
Pikiran Darandra kini menerawang, ia lalu memilih segera bangkit dari ranjang tersebut, melangkah membuka kulkas yang ada di kamar itu, lalu mencari minuman yang telah diracik oleh istrinya sendiri, setelah memanaskannya kembali ia pun lalu meminumnya sampai tandas.
'Lumayanlah, membuat Badanku terasa segar kembali, dan kepalaku sudah tidak pusing lagi,' Gumamnya.
'Ternyata kau hebat juga Amara, tapi sayang kenapa kau pulang terlebih dahulu Bukankah aku mengajakmu ke sini agar kau tidak bertemu lagi dengan lelaki itu, tapi kenapa kau memilih pulang,? apa kau tak sabar untuk menungguku hanya sejenak saja, apa ini gara-gara aku pernah mengatakan harus hidup sendiri-sendiri dan mengurus urusan masing-masing sekarang Aku terjebak dengan kata-kataku sendiri, sial, ini semua juga gara-gara Thomas yang membuat aku mabuk,' geramnya mengingat temannya itu terus saja menuangkannya minuman.
Darandra memilih keluar untuk menghilangkan kepenatan pikirannya namun baru saja ia Ingin menutup pintu tiba-tiba ia melihat Thomas yang sedang duduk sendiri seperti orang bodoh.
"Hai Kau, sedang apa kau di sini,? dan ada apa dengan wajahmu itu penuh dengan cakaran,?" tanya Darandra menatap heran dengan sahabatnya yang beberapa saat yang lalu baik-baik saja namun kini wajahnya sudah hancur berantakan.
"Kau tahu semua ini gara-gara wanita itu, setelah aku minum aku memilih masuk di kamar dia membanting semua barang-barang Dan Hampir saja Membunuhku, Beruntung aku bisa kabur, aku juga menyalahkan diriku kenapa aku sangat mencintainya kalau tidak akan kubalas dia, dan lihatlah Apa yang dilakukan pada wajah tampanku ini bahkan malam ini dia menyuruhku tidur di luar aku tak bisa menikmati aroma tubuh Istriku itu,'' Thomas Pun Menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Kau itu lucu sekali, seperti anak kecil saja, yang tidak bisa terlepas dari dekapan lbunya, bahkan kau sampai menangis seperti ini," ujar dan Rendra dengan senyum mengejeknya.
"Hai Kau jangan mengejekku! kau sendiri kenapa keluar? dimana istrimu itu? Apa kau juga diusir karena mabuk,? sama saja nasib kita sial," ujarnya lalu melanjutkan tangisnya yang terjeda, membuat Darandra ingin tertawa geli melihat kelakuan sahabatnya yang tak pernah berubah over itu.
"Aku tidak sepertimu, hanya saja Istriku itu memilih pulang lebih dahulu," terang Darandra
"ltu sama saja, karena dia tak kuat menemanimu, makanya dia memilih pulang meninggalkanmu, itu tandanya dia bukan wanita yang setia, coba kau lihat istriku meski ia marah tapi tetap saja dia di sini tanpa pergi meninggalkan ku,"
Deg.
"Kenapa kau sangat mencintai istrimu itu,?" tanya Darandra dengan wajah seriusnya. "Kenapa kau mempertanya pertanyaan bodoh seperti itu,?"
"Tentu saja aku mencintainya karena dia istriku, mana mungkin aku mencintai istri orang lain,"
__ADS_1
Deg.
"Kalau kalau kau mencintai istrimu pasti kau juga sekarang tidak akan berada di sini, kau akan menyusulnya kembali ke rumah, iya kan? contohnya istriku walaupun dia bawel dan cerewet bahkan membuat wajahku sampai babak belur tapi aku itu sangat mencintainya, Bahkan aku rela mengorbankan nyawaku untuk Istriku itu,"
"Lalu untuk apa Semalam kau mengajakku minum dan mabuk,?"
"ltu aku hanya iseng saja, Aku kira dengan mabuk bisa melupakan dirinya sesaat saja, namun ternyata Aku sangat merindukannya," "Kau itu terlalu lebay sekali, apa seperti itu mencintai seseorang,?"
"Bukan lebay tapi itulah cinta, kau akan marah jika melihatnya bersama orang lain, kau akan merasa kesal jika dia mengabaikanmu, dan kau akan merindukannya jika tak melihatnya, Sepertinya kau tidak mencintai istrimu,? makanya kau berucap seperti itu,"
Thomas menatap Darandra dengan mendelikkan matanya.
"Hati-hati Bung, jika suatu saat kau kehilangan cinta istrimu, maka jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, jika cinta sudah hilang darinya, maka akan susah untuk kau mendapatkannya kembali, tidak akan mudah untuk menyentuh hati seorang wanita jika dia sudah terluka, hati wanita itu ibarat kaca jika kaca retak mungkin kau bisa menambalnya kembali namun tetap saja dia Membekas meninggalkan goresan retak begitupun dengan hati seorang wanita, walaupun kau menyembuhkan luka itu, tetap saja luka itu akan Membekas sampai kapanpun, jadi Aku sarankan untukmu sebaiknya jangan pernah membuat istrimu kecewa, jika tidak ada cinta di hatimu untuknya, Kenapa kau tidak merelakannya,? dan melepaskannya saja, Jangan pernah membangun sebuah hubungan karena keterpaksaan, apa lagi hubungan yang di awali dengan penuh kebencian,"
Namun yang tidak habis ia mengerti dan membuatnya bingung adalah tentang perasaannya kepada Amara, di sisi lain ia akan marah jika melihatnya Amara bersama orang lain, namun di sisi lain, perasaannya kepada Tasya belum sepenuhnya menghilang.
"Maaf kan aku Amara, jika aku belum mempunyai perasaan yang utuh padamu, dan aku berharap kau sabar hingga waktunya tiba,mungkin suatu saat aku akan belajar seutuhnya, atau tidak sama sekali"
Gumamnya hanya dalam hati.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu aku akan menemui istriku," ujarnya lalu meninggalkan Thomas begitu saja.
"Temani aku malam ini sampai pagi..."
"Ogah, lebih baik aku menikmati momen bersama istriku, yaitu memeluknya sampai pagi," setelah berucap Darandra pun tertawa terbahak-bahak melihat Thomas yang akan menikmati malam dinginnya sendirian.
__ADS_1
*
"Sya,, Ayolah ini sudah tengah malam makanlah sesuatu, aku takut Asam lambung mu nanti kambuh," ujar Jhony yang dari tadi siang terus saja membujuk istrinya itu.
"Sudah berapa kali aku mengatakan aku dan Amara hanya berteman baik, tak lebih, aku minta maaf jika perbuatanku salah tapi aku mohon makanlah sesuatu sayang,"
Tasya yang sejak tadi bergeming bahkan memutuskan untuk tidak berbicara kini menatap Jhony saat memanggilnya dengan kata sayang, kata-kata yang dulu sering dia ucapkan namun tak pernah terucap sekalipun dari mulut Jhony.
"Apa kau sungguh sangat mencintaiku,?'' tanya Tasya pada akhirnya.
Mendengar sang wanitanya yang sudah mulai ingin mengajaknya berbicara membuat Jhony begitu berbahagia, apa lagi saat Tasya bertanya tentang perasaannya.
"Hei...lihat aku, aku bukanlah Jhony yang dulu yang sering mengabaikan perasaanmu, sekarang ini aku Jhony suamimu, apa kau lupa aku memintamu untuk memberikan aku kesempatan untuk membuatmu bahagia selama enam bulan,"
"Dan belum enam jam kau sudah mengecewakanku!" ketus Tasya.
"Aku hanya meminta Amara untuk melupakan Darandra, dan melepasnya untukmu apa itu salah? jika aku melakukan semua itu agar kalian bisa bersatu lagi," terang Jhony membuat Tasya membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja di dengrnya itu, sementara itu di luar Villa pribadi milik Jhony nampak hujan mulai turun perlahan, Jhony memang sengaja membawa Tasya ke Villa miliknya karena ia tidak ingin Omanya bakalan curiga dan di tanya macam-macam.
"Untuk apa kau melakukan semua itu,?"
"Karena aku tau kau tidak akan pernah bahagia denganku, kau hanya akan bahagia jika bersama orang yang kau cintai,"
"Apa kau sangat mencintaiku,?"
Kenapa kau menanyakan sesuatu yang sudah kau tahu jawabannya, hal itu tidak usah kau ragukan lagi," ucap Jhony sambil menyentuh wajah istrinya yang semakin hari semakin cantik dalam pandangannya itu.
__ADS_1