
"Eng..." Amara mengerjapkan mata berusaha membukanya meski kepalanya masih terasa sakit, dan terus saja berdenyut.
"Lara, sayang...bagaimana perasaanmu Nak? Apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Nyonya Bianca khawatir saat Amara terus saja menyentuh kepalanya.
"Mama, aku rasa aku hanya sakit kepala biasa nanti juga hilang, Mama jangan khawatir seperti itu," ujar Amara karena memang ia melihat ada raut kekhawatiran di wajah Nyonya Bianca.
"Sayang...bagaimana Mama tidak khawatir kalau kau jatuh pingsan di dalam toilet" ujar Nyonya Bianca, menatap lekat wajah sang putri yang memang masih terlihat pucat.
"Kamu tunggu di sini Mama akan bawakan minuman untuk menghangatkan perutmu, dan menghilangkan rasa mualmu," ucapnya lalu pergi meninggalkan Amara.
kini tinggal Amara dan dokter James yang saling melempar tatapan.
"Om__"
"Papa...! Mulai sekarang Kau adalah Anak Papa, dan kau harus membiasakan panggilan itu," ujar dokter James menggantung kalimat Amara.
"Tapi Om__"
"Apa kau tak melihat wajah istriku yang sangat mencintaimu dengan tulus,? dan mulai sekarang aku akan menjadi orang tuamu, dan ada satu hal lagi yang harus kau tahu, kalau kau saat ini sedang hamil."
"Apa, Se-sedang Ha-hamil,?" ucapnya terbata dengan mimik wajah yang terkejut.
"Benar sekali, sekarang ini kau sedang hamil, dan usia kandunganmu baru beberapa minggu. Untuk itu kau jangan banyak stres dan beristirahatlah, kau harus betres total."
Mendengar penjelasan dokter James, Amara hanya diam tak bisa berkata-kata karena apa yang di katakan dokter James masih membuatnya terkejut, Antara bahagia dan takut kini menggelayuti fikirannya.
Ia hanya berfikir bagaimana jika Darandra sampai mengetahui kehamilannya, apakah Darandra akan menerima kehadiran anaknya kelak atau akan menolaknya sama sekali, karena selama melakukan hubungan badan dengan Darandra, lelaki itu selalu mencekokinya dengan obat pencegah kehamilan, beruntung ia sudah menukarnya dengan vitamin penyubur kandungan.
"Mami akan membuatmu bertahan sayang, Ayo kita berjuang bersama-sama untuk mendapatkan cinta Daddymu.
Lirihnya sambil mengusap perutnya yang masih rata.
__ADS_1
"Minumlah minuman ini sayang," ujar Nyonya Bianca begitu masuk di kamar sambil menenteng baki yang sudah berisi minuman hangat yang sudah tertuang di dalam gelas. Amara lalu meminumnya hingga tandas.
Nyonya Bianca pun tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Putrinya itu.
"Kau tau, Mama juga dulu sama sepertimu waktu hamil, Mama itu sangat lemah Ketika mengandungmu, mungkin kau juga sama seperti Mama, intinya sekarang kau harus istirhat yang banyak jika kau butuh sesuatu Mama selalu ada untukmu sayang." Ucap Nyonya Bianca lagi.
"Terima kasih Ma, terima kasih karena Mama selalu ada untukku Mama selalu baik Padaku, boleh aku memeluk Mama sekarang.?"
"Boleh dong sayang, masak kamu mau memeluk Mama harus minta izin dulu," Amara pun memeluk Nyonya Bianca begitu erat dia merasa Nyonya Bianca sudah seperti kandungnya sendiri.
"Tetaplah seperti ini untukku. Tetaplah menjadi Mamaku, I love you Mama."
"I love you too sayang, Nyonya Bianca betul-betul menyayangi Amara dengan penuh kasihnya.
"Ma,, boleh Lara bertanya pada Mama,?" ujar Amara mengurai pelukannya, sambil menatap lekat wajah sang mama.
"Kamu mau bertanya apa pada mama sayang? bertanyalah, Mama pasti akan menjawabnya jika Mama tahu jawabannya," ujar nyonya Bianca, membingkai wajah putrinya tersebut.
"Kamu ini berbicara apa sih sayang? Siapa yang mengatakan kalau kamu itu bukan anak kandung mama? Mama yang mengandung, Mama yang melahirkan, Mama yang merawat, dan membesarkanmu sayang,?"
"ltu Lara tahu, hanya saja, Seandainya Lara bukan anak kandung Mama bagaimana Ma,? Lara ingin Mama sembuh lupakan semuanya Ma, demi Lara."
"Apa maksudmu Lara?" tanya Nyonya Bianca bingung.
"Lara Apa yang ingin kau bicarakan dengan Mamamu,!" Seru dokter James.
"Pah tidak mungkin selamanya Lara terus seperti ini Pa apa Papa mau selamanya Mama seperti ini,?"
"Lara diamlah!" hardik dokter James tanpa sadar.
"Pah! Papah kenapa sih tidak bisa bicara lembut pada anak sendiri, Papa tahukan Kalau Lara sedang hamil,? Bukankah papa sendiri yang mengatakan kalau Lara itu harus istirahat total, Lalu kenapa Nada bicara Papa membentak seperti itu,?"
__ADS_1
"Maafkan Papa Mah, Papa tidak bermaksud seperti itu tapi__"
"Lara mengerti Pah, apa yang Papa khawatirkan, tapi Papa juga harus ingat, apa yang Lara ingin lakukan semuanya tulus demi Mama, Papa sendiri tau apa yang sedang Lara alami selama ini Lara hanya ingin Mama sembuh total Pah, sebagai seorang Dokter Seharusnya Papa mendukung, mungkin dengan semuanya Mama bisa sembuh. Lara sayang sama Mama Pah, untuk itu Lara ingin Mama sembuh sebelum Lara melahirkan anak ini Pah." Mendengar penjelasan Amara dokter James hanya diam mebisu.
"Apa yang kamu maksudkan Nak,? Mama itu tidak sakit benar kan Pah,? Mama tidak sakit apa-apa Kamu lihat sendiri kan, Mama masih segar bugar begini bahkan Mama pun siap membantumu jika kamu mengalami kesusahan dalam kehamilanmu,"
"Ma,, Bukankah yang meninggal tidak akan bisa kembali lagi,?"
"Iya Sayang...kenapa?"
"Coba Mama ingat beberapa tahun belakangan ini apa yang terjadi pada Lara Ma?"
"Apa sih yang terjadi padamu Nak? Seingat mama tak pernah terjadi apa-apa padamu Nak,"
"Lara,, Sudahlah cukup! Berhentilah untuk berusaha terus berbicara, karena itu tidak ada manfaatnya, aku itu seorang dokter jadi aku lebih tahu mana yang terbaik untuk istriku,! sentaknya kembali.
"Ayo sayang kita keluar dari sini," Ajak dokter James lalu merangkul pundak istrinya dan segera membawanya keluar dari kamar yang di tempati Amara tersebut.
"Aku Amara...Bukan anak Mama...! Lara sudah meninggal Ma, dan aku tidak mungkin menjadi bayangan orang yang sudah tiada Ma, Amara benar-benar sayang sama Mama, Amara hanya ingin Mama sembuh...sebentar lagi Mama akan punya cucu, Amara ingin Mama melupakan semua kejadian itu Ma, Mama harus sembuh...!" teriak Amara dengan isak tangisnya.
mendengar teriakan Amara Nyonya Bianca yang baru saja tiba di ambang pintu pun berhenti.
"Ada apa Ma, jangan dengarkan kata-kata Anak itu! Lara itu sedang binggung jadi dia berbicara ngacau nanti Papa akan memarahinya," ujar dokter James, saat melihat istrinya hanya terdiam dengan air mata yang sudah mulai mengalir deras, membuat dokter James semakin khawatir.
"Sayang kau mau kemana?" tanya dokter James saat melihat istrinya berbalik dan berjalan dengan gontai mendekati Amara yang juga sedang menangis sesenggukan.
Lama mereka saling menatap tanpa ada yang ingin berbicara kecuali yang terdengar hanya isakan tangis pilu keduanya.
"Puas...kamu puas melakukan ini,?" sentak Nyonya Bianca pada Akhirnya, sambil mengguncang tubuh Amara.
"Ma...!"
__ADS_1