
Amara tak ingin mengeluarkan sepatah katapun saat ini, apa lagi untuk menatap Darandra yang tengah emosi, hingga ia tiba dirumah kontrakan miliknya.
"Turun...dan keluarlah...!" senta Darandra menatap tajam, membuat Amara bergegas membuka pintu mobil.
"Kak...Aku__"
"Ssttt..." Darandra memberi isyarat dengan telunjuknya sebagai tanda Amara harus diam, tanpa harus berkata apa-apa lagi kini Amara turun dengan perasaan yang campur aduk.
Darandra menurunkan kaca mobilnya
sebelum melanjutkan perjalanan nya kembali.
"Dengarkan aku Amara... Jangan pernah menemuiku dan aku pun tidak akan pernah menemuiku, hingga Chatrine sadar dari koma nya, jika aku tahu kau di balik semua ini maka mari kita berpisah untuk selamanya, dan pergilah menjauh dari duniaku, karena aku tak ingin melihatmu mengganggu bahkan menyakiti orang yang ada di sekeliling ku, camkan itu baik-baik, Anggap saja itu adalah hukuman yang pantas buatmu!"
Setelah berucap Darandra pun berlalu pergi begitu saja tanpa ingin menoleh kebelakang nya lagi, ia sungguh tidak menyangka kalau wanitanya tega melakukan semua itu.
"Amaraaa....Aaarrrggghhh kenapa kau melakukan hal ini, jika bukan kau lalu siapa? karena di tempat kejadian hanya kau saja dan Chatrine." Darandra benar-benar bingung antara percaya dan tidak jika Amara yang membuat Chatrine terluka parah bahkan sampai gegar otak dan koma.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
4bulan telah berlalu Amara benar tak pernah saling berjumpa atau berbicara dengan Darandra, namun sesekali ia akan datang kerumah sakit untuk sekedar melihat perkembangan Chatrine yang belum bisa di ketahui kapan ia akan bangun dari komanya, dan itu ia lakukan meski dari jauh, itu pun tanpa sepengetahuan Darandra.
''Chatrine hari ini adalah hari terakhir aku menjenguk mu, semoga kau baik-baik saja dan segera bangun dari koma, Aku titip Kak, Darandra jaga dia dengan benar," lirihnya sambil terisak, Namun seketika ia terdiam saat samar-samar ia menangkap dengan pendengarannya sendiri, suara seseorang yang sedang berbicara yang semakin lama semakin mendekat ke arahnya.
"Baiklah aku akan segera kesana tapi, setelah tugas-tugas ku selesai"
Amara sangat mengenal suara itu.
"Gawat aku harus bisa keluar dari sini," gumamnya dengan detak jantung yang berdebar kencang.
__ADS_1
"Siapa kau, dan ada apa?k kenapa kau berada disini?"
Darandra mematikan telponnya secara sepihak setelah menyadari ada seseorang mengintai Chatrine dan begitu menyadari kehadirannya orang itupun hendak pergi, dengan menutup bagian wajahnya yang dengan masker.
Namun seketika ia pun tertegun di kala mencium wangi yang selama ini ia kenal, Dan sudah lama la tak mencium wangi aroma yang berusaha ia hilangkan.
"Amara...apa kau__"
"Maaf Nona kita terlambat!" seru seseorang yang datang Tiba-tiba, membuat Darandra menjeda kalimatnya, sedang tatapan matanya turun pada perut wanita asing di depannya itu.
"Tidak,, wanita itu pasti bukan Amara, karena kalau aku lihat wanita itu sedang hamil," gumannya menenangkan diri sendiri, Karena entah mengapa perasaannya mulai tidak enak sedang jantungnya berdegup begitu kencang saat mengingat wanita yang sangat ia rindukan selama 4 bulan terakhir ini, yah selama 4 bulan ini ia terus menahan gejolak hati yang terjadi pada dirinya ia berusaha melupakan Amara lewat kesibukannya dirumah sakit, Namun hari ini ia kembali mengingat wanita itu, Wanita yang ia tinggalkan begitu saja tanpa mendengarkan alasan dan pembelaannya.
Lama ia tertegun hingga saat tersadar wanita itu sudah kian menjauh meninggalkannya.
'Amara...Kenapa perasaanku mulai tidak enak mengingatnya,? Tidak...mungkin ini hanya perasaanku saja.'
"Maaf Dokter ada seseorang yang sedang mencari Anda," Ucap seorang Perawat membuyarkan lamunannya.
"Saya menyuruhnya menunggu di ruangan Anda Dok.."
"Baiklah aku akan segera kesana untuk menemuinya," timpalnya kembali.
Cek lek.
"Maaf sudah lama menunggu, sepertinya ada sesuatu yang penting dan mendesak sehingga Anda sendiri langsung menunggu dan ingin menemui saya disini, tapi maaf kita tidak saling mengenal."
Sapa Darandra begitu masuk di dalam ruangannya, dan dirinya pun benar-benar tidak mengenal siapa Pria yang di depannya tersebut.
"Senang bertemu Anda Dokter Darandra, kita memang tidak saling mengenal, tapi saya yakin Anda pasti sangat mengenal orang ini,"
__ADS_1
Darandra melihat sebuah foto pernikahan yang di perlihatkan lelaki tersebut pada sebuah gawai miliknya.
"Chatrine...bagaimana kau__"
"Chatrine adalah istriku, sudah lama aku mencarinya, apa lagi sekarang ia sedang mengandung anakku," Ucap Tristan dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Namun cukup mampu membuat Darandra tercekat.
"ls-istri mam-mak-sudmu Chatrine sudah menikah dan kau suaminya, lalu anak yang di kandung nya itu adalah anak kalian bukan anakku,?" Gugup Darandra yang masih begitu terkejut dengan semua penjelasan dari Pria asing yang tiba-tiba saja datang dan mengaku sebagai suami Chatrine dan ayah biologis bayi yang di kandungnya itu.
"Apa kau msih tidak percaya dengan apa yang aku katakan, sebagai seorang dokter tentu saja kau lebih mengetahui hal ini, Bagaimana kalau kita tes DNA saja." Ujar Tristan kembali karena melihat keraguan di wajah Daranda.
"Tidak perlu,, kau tidak perlu melakukan semua itu, Hanya satu yang aku butuhkan penjelasan yang sebenar-benarnya dari Catherine. Kenapa ia mengaku sebagai wanita yang tengah mengandung anakku, dan Kenapa ia begitu tega melakukan semua ini padaku,? Kenapa ia tega membohongiku."
Darandra menatap wajah Tristan seolah ingin mencari tahu jawaban atas semua pertanyaannya.
"Apa kau tahu karena Catherine mengaku Aku adalah Ayah dari bayi yang dikandungnya aku telah tega menyia-nyiakan orang yang selama ini sangat mencintaiku, bahkan ntah sudah berapa kali aku melakukan hal yang menyakiti perasaannya demi Chatrine. Hari ini aku pun ingin mengatakan kalau aku sangat mencintainya, Bahkan mungkin aku sangat malu untuk mengatakan semuanya, Aku telah menghancurkan harapan yang aku ukir dalam impiannya."
"Aku akan membantumu untuk menjelaskan semuanya dan meminta maaflah meski dengan kata maaf tak akan mampu untuk menghapus luka yang selama ini kau torehkan, tapi setidaknya kita telah mengakui kalau selama ini kita salah dan khilaf." Tristan menjeda kalimat nya di saat mengingat bagaimana biadabnya ia sebagai seorang suami.
"Nasip kita sama terlambat menyadari kalau cinta itu ada pada pasangan sejati kita.
Sekarang Katakan padaku di mana Catherine sebenarnya berada," Ucapnya kembali Lalu bertanya.
"lkutlah denganku!" Ucap Darandra sambil berlalu.
"Kenapa kau membawaku ke ruangan ini? Aku hanya bertanya di mana Chatrine ku?" "Apa kau tidak lihat, siapa yang berbaring di depan sana?"
"Chatrine...katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padanya? kenapa jadi seperti ini,"
"Chatrine mengalami koma, selama kurang lebih 4bulan ini."
__ADS_1
"Apa koma,?"