggung cara menjelaskannya bagaimana.


"Kau makan martabak telur, bahkan dua super jumbo, lalu bagaimana keadaanmu sekarang Apa kau masih merasa baik-baik saja? Apa kau merasa pusing mual atau kau sudah mulai merasakan sesuatu Katakan padaku kau jangan diam saja?" tanya darandra kembali khawatir.


"Seperti yang kau lihat sendiri, Alhamdulillah aku baik-baik saja, aku juga heran dengan semuanya dan mengapa hari ini aku rasanya hanya ingin makan martabak telur.''


Mendengar apa yang diucapkan istrinya itu Darandra pun ikut heran.


"Amara kau, kau mampu menghabiskan dua porsi bebek ini juga setelah memakan martabak jumbo dua porsi?" Darandra semakin terkejut dan binggung.


"Maafkan Aku aku masih lapar,"


"Aku sudah bilang aku tidak apa-apa, aku hanya kelaparan saja."


"Kelaparan saja kau bilang,? Kau seperti orang yang tidak pernah makan selama 1 minggu apa selama aku meninggalkanmu kau di sini kelaparan?"


"Ya,, tentu saja tidak, untuk apa juga aku akan kelaparan, sudahlah aku ingin tidur Aku mengantuk.'' Ucap Amara lagi, sebenarnya dia berusaha menghindari pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya keceplosan tentang kehamilannya itu.


"Tunggu, apa kau akan meninggalkan aku di sini?"


"Ayolah cepat Aku ini sudah mengantuk ingin tidur." rengeknya dengan berpura-pura menguap.


"Baiklah, ayo" timpal Darandra, terpaksa mengalah.


"Tapi Malam ini aku boleh tidur Bersamamu ya!" seru Darandra karena Amara kini sedang di toilet.


"Apa kau tidak akan pulang ke apartemen mu itu, bagaimana kalau dia mencarimu.?"


"Kau jangan khawatir aku mengatakan padanya kalau aku ada operasi hingga besok jadi tidak bisa di ganggu,"


"Ternyata selain penghianat kau juga ternyata adalah seorang pendusta, kau itu ibarat penyakit komplikasi karena semuanya ada padamu." Kesal Amara.

__ADS_1


"Kau jangan berkata sembarangan tentangku, kau tahu aku melakukan ini hanya untuk ingin bersamamu saja."


"Yang benar saja ingin bersamaku? heh" Amara tersenyum sinis karena merasa Darandra terlalu ingin membeladiri dari semua kesalahan nya.


"Aku ini istrimu kenapa kau harus berdusta padanya? dia kan bukan istrimu,?"


"Ya,, dia memang bukan istriku, tapi dia sedang mengandung anakku, apa kau ingin anak yang ada di dalam kandungannya itu tidak sempat terlahir ke dunia ini,? kau tahu kan kalau dia itu sensitif, dan orang hamil tidak boleh stres dan berpikiran yang berat-berat,"


"Seandainya aku yang hamil apakah Kau juga akan memperlakukanku sama?"


"Tentu saja, karena kau sedang mengandung anakku, tapi untuk sekarang ini kau jangan hamil dulu. Aku tidak ingin Catherine Curiga dengan hubungan kita setidaknya hingga ia melahirkan Aku harap kau bisa bersabar menunggu saat itu tiba,"


"Baiklah,, tapi aku tidak bisa berjanji menunggumu, Maksudku untuk menunggu waktu itu tiba, Apa kau lupa dengan apa yang tadi kau lakukan padaku, bahkan kita sudah melakukannya dua kali dan hingga saat ini Kau tak memberikan aku obat pencegah kehamilan,"


"Tentu saja aku akan memberikannya untukmu sebelum tidur kau harus meminumnya."


"Apa,? kau ini benar-benar menyebalkan," kesal Amara.


"Ayo cepat kemari minumlah,!" seru Darandra membawa segelas air dan strip obat di tangannya.


"Biarkan aku meminumnya sendiri," Pinta Amara.


"Tidak,, biar aku sendiri saja yang menyimpannya di mulutmu aku takut nanti kau membuangnya,"


"Jadi kau sudah mulai tidak percaya padaku lagi,?"


"Bukannya tidak percaya hanya saja aku harus hati-hati."


"ltu sama saja, kau tidak mempercayai istrimu sendiri, dan Kau lebih percaya dengan orang bukan istrimu!"


"Maksudmu apa berkata seperti itu? "Maksudku apa? aku kira kau faham maksudku."


"Kau sendiri tahu dia itu calon ibu dari anakku apa kau tak pernah ingin mengerti,?" "Bukannya aku tak pernah ingin mengerti tapi kau yang tak pernah mengerti akan diriku," "Dengarkan Aku dulu Amara, jika anak itu lahir Aku akan berusaha untuk mencintaimu,"


"Dan jika anakmu lahir, itu semua akan sangat terlambat untuk mu, karena mungkin rasa cintaku padamu sudah menghilang." Ucap Amara berlalu.


"Apa maksudmu Amara? Amara...Amara!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


__ADS_2