
Johan melihat darah segar yang terus mengalir dari tangan tuannya yang tersayat pecahan gelas yang hancur di genggam nya itu.
"Apa tidak sebaiknya kita pulang saja Tuan? lebih baik kita segera ke rumah sakit untuk mengobati luka Anda tuan."
"Ke rumah sakit,? mengobati luka? luka kecil seperti ini harus aku bawa ke rumah sakit,? Apa kau tahu luka ini tidak seberapa, Aku sudah terbiasa dengan banyak luka dan luka ini tidak sebanding dengan luka-luka yang aku rasakan selama ini, Sedikitpun aku tak pernah mengeluh tentang itu karena aku bukan laki-laki Tunduk pada airmata," Johan hanya menunduk terdiam mendengar ucapan tuannya itu, karena ia memang sangat banyak tahu tentang bagaimana cara Tuannya itu untuk bisa bertahan dan menjadi seperti sekarang ini.
"Kau makanlah, setelah itu kita pulang," Ucap lelaki tersebut sambil membungkus tangannya yang berdarah dengan sapu tangan miliknya.
"Tidak usah Tuan, saya juga sudah makan tadi di jalan, sebaiknya kita pergi saja, tapi..." Johan menjeda kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Bagaimana dengan Catrine,?"
"Untuk saat ini kita hentikan dulu karena aku tidak ingin hal yang tidak di ingin kan terjadi, tapi kau harus tetap mengawasinya, aku takut Mami melakukan sesuatu di luar nalar kita, sedangkan Mami mampu melakukan sesuatu di luar Nalar kita. Dan kau harus mengawasi nya.
"Tapi Tuan,, saya tidak tahu di mana Catrine tinggal selama ini."
"Apa Kau...kau bilang kau tidak tahu di mana tempat persembunyian Catrine yang sebenarnya,? lalu untuk apa kau datang memberikan informasi yang setengah-setengah padaku?" Geram Tristan menatap tajam. Membuat Johan menunduk takut.
"Maafkan saya sekali lagi Tuan, saya hanya menemukannya di toko pakaian waktu itu Tuan," Terang Johan kembali.
"Lalu kenapa Mami mengetahui semuanya" "Karena nyonya menyewa seorang detektif Tuan." Mendengar apa kata yang di tuturkan Asistennya sekaligus sahabat terbaik Catrine itu, membuat Tristan menurunkan sedikit Emosinya yang hampir saja meledak.
"Sebaiknya kita pulang sekarang dan yang harus kau cari tahu kenapa Mami harus menyewa seorang detektif untuk mencari keberadaan Catherine saja, aku rasa pasti ada sesuatu yang Mami sembunyikan dari kita, dan wanita itu jika aku mendapatkannya maka aku tidak akan mengampuninya, Karena dia sudah berani kabur meninggalkan rumah dan dan tugasmu sekarang cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Baik Tuan saya akan mencari di mana keberadaan Catherine." Ujarnya menimpali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Pagi.
📲Drt... drt...drt
Amara menata panggilan masuk digawainya tersebut Ini nomor siapa ya sepertinya ini nomor baru dan aku tidak mengenalnya Amara porn tidak mempedulikan gawainya yang terus saja bergetar dari tadi, Dan.
Ting.
["Aku Catrine, Aku ingin ber bicara serius padamu, datanglah ke tempat ini, aku juga akan mengajak Darandra dan kita selesai kan masalahnya hari ini, aku mohon...kau harus datang"]
'Catherine Untuk Apa Lagi ia ingin bertemu denganku apalagi ia membawa Darandra, apa sih sebenarnya yang akan mereka rencanakan kepadaku mungkin sebaiknya aku pergi ke sana biar semuanya Jelas tidak akan ada yang di tutup-tutupi'
(''Baiklah, Aku akan datang tunggu aku")
30 Menit kemudian ia pun tiba di tempat yang di tujunya, Namun orang yang ingin di temui nya tidak kelihatan sama sekali.
"Chaterine...aku sudah datang kau dimana? Chaterine ayolah kau jangan bercanda ini tidak lucu tau." Amara terus saja berteriak namun tetap saja tak ada jawaban dari orang yang sedang dicarinya. Lama Amara berputar-putar mencari Di mana keberadaan Catherine, Namun sosok yang dicari tak menunjukkan batang hidungnya.
"Amara...Amara...tolong Aku...!" baru saja Amara ingin berbalik namun tiba-tiba ia merasa seperti ada seseorang yang memanggilnya, Amara pun menghentikan langkah nya dan terus mencari di mana keberadaan suara tersebut.
Hingga tiba-tiba ia terperanjat saat melihat sosok tubuh yang tergeletak bersimbah darah.
"Catrine...Catrine!" cicitnya mendekati tubuh Catrine yang sudah tidak berdaya itu.
"Katakan padaku siapa yang melakukan ini padamu Catrine...Cepatlah jawab aku, jangan diam saja? sentak nya mengguncang tubuh Catrine yang sudah bersimbah darah.
"Am...ma...ra...mam...af...kan...A..ku..." ucap Catrine terus saja terbata menggenggam erat tangan Amara.
"Sudahkah lupakan semuanya katakan pada ku siapa melakukan semua ini padamu?"
__ADS_1
"M...meli...ssa...!" Bersamaan dengan itu Catrine pun melepaskan genggaman tangan nya dan menutup mata, Sedang Amara hanya bisa membeku tak tahu harus berbuat apa.
"Amara apa yang kau lakukan pada Catrine? menjauhlah kau dari tubuhnya,!" suara Darandra menggelegar di saat dirinya mendapatkan tubuh Catrine yang sudah tidak berdaya itu bahkan ia tidak tahu apakah wanita itu masih bernyawa atau tidak, sedangkan Amara masih bergeming karena masih Syok dengan semua yang terjadi di depan matanya itu.
"Amara apa kau tidak mendengar ku!" sentak Darandra kembali sambil mendorong tubuh Amara yang menghalangi jalannya, hingga membuat Amara terjengkang kebelakang.
"Chaterine...Bangun dan buka matamu katakan pada ku apa yang di lakukan wanita bodoh ini padamu Chatrine?"
Darandra segera membawa tubuh Chatrine keluar dari tempat tersebut.
Amara yang sadar pun ikut dari belakang.
Kurang lebih sepuluh menit mereka pun sampai di rumah sakit, semua time Dokter menyambut kedatangan Chatrine karna sebelumnya Darandra sudah menyuruh mereka stanby ditempat, dan Darandra nampak begitu tegang dan gelisaa kini tatapan matanya tertuju pada Amara dengan tatapan Membunuhnya, namun ia tidak ingin bertindak sebelum ia mengetahui hasil pemeriksaan Chatrine.
Satu jam kemudian seluruh tim dokter kini keluar dari bilik operasi karena Chatrine mengalami pendarahan di otaknya.
"Bagaimana Chatrine dan kandungnya Dok!?"
"Maaf Tuan kami sudah berusaha tapi..." sang dokter tidak melanjutkan kata-katanya.
"Apa yang terjadi katakan padaku?!" suara Darandra begitu menggelegar memenuhi lorong rumah sakit.
"Nyonya Chatrine di nyatakan koma, karena mengalami gegar otak akibat benturan, dan kandungan nya baik-baik saja, karena sepertinya sebelum terjatuh ia berusaha untuk melindungi perutnya itu, karena sepertinya Nyonya Chatrine di dorong dari atas" terang sangat Dokter lagi.
"Baiklah Dokter saya titip Chatrine karena ada urusan yanga akan saya kerjakan sebentar" ucapnya lalu menatap tajam ke arah Amara.
"Sekarang ikut aku!" Darandra menarik tangan Amara begitu kencang.
"Kak, kita mau kemana, bukankah Chatrine sedang di operasi?" ujarnya, sepertinya Amara masih merasa syok dengan kejadian yang tiba-tiba itu.
__ADS_1
Darandra tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan dari Amara. Hingga ia menghempaskan dengan kasar. Dan Darandra pun melajukan mobilnya dengan begitu kencang.