
"Di mana tas dan pakaianku Aku ingin memakai baju." Ucap Lara yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sebagai kemben, yang hanya sampai di atas lututnya.
Dan sudah dapat di pastikan kekesalan di wajah Darandra, bagaimana dia tidak kesal, di saat dia hampir saja melakukan penyatuan nya dengan wanita yang begitu mirip dengan mendiang istrinya itu, ternyata wanita itu masih virgin, namun sekarang ia bertingkah seenaknya saja seolah ingin menggoda Darandra, sebagai lelaki normal ia pun merasa darahnya mulai berdesir sedang kan tubuhnya pun kini terasa panas, namun dengan sekuatnya ia berusaha menahan diri sambil memijat tengkuknya, dan terus membisikkan di dalam dirinya kalau wanita itu, bukanlah Amaranya.
"Kenapa kau diam saja tidak menjawab ku?" kesal Lara di saat dirinya merasa di abaikan oleh Darandra. Bukannya menjawab Darandra memilih melangkah meninggalkan Lara.
"Hei…kau! aku bilang di mana bajuku?" serunya sedikit berteriak melihat Darandra yang berlalu pergi begitu saja meninggalkan nya tanpa mempedulikan dirinya yang bertanya.
"Ambillah barang-barangmu dan segera pergi tinggalkan rumah ini! lain kali kalau kau pergi dari suatu tempat kau lihat dulu kau itu masuk di mobil siapa!" Ketus Darandra melemparkan koper dan juga barang-barang milik Lara.
"Kau benar-benar laki-laki menyebalkan, Apa kau tersinggung karena aku menolakmu untuk menikahiku?" tanya Lara sambil menunduk memungut barang-barangnya yang si lemparkan oleh Darandra.
"Untuk apa aku tersinggung, aku hanya tidak ingin lari dari tanggung jawabku, sebagai seorang laki-laki aku harus bertanggung jawab dari setiap kesalahan yang aku lakukan, makanya aku menawarkan diriku untuk menikahimu, tapi jika kau tidak menginginkannya baguslah, Setidaknya aku tidak direpotkan olehmu."
"Apa…? Jadi kau berpikir aku merepotkanmu begitu? Hah…yang benar saja," ujar Lara dengan menarik sudut bibir.
"Ya tentu saja, contohnya semalam aku menggendongmu dari mobil ke sini,"
"Aku kan tidak menyuruhmu untuk menggendongku siapa juga yang memintanya?" kesal Lara sambil berkacak pinggang.
"Apa kau mau sopir taksi itu membuang ke tempat sampah karena kau dianggap penumpang ilegal, kau itu sudah ditolong tidak mau berterima kasih malah seenaknya nya saja."
"Baiklah aku minta maaf dan Terima kasih,puas…"
"Kau itu harus ikhlas mengucapkan nya, atau Jangan-jangan kau orang yang pelit mengucapkan kata Terima kasih."
"Baiklah Terima kasih Tuan yang mesum atas pertolongan Anda" ucap Lara menangkup kedua tangannya di depan dada sambil memberi hormat dengan senyuman yang melebar tertentu nya.
"Kau apa kau ingin mengejekku?"
__ADS_1
"Siapa yang mengejekmu? aku tidak merasa aku mengejekmu, kau saja yang gampang menjadi perasa."
"Kau__"
"Sebaiknya sekarang kau pergi mandi Aku mau ganti baju dulu," ucap Lara sambil melempar handuk yang dipakainya dan tepat mengenai mengenai wajah Daranda, Darandra mengerang kesal karena sikap kekurang ajaran wanita itu.
"Kau__"
Glek.
Dengan susah payah Darandra menelan salivanya saat wanita gila itu Lagi-lagi seenaknya saja polos di depannya, tanpa memakai sehelai benang pun.
"Ck, Kau… Apa kau sengaja melakukan ini di depanku?" kesalnya memalingkan wajah. "Kenapa kau bertanya seperti itu? siapa juga yang sengaja, kau jangan munafik, bukankah kita sudah sama-sama merasakannya, lagi pula kau sudah melihatnya, aku pun juga sudah melihatnya jadi untuk apa aku menutupi nya" Ucap Lara santai lalu memakai pakaiannya satu persatu.
"Kalau kau tidak suka melihatku kenapa kau masih berdiri disini, bukankah aku menyuruh mu untuk segera mandi? atau jangan-jangan kau yang sengaja membuang muka" ucap Lara berjalan mendekati Darandra lalu berdiri tepat di depannya.
"Dasar wanita gila" umpat Darandra.
Sedangkan Lara tersenyum puas melihat kekesalan di wajah laki-laki itu, ntah mengapa hati kecilnya merasa dekat dengan Darandra dan ia begitu bahagia jika melihat wajah Darandra yang kesal.
"Oh ya Tuhan apa yang terjadi denganku? aku tidak sedang menuju kegilaankan gara-gara hampir di lecehkan lelaki mesum itu? eh bukankah memang dia melecehkan ku bukan hampir…" ralatnya menjeda kalimatnya."Dan…haaah… kenapa aku juga ikut menikmati nya? haaaah!" jerit Lara memukul-mukul kepalanya di saat mengingat kembali kejadian panasnya bersama Darandra tadi.
*
Setelah selesai dan rapi memakai pakaiannya Darandra pun keluar hendak menemui si kembar, ia merasa beruntung tidak bertemu dengan wanita gila itu, karena sudah cukup kesabarannya di uji hari ini.
"Kau…? sedang apa kau di sini Bukankah aku menyuruhmu segera pergi dari rumahku!" Kesal Darandra saat melihat wanita gila itu duduk dengan santai di meja makannya.
"Apa kau tidak lihat aku sedang makan, Aku lapar sekali jadi aku menyuruh pelayanmu menunjukkan dapur untukku, lagi pula aku hanya makan ini doang kok, dan itu tidak akan membuatmu jatuh miskin atau kekurangan makanan kan? tapi kalau kau tidak ikhlas aku akan menggantinya dengan uangku"
__ADS_1
Mendengar ucapan wanita gila itu Darandra Hanya bisa menarik nafas dengan kelakuan wanita tersebut.
"Tidak usah kau makanlah setelah itu cepat pergi dari sini!" usirnya, namun Lara tidak mempedulikan kata-kata Darandra karena dia begitu lahapnya menyantap makanan yang ada di depannya itu membuat jiwa kepo Darandra berontak.
"Memangnya apa yang kau makan?" tanya Darandra sedikit kepo.
"Aku memasak bebek sambel ijo dan ini makanan Paforit ku selain Bubur ayam."
Deg.
"Daddy… Daddy…" teriak kedua anak kembarnya yang tiba-tiba saja muncul berlarian mendekati nya. Lara yang lagi serius makan pun menghentikan siapanya saat mendengar suara lucu kedua balita tersebut.
"Hai sayang anak Daddy, Daddy kangen sama kalian," ucap Darandra berjongkok merentang kan tangan ingin memeluk kedua nya.
"Mamy,…? Mamy…? Daddy ini benal-benal Mamy kan Dad?" tanya Steven menatap sambil menunjuk Lara.
"Iya Kakak itu Mamy kita kan?" mengetahui dirinya yang ditunjuk dan dipanggil Mamy membuat Lara tersedak.
"Kalau kau yang menganggap aku istrimu tidak apa-apa kau kan sudah dewasa dan tau wajahnya, tapi kenapa mereka mengenalku mereka itu kan masih anak kecil, sedang aku lihat di rumahmu ini tak ada satupun foto istrimu bahkan foto pernikahanmu,
Bagaimana cara mereka mengenaliku?"
"Kau salah, aku menyimpan sebuah video yang aku ambil secara diam-diam di saat aku sedang bersama istriku terakhir kalinya, dan semenjak lahir aku akan memperlihatkan aku memperlihatkan video itu, setidaknya mereka mengenal wajah ibu yang melahirkan mereka, wajahmu memang sangat mirip bagai Pinang dibelah dua tapi sayang sifat kalian berbeda, jika Amara mempunyai sifat pemalu dan berbicara lemah lembut, sedangkan kau_" Darandra menjeda kalimatnya saat mendapat tatapan tajam dari Lara.
"Jadi kau mau berkata aku kasar dan__"
"Pelankan suaramu di depan anak-anak! Aku tidak suka anak-anakku melihat perdebatan dan pertengkaran, karena aku membesarkan mereka penuh cinta dan kasih sayang bukan dengan kebencian!" ucap darandra menjeda kalimat Lara dengan pelan tapi penuh penekanan.
"Kenapa kalian masih diam di situ kemarilah Panggil Daranda pada kedua Putri putranya itu, tapi bukannya datang mendekati Darandra mereka malah mendekati Lara.
__ADS_1
"Mamy, Mamy Cudah datang, Kenapa Mamy tidak bilang-bilang Kalau Mami datang kami kan bica menjemput Mamy," celoteh kedua anak tersebut secara bersamaan, Lara yang merasa gemes melihat mereka berdua pun berjongkok untuk mendekatinya Lara pun tanpa banyak berkata memeluk keduanya dan Entah Mengapa tiba-tiba saja ia meneteskan air mata.
'lni tidak mungkin kalian, tidak mungkin kalian' lirihnya Hampir tak terdengar.