
Baik Tasya dan juga Jhony kini keluar dan turun ke bawah untuk menemui Oma, dengan bergandengan tangan.
Oma pun begitu gembira menyambut mereka, dengan senyum bahagia yang terus merekah di bibirnya.
"Kalian ini mengingatkanku pada masa zaman Oma dan Opa pengantin baru," Ucapnya sambil tersenyum dan menyentuh lembut wajah cucu menantunya itu.
"Bagaimana kabarmu hari ini sayang?"
"Alhamdulillah Baik Oma, Oma sendiri bagaimana,?"
"Oma itu akan tetap baik saja, jika Oma melihat kalian seperti ini," ujar Oma sambil mendudukkan bokongnya pada sebuah kursi di ruang makan tersebut.
"Duduklah, ayo mari kita makan kebetulan Oma dari tadi sudah lapar," Ujar Oma.
Baik Tasya dan Jhony hanya terdiam tanpa ingin menyahut, mereka hanya sesekali tersenyum dan menggangguk lalu mereka pun duduk pada kursi masing-masing, tak ada perbincangan di sela-sela mereka mengunyah makanan, hanya sesekali Tasya akan bangkit memberi lauk atau menambahkan nasi di piring Oma atau juga di piring suaminya itu.
"Kapan kalian akan memberikan Oma Cicit,?"
"Uhuk-Uhuk" Tasya yang mendengar pertanyaan Oma jadi tiba-tiba saja tersedak untung saja dengan cepat Jhony merih air minum dan memberikannya pada Tasya dan tak lupa juga ia memberikan usapan lembut pada punggung istrinya itu.
"Pelan-pelan saja sayang makannya, bagaimana sekarang, apakah kau merasa sudah baikan?"
Tasya hanya mengangguk pelan sebagai sebuah jawaban.
"Kalian harus segera memberikan Oma cicit ingat umur Oma sudah tidak lama lagi"
"Oma,, kenapa Oma berkata seperti itu,? umur tua itu tidak menentukan orang itu akan lekas mati atau tidak, siapa tau saja aku yang lebih muda ini yang akan pergi lebih dulu meninggalkan Oma, Entah besok atau lusa atau mungkin setahun lagi."
"Hus, kamu ini bicara apa? apa kau tahu perkataan itu adalah do'a apa kau ingin mati setahun lagi,' tegur sang Oma. Jhony hanya tersenyum menanggapi teguran Oma lain halnya dengan Tasya yang memberikan tatapan yang tak dapat diartikan.
Setelah makan malam selesai merekapun berkumpul di ruang tengah berbincang bercanda dan tertawa hingga tak terasa waktu terus bergulir, hingga semuanya memilih untuk menuju keperaduan.
__ADS_1
"Tidurlah di tempat tidur, aku akan tidur di lantai, aku sudah menggelar kasur kecil di bawah kau bebas ditempat tidurmu, dan jangan takut aku berjanji tidak akan menyentuhmu."
Tanpa ingin menjawab perkataan suaminya Tasya memilih segera naik ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sedangkan Jhony memilih masuk ke toilet melakukan wudhu lalu melaksanakan Shalat dua Rakaat, setelah itu ia meraih gawainya untuk membaca ayat demi ayat Alquran, karena lampu kamarnya redup jadi tidak mungkin memilih membuka mushab, saat istrinya kini tengah tertidur, karena Tasya tidak akan tertidur dengan lampu yang menyala.
Padahal sebenarnya Tasya belum tidur, dia hanya masih takut memejamkan mata nya, di saat Jhony masih terjaga ia takut saja jika Jhony melanggar janjinya untuk tidak menyentuhnya.
Setelah selesai dengan aktifitas ibadahnya, Jhony pun segera menggelar karpet untuk tempat tidurnya di atas lantantai.
la pun segera merebahkan dirinya menghadap sang istri yang kini masih menutup tubuhnya dengan selimut itu, darah segar kembali keluar dari hidungnya, membuatnya segera bangkit dan menuju toilet, didalam toilet ia menatap wajahnya yang semakin hari semakin pucat, ia pun hanya bisa tersenyum getir, kembali Jhony melangkah dengan pelan keluar dari toilet, bukannya langsung tidur, Jhony memilih keluar dari kamarnya ia memilih keluar untuk menghirup udara malam dengan menaiki mobil sport berwarna merah miliknya itu, setelah sampai pada bibir pantai ia pun turun dari mobil.
Sejenak la merasakan belaian angin laut malam yang menerpa wajahnya sedangkan deru ombak yang berlarian di tepi pantai, memecah kesunyian malam, yang temaram dengan cahaya sang rembulan yang begitu buram di peraduannya.
ia berfikir ingin menghabiskan waktunya yang hanya sisa satu tahun ini dengan wanita yang sangat ia cintai itu, namun ia pun merasa binggung bagaimana caranya ia harus menyampaikannya pada Tasya, berbicara saja Tasya akan selalu ketus padanya.
'Sepertinya aku memang harus berbicara padanya, biar semuanya lebih jelas, aku ingin membahagiakannya di sisa usiaku yang tak lama lagi' tak terasa waktu terus bergulir namun tak membuat Jhony ingin beranjak dari tempatnya itu, hingga suara Azan subuh yang mendayu merdu membuatnya segera bangkit, bukan untuk pulang tapi untuk mencari mesjid yang terdekat.
Setelah selesai menunaikan Shalat ia pun segera beranjak pulang.
"Sya apa kamu tidak mau bangun Shalat, kamu boleh tidur kembali setelah selesai Shalat,!" seru Jhony pelan sambil sedikit mengguncang sedikit pundak Tasya.
"Aku sudah bangun dari tadi tak usah membangunkan kau saja yang baru datang habis dari mana? apa semalam kamu dugem dan menggoda wanita di luaran sana,? aku tidak menyangka kalau kau tidak akan pernah berubah selalu sama, aku perhatikan semenjak kita menikah kau selalu pulang malam pergi pagi kan, tapi itu aku tidak peduli yang aku ingin hanya segera lepas dari pernikahan bodoh ini,!" teriak Tasya yang semalam memang tak bisa tidur setelah mengetahui suaminya itu keluar kamar.
"Sya kau_"
"Apa? kau mau marah dan menamparku seperti para suami lakukan di luar sana atas sikap istrinya yang tidak dia suka? silahkan aku tidak takut, dan itu akan sangat menguntungkan bagiku," kesal Tasya dengan wajah yang berapi-api.
"Dan ya,, bukankah kau bilang menyuruhku menjaga sikap dan perilaku ku selama ada Oma disini? lalu kau apa? apa yang kau lakukan apa kau lupa dengan semuanya,?"
Tasya pun memilih pergi setelah mengeluarkan segala emosinya pada Jhony, sebenarnya bukan tanpa alasan kenapa dia begitu marah, sebagai seorang istri Tasya sebenarnya punya sedikit rasa peduli dengan lelaki yang selalu menyakitinya itu, namun ego yang kuat serta hubungan yang di bangunnya bersama Darandra membuatnya menutup semua itu.
"Kau mau pergi kemana Sya, pagi-pagi begini? tidak baik kau menyetir mobil kalau kau lagi marah,?" ujar Jhony mengingatkan dengan menahan tangan Tasya, Tasya melihat pergelangan tangannya yang di sentuh membuat emosinya semakin berkecamuk, di tatapnya Jhony dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Lepaskan aku,! kalau tidak aku akan berteriak, biar Oma tau tentang kita," ancamnya, Jhony pun terpaksa dengan berat hati melepaskan tangan istrinya itu.
"Setidaknya jelaskan padaku kau mau kemana? agar aku tidak khawatir," ucapnya lembut.
"Untuk apa kau tahu kemana aku pergi,? bukankah kau juga seperti itu semalam,? tapi Baiklah aku akan mengatakannya padamu, aku akan ke tempat Darandra karena hanya dia yang bisa membuatku tenang dan bahagia."
"Dengan merusak dan merampas kebahagiaan wanita lain, apa itu yang kau anggap bahagia Sya,?"
"Waow...Tuan, Jhony Adam Hendrawan, kenapa kau begitu peka sekali dengan kebahagiaan istri orang lain dari pada aku yang konon kau anggap istri,? atau jangan-jangan kau ada sesuatu juga dengannya,? untuk itu kau sering mengantarnya pulang pergikan?" ujarnya dengan senyum mengejek.
"Itu tidak benar Sya, tidak seperti apa yang kau tuduhkan dan kau lihat, dengarkan aku Sya, aku__"
"Aku tidak butuh mendengar dongenganmu di pagi buta ini," sela Tasya menjeda kalimat Jhony.
"Asal kau tahu saja, bukan aku yang merusak kebahagiaan orang lain, tapi dia, dan kau, yang merusaknya apa kau lupa itu,? atau mungkinkah kalian bekerja sama untuk menghancurkanku,?" Teriak Tasya ia pun menangis untuk menumpahkan kekesalan dan rasa sakit hatinya itu, Jhony hanya diam bergeming pada tempatnya, ia takut mendekat, karena tak ingin Tasya semakin kesal padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haiiii...yuk ikuti juga cerita Author di bawah ini👇 dan jangan lupa! budayakan Like. Komen, Vote, dan hadiah lainnya...agar para Autor tetap semangat untuk terus berkarya.
NOmor 30
spin of novel Mr. Arogant
Alexander Yudista Miller. laki-laki yang menjabat sebagai CEO, calon pengurus perusahaan milik sang ayah. Alex terkenal dengan ketampanannya dan juga kekejamannya jika menghukum.
di balik wajah tampan Alex, laki-laki itu memiliki rahasia yang besar. perjalanan cintanya tidak sebaik kehidupannya. ia terpikat dengan seorang wanita yang sebenarnya ia hanya menginginkan anak dari wanita itu.
bagaimana kisah mereka? apakah mereka akan saling jatuh hati atau sebaliknya? skuyy langsung baca aja.
__ADS_1