
selesai berbenah Amara pun segera menuju kamar mandi yang berada di kamar nya, dan segera menyegarkan diri.
15 menit di dalam kamar mandi la pun keluar dengan balutan handuk yang di jadikan kemben karena buru-buru ia lupa membawa baju ganti.
Setelah berpakaian cukup rapi la pun segera sholat Karena Azhan magrib sudah usai di kumandangkan.
Amara terus menunggu dengan perasaan tak menentu hingga waktu menunjukkan pukul 22:00 Darandra tak menampakkan diri, padahal la ingin makan malam bersama,suaminya itu, hingga la pun memutuskan untuk membuka mushab Alqu'an dan mulai membacanya Ayat demi ayat.
Tok...tok...tok...
Mendengar suara pintu yang di ketuk Amara pun segera melipat sejadah dan mukenahnya, juga menutup mushab yang berada di tangan nya itu, dan kini ia berjalan menuju pintu yang Sudah terbuka, karena memang pintu tidak di kunci nya, dan suasana itu mampu membuat jantung Amara berdegup begitu kencang.
Ia melangkah menuju pintu untuk menyambut orang yang selama satu bulan ini tak bertemu dan bertatap muka, bahkan mendengar suaranya pun tidak sama sekali.
"Kak Andra kau__" kalimatnya terjeda saat melihat Darandra tidak pulang sendiri, Tapi ia merangkul seorang wanita yang begitu cantik, bahkan ia menggenggam tangannya begitu mesra.
"Amara kau,? Apa kau belum tidur,? tidak lihat ini sudah jam berapa mendengar kata-kata datar dan tatapan tajam dari suaminya itu membuat Amara hanya bisa mematung di depan pintu.
"Kenapa kau diam saja tak menjawab pertanyaanku Amara,? Apa kau sudah mulai tuli atau kau sudah bisu,?"
"Aku belum mengantuk dan aku juga sedang menunggumu pulang." Ucapnya Hampir tak terdengar.
"Baiklah sekarang masuklah tidur, Aku tidak ingin melihatmu lagi tidur telat karena kau tahu itu tidak baik untuk kesehatanmu," Perintahnya melangkah masuk membawa wanita yang bersamanya tadi.
"Andra sayang Siapa wanita ini,? jangan bilang kalau dia itu kekasihmu atau dia itu adalah__?"
"Dengarkan aku sayang, lihat aku. Aku Dan Dia, Maksudku apa kau tidak mendengar tadi kalau dia itu memanggilku Kakak, dia itu sebenarnya__"
"Aku adalah pembantunya Mbak, Mbak ini siapanya Kak Andra?"
"Perkenalkan Aku adalah istrinya, dan aku sekarang sedang mengandung anak kami, ingat kau tidak boleh terlalu dekat dengan suamiku, apalagi sampai harus memanggilnya dengan sebutan kakak aku tidak suka itu, sekarang Kau Pergilah tidur Biarkan kami menikmati masa kami berdua, lya kan sayang,?" Darandra hanya tersenyum kaku menanggapi ucapan, Catherine.
__ADS_1
"Baiklah Saya permisi dulu Nyonya, Tuan," ucap Amara datar menatap tajam ke arah Darandra, la pun memilih pergi meninggalkan Darandra dan wanita yang mengaku menjadi istrinya tersebut.
Amara tak habis fikir drama apa lagi yang akan terjadi dengan Rumah Tangganya, Niat hati yang semula ingin memperbaiki semuanya kini pupus sudah, harapan yang kini jauh panggang dari api, karena untuk kesekian kalinya hatinya harus terluka, dan di sayat lagi.
"Amara kini menutup kamarnya rapat-rapat, Ia pun menyandarkan tubuhnya di balik pintu, membayangkan nasip yang di terimanya.
Kini isakan tangisnya mulai terdengar begitu pilu dan menyayat hati, yang jelasnya kini hanya lewat media air mata la bisa meluahkan, segala lara, luka, kecewa, dan seksanya.
'Entah nasib apa lagi yang sedang mempermainkanku, aku berpikir semuanya baik-baik saja, tapi ternyata kau sudah berubah dan benar-benar berubah Sejak kapan kau mencintai wanita itu,? Sejak kapan kau menikahinya,? Kenapa tiba-tiba kau membawanya dalam keadaan Dia sedang hamil? apa lagi Aku sekarang sudah mengandung buah hati kita, bagaimana caranya aku memberitahumu semuanya,? semakin aku mendekat, aku rasa engkau semakin menjauh, mungkin sebaiknya aku Tak pernah hadir di sisimu lagi, aku yang salah, aku salah telah membangun harapan ku padamu,'
Amara pun luruh terduduk dilantai dalam tangis pilunya ia pun terus sesenggukan, ntaah sudah berapa lama ia dalam isakannya itu hingga ia merasa lapar dan mengantuk.
"Apa kau sedang lapar sayang,? maafkan Mama ya sayang kalau Mama melupakanmu, Baiklah sekarang ayo kita keluar cari makanan dulu," ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata itu.
Amara pun bangkit dari tempatnya untuk ke dapur mencari makanan, ternyata akibat banyak menangis membuatnya lupa kalau dia sedang hamil, dan dia juga lupa kalau dia belum makan.
Namun baru saja ia bangkit berdiri dan ingin membuka pintu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok...tok...tok...
Siapa yang mengetuk pintu nya bukankah tadi dia tidak mendengar suara langkah kaki siapapun.
Lama Amara terdiam hingga suara ketukan pintu kembali terdengar.
Tok...tok...tok...
"Amara buka pintunya,! aku tahu kau belum tidur,!" teriak Darandra dari luar.
Deg.
"Kak Andara...Untuk apa la kemari,? bukankah la harus menemani wanitanya itu*.?"
__ADS_1
Gumamnya dalam hati.
"Amara kalau kau tidak membukanya aku akan mendobrak pintunya.!" Ancam Darandra.
Ceklek.
"Amara kau,! kenapa kau lama sekali membukanya,?" kesal Darandra menatap sengit.
"Untuk apa kau datang kemari, bukankah kau seharusnya ump__" Amara tak bisa melanjutkan kata-kata nya karena Darandra langsung membungkam mulutnya dengan sebuah ******* yang begitu menuntut.
Amara mendorong tubuh Darandra saat dirinya merasa kehabisan nafas.
"Apa kau sengaja ingin membunuhku,!" kesal Amara, namun Darandra tak menggubrisnya, Darandra berbalik menutup pintu lalu menguncinya rapat-rapat.
Dan kini la kembali berbalik menatap Amara yang terlihat lebih tembem dan itu membuatnya ingin menyentuh wanita yang dirindukannya selama satu bulan ini.
Amara yang melihat tatapan suaminya yang penuh hasrat itu kini berjalan mundur.
Bugh.
Tiba-Tiba saja tubuhnya membertur dinding membuatnya tidak bisa lagi melepaskan diri dari Darandra yang kini menyentuh dagunya.
"Lihat Aku apa kau habis menangis,? Kau seharusnya tidak perlu menangis, karena sebentar lagi kita akan mempunyai anak, meski dia tidak terlahir dari rahimmu, Aku dan Chaterine akan menikah setelah Anak kami lahir, tapi kau jangan khawatir aku tidak akan pernah menceraikanmu, Aku akan mendaftarkan pernikahan kita Agar kau jadi istri Sah ku tapi dengan syarat kau juga harus menerima Chaterine dengan baik, apa lagi kandungannya begitu lemah kau harus bisa merawatnya dengan benar, dan sekarang lakukan tugasmu sebagai lstri aku merindukan desa..han mu sayang," ucap nya mulai ******* bibir yang sudah menjadi candunya itu.
"Lepaskan Aku,! kau anggap aku apa,? apa kau kira kau bisa berbuat semaumu padaku,!" kesal Amara mendorong tubuh lelakinya itu, namun apa yang ia lakukan justru membangkitkan sisi liar yang dimiliki Darandra.
"Jangan pernah menolakku Amara atau kau akan__"
"Atau apa,? Mari kita bercerai saja."
Deg.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...