Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Apa yang Terjadi?


__ADS_3

"Kau, benar-benar keterlaluan Andra,! untung saja aku bisa meyakinkan Dokter James, kalau tidak, kau sudah tidak punya kesempatan lagi untuk mendapatkan semuanya," Kesal Tasya lalu mematikan telfon nya."


"Halo...halo...!"


"Sial, aku baru saja ingin bertanya dia pulang naik apa?" Darandra mengusap kasar wajahnya lalu kembali menyandarkan tubuhnya pada sebuah kursi di dalam ruangan di mana kini Amara masih terbaring menutup matanya.


Ceklek.


"Maaf,, apakah Anda Tuan Darandra,?" tanya seorang lelaki yang memakai jas putih yang baru saja masuk lantas mendekati Darandra yang tengah menunggu Amara.


"Ya dokter, saya Darandra."


"Kalau begitu Anda boleh ikut saya sebentar,? karena ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan anda."


"Baiklah dokter," Darandra pun mengikuti langkah dokter tersebut.


"Silakan masuk, dan Silakan duduk," ucap sang dokter saat Darandra tiba di ruangannya. "Ada apa dokter? Apakah ada yang serius dengan penyakit istri saya,?" Tanya Darandra to the poin, setelah bokongnya mendarat dengan nyaman pada kursi empuk yang diduduki nya.


"Apakah istri Anda sering merasakan sakit kepala, ataukah ia sering pingsan,?"


"Sakit kepala? saya kurang mengetahuinya Dok, dan masalah pingsan, dulu sebelum kami menikah saya pernah mendapatinya pingsan juga, tapi setelah kami menikah sepertinya baru kali ini dokter, Memangnya ada apa dokter, apa ada sesuatu yang sangat mengkhawatirkan dengan istri saya?" tanya Darandra dengan wajah penasaran karena memang setaunya Amara pernah masuk rumah sakit karena pura-pura pingsan. Dan juga karena Alergi telur, selebihnya tidak sama sekali.

__ADS_1


"Saya tidak tahu pasti penyebabnya apa, dan saya tidak bisa memberikan keterangan tanpa ada bukti, sebaiknya Anda membawanya periksa ke rumah sakit yang lebih memadai karena di klinik ini tidak mempunyai perlengkapan, sebelum semuanya terlambat."


"Apa yang sebenarnya dokter maksudkan dan ingin katakan,?" ujar Darandra yang mulai nampak khawatir. Saya tidak ingin menerka-nerka, Bukankah saya sudah mengatakan Lebih baik anda membawanya ke rumah sakit yang lebih memadai, apapun itu kalau di periksakan lebih awal kita akan tahu solusinya seperti apa, saya harap Anda paham dengan apa Yang saya maksudkan ini, Bukankah Anda juga adalah seorang Dokter.?"


"Baiklah dokter, saya paham,"


"Sepertinya hanya itu saja yang bisa saya sampaikan, saya Permisi karena masih banyak pasien yang harus saya tangani," pamit sang Dokter bangkit dari tempat duduknya.


"Baiklah dokter sekali lagi terima kasih dan sepertinya saya juga harus permisi," ujar Darandra menyusul sang Dokter Bangkit berdiri sambil berjabat tangan dan sama-sama keluar, namun mereka berpisah saat di koridor jika Darandra memilih untuk menemui Amara maka sang dokter memilih untuk menemui pasiennya.


Darandra pun duduk kembali, di kursi yang ada di ruangan dimana saat ini Amara tengah berbaring di ruangan tersebut, sambil terus menatap Amara yang masih Setia memejamkan matanya.


Sementara itu, Tasya yang sedang berjalan pulang untuk mencari taxi tidak menyadari sebuah mobil mengikutinya dari belakang.


Tin...tin.. tin...


Suara klakson terus saja terdengar, namun tak membuat Tasya ingin berhenti, karena Tasya pikir itu adalah orang jahat atau lelaki hidung belang yang sedang mencari mangsa ingin menggodanya Tasya semakin mempercepat langkahnya, dengan persaan was-was.


"Masuklah...! Kenapa kau berjalan sendiri di malam-malam begini,?" seru seseorang sambil menarik tangannya lalu membawanya masuk ke dalam mobil membuat Tasya sedikit terkejut, saat mengetahui siapa yang mengikutinya itu.


"Kau, Kenapa? kau selalu Mengikutiku,? Bukankah aku sudah mengatakannya padamu urus kehidupan kita masing-masing, karena aku tidak ingin kau selalu mengurus kehidupanku."

__ADS_1


"Ck, kamu jangan terlalu percaya diri, Siapa juga yang mengikutimu, aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu berjalan sendiri. Bagaimanapun kau itu istriku, aku tidak mau kau kenapa-kenapa dan ya! Aku tidak pernah ikut campur dengan urusanmu, tapi jika itu menyangkut harga diri dan kehormatan maka aku harus turun tangan segera,"


"Heh, kata-katamu sangat bijak sekali kau belajar pada siapa untuk merangakai kata itu? Kau kira aku akan percaya dengan segala omong kosongmu itu, setelah apa yang pernah kau lakukan padaku dulu, dan di hari pernikahan kita kau juga mengecewakanku, kau sengaja menjebakku," Kesal Tasya menatap tak suka.


"Bukankah aku sudah minta maaf padamu, Apa kau tidak akan pernah memaafkanku,? harus berapa kali aku minta maaf padamu,?"


"Kau tak perlu minta maaf padaku, karena aku tidak butuh permintaan Maafmu itu, karena semuanya tidak akan merubah kenyataan yang terjadi, dulu aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu, tapi sekarang aku membencimu, sangat-sangat membencimu, dan sampai kapanpun akan terus membencimu, Kau dan Amara adalah pasangan yang pantas karena kalian semua adalah penghancur kebahagiaanku."


"Tasya, apa kau sadar dengan ucapanmu itu? kenapa kau harus berubah seperti ini? Kau bukanlah seperti Tasya yang dulu aku kenal, dulu, kau lembut bahkan tak pernah ingin berkata kasar sekalipun, tapi sekarang, apa ini,? aku benar-benar tidak mengenalmu Sya." Jhony menatap Tasya dengan penuh tanda tanya.


"Kau jangan bermimpi Jhony, Tasya mu itu sudah mati, mati bersama kenangan pahit yang telah kau berikan padanya, aku bukanlah seorang Tasya yang dulu yang bisa kau perdaya dengan janji-janji Manismu, dengan segala rayuan gombalmu, mungkin dulu Saat Aku Mencintaimu kau mengatakan seperti ini mungkin Aku akan menjadi wanita yang paling bahagia, tapi sekarang tidak lagi,"


"Aku seorang hamba dan hanya manusia biasa aku bukanlah seorang malaikat yang suci, Aku hanya manusia tak pernah luput dari salah dan lupa, dan dalam ke alpaanku itu aku menyadari setiap kesalahan yang pernah aku lakukan padamu, tapi masalah jodoh Allah lebih mengetahuinya, Sejauh apapun kau pergi kita pasti akan tetap dipertemukan, dan Sekuat apapun dirimu berjuang demi cintamu, Jika Allah belum menghendaki, maka kau tidak akan pernah bersatu dengan orang yang kau cintai walaupun kau berjuang sampai titik darah penghabisan, sebaiknya kau menerima kenyataan yang ada, agar kau terhindar dari berbuat salah dan dosa," Ujar Jhony memberikan nasehat panjang lebar.


"Oh...hebat sekali kau sekarang, kau sudah mulai menceramahiku tentang salah dan dosa, sejak kapan kau belajar seperti itu,?"


"Sya...!"


"Sudah, cukup,! diamlah,! apa kau tidak tahu Hari ini aku sedang ada masalah, dan aku tidak ingin kau menambah masalah dengan Segala ucapan omong kosongmu itu, jika kau ingin aku ikut hanya untuk membahagiakan Oma maka kau juga harus mengikuti apa yang aku inginkan, kau jangan banyak bicara dan jangan berdebat denganku, jangan mencoba untuk membuatku mencintaimu lagi karena itu akan Percuma saja, Aku tidak akan pernah terjebak dengan kata-kata manismu lagi," Kesal Tasya sambil membuang muka menatap jalan yang ada di sampingnya, sedangkan Johnny hanya memilih diam dari pada terus berbicara, Itu semua tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan yang memang dari awalnya sudah tidak baik baik saja, namun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam Ia terus berdoa Agar Tasya bisa berubah, bukan berubah untuk mencintainya, tapi berubah menjadi wanita yang lebih baik seperti Tasya yang dulu pernah ia kenal.


"Aku mencintaimu Tasya, sangat-sangat mencintaimu, Maafkan Aku jika ini datang terlambat, aku tak bisa mengatakannya karena semuanya akan sia-sia saja di matamu, Kau pasti akan menganggap aku hanya berbohong," ucap Jhony namun itu hanya di dalam hatinya saja.

__ADS_1


__ADS_2