
"Kak,, dengarkan aku. Apa yang kau lihat bukanlah hal yang sebenarnya terjadi..." teriak
Amara memilih terus mengikuti langkah suaminya yang semakin cepat membawa Cathrine masuk ke dalam mobil karena ia tidak ingin Amara melakukan kesalahan lagi pada Cathrine.
"Kak,, tunggu Aku...aku mohon dengarkan penjelasanku," lirihnya mengiba, namun mobil yang di tumpangi Darandra kini melaju kencang meninggalkan Amara yang diam mematung dengan isak tangis yang tak berdaya.
"Kenapa semua jadi seperti ini,? apa yang ingin aku katakan padamu, kau tak pernah ingin mendengarnya." Lirih Amara meratap pilu.
Lama ia terdiam terpaku di pinggir jalan, sambil terisak, hingga sebuah mobil sport berhenti di depannya, seorang laki-laki bertubuh atletis keluar dari dalam mobil tersebut, menarik tangannya dan membawanya masuk kedalam mobil.
Amara belum menyadari semua apa yang di lakukan di lelaki tersebut hingga membawanya masuk ke dalam mobil pun ia benar-benar tak menyadarinya.
"Apa kau akan terus menangis seperti ini? menangis demi lelaki yang selalu meninggalkanmu dengan perempuan lain, sadarlah Amara. Dan Darandra itu tidak pernah mencintaimu, jika dia mencintai mu dia tidak akan pernah membuat hatimu terluka dan menangis seperti ini, Berhentilah bersikap masa bodoh, Apa yang akan kau harapkan dari sebuah hubungan cinta yang bertepuk sebelah tangan? Kau hanya akan mendapatkan rasa sakit, Aku tau kau sudah mengorbankan segalanya untuk Darandra, Tapi apa pernah Darandra menyadari nya,? Aku rasa tidak! Dan kau lagi-lagi bersikap masa bodoh. Apa kau tahu Amara kita itu bisa mencintai meski tanpa harus memiliki raganya, karena cinta itu bukanlah sebuah keharusan yang berubahnya menjadi seperti keegoisan." Jhony menjeda kalimatnya menatap wanita yang dulu begitu manja bahkan bisa di bilang bersikap sesuka hati kini begitu rapuh hanya karena sebuah cinta.
"Sampai kapan kau akan merasakan sakit yang selama ini terus kau tahan sendiri, tanpa pernah Darandra peduli, Arti Kehadiranmu selama ini di dalam hidupnya. Berhentilah untuk meratapi semuanya Amara! kau harus bisa Bangkit dari keterpurukan kau masih muda Kau Berhak untuk bahagia tapi bukan dengan lelaki yang selalu membuatmu terluka berkali-kali. "
"J-Jhony...! S-sejak kapan kau berada d-di sini? dan aku berada di mana?" Amara begitu terkejut saat menyadari dirinya berada di dalam sebuah mobil yang sedang melaju dan ternyata mobil itu adalah mobil milik sahabatnya sendiri yaitu Jhony, Amara memang tak menyadari kalau dirinya dibawa masuk ke dalam mobil milik Jhony, karena yang ada di dalam pikirannya adalah Kata-kata dari Andra yang mengajaknya untuk berpisah.
"Hah...kau baru sadar kalau dirimu itu berada di mana,? tapi syukurlah kau masih mengingatku." Ucap Jhony sambil menarik nafas panjang.
"Kau tidak lagi hilang ingatan lagi kan,? itu tandanya kau masih berada di dunia nyata, " ucap Jhony sambil terkekeh membuat Amara seketika melotot dan menghentikan isak tangis nya.
"Dasar bodoh. Tentu saja tidak, kalau aku hilang ingatan Mana mungkin aku mau mengingatmu,!" ketusnya dengan wajah ditekuk, sedang Jhony hanya bisa geleng-geleng kepala, sambil tersenyum.
"Sekarang kau ke mana aku akan mengantarmu kemanapun kau ingin pergi."
"Apa kau yakin ingin mengantarku,? dan Tasya__?"
__ADS_1
"Kau jangan khawatir tentang Tasya dia itu istriku, aku lebih mengenalnya daripada dirimu, dia tidak akan cemburu hanya sekedar dengan mengantarmu, apa lagi kesalah fahaman di antara kami sudah berakhir." Amara hanya terdiam mendengar apa yang di katakan Jhony kadang la berfikir, andaikan Darandra bisa bersikap seperti Jhony, namun seketika itu ia pun tersadar kalau ia tidak boleh berandai-andai karena itu sama saja ia menolak takdir.
"Kenapa kau diam saja,?" tanya Jhony kembali.
"Maafkan aku tidak seharusnya aku__"
"Baiklah kalau begitu bawa aku ke tepi pantai di mana kau pernah mengajakku dulu." Selanya Amara menjeda kalimat Jhony di saat tersadar dari lamunannya.
"Oke baiklah, siapa takut, Aku akan membawamu ke sana tapi apa kau tidak apa-apa ini siang bolong loh, pasti panas." Ucap Jhony menyeringai.
"Dan kau tahu, saat ini hatiku jauh lebih panas." Sela Amara.
*
*
"Cathrine... Hati-hati aku akan menjelaskan semuanya kepadamu Cathrine...tapi aku mohon berhentilah..." Bukannya berhenti tapi Cathrine menambah kecepatan langkahnya, hingga tiba-tiba saja ia berhenti sambil memegangi perutnya sambil meringis.
"Akh...ssth perutku Akh...sakit." Ringisnya dan hampir saja terkulai jatuh ke tanah beruntung dengan sigap Darandra menangkap tubuhnya, Darandra pun akhirnya membawa Catrine kembali kedalam mobilnya, Karena tujuannya sekarang adalah rumah sakit.
"Bagaimana keadaan nya Dokter?" tanya Darandra pada sang dokter yang baru saja keluar dari ruangan di mana Cathrine sedang di periksa, Sang dokter pun menatap Darandra yang di sertai sebuah senyuman.
"Anda tidak perlu khawatir dia hanya merasakan keram di perutnya saja, dan semuanya baik-baik saja." Terang sang dokter.
"Jadi kapan saya boleh membawanya pulang, ?" tanyanya lagi.
"Setelah pasien sadar Anda boleh membawanya pulang, Anda harus menyuruhnya beristirahat total di rumah selama beberapa hari." Ucap sang Dokter, lalu ia pun pamit untuk pergi dari hadapan Darandra.
__ADS_1
Sedang Darandra memilih duduk sebentar di luar ruangan, untuk menjernih sedikit hati dan gilirannya.
"Amara...aku tidak menyangka kalau kau akan setega itu pada Cathrine, apa rasa cintamu padaku membuatmu berubah seperti ini Amara,? bukankah sebelumnya aku sudah berkata jujur padamu tak ada yang perlu kau khawatir kan tentang ku, tapi kenapa kau mengambil tindakan yang akan mencelakai Catrine dan anak yang dikandungnya."
Dan bukan itu saja Rendra terus memikirkan kata-kata yang sempat diucapkannya tadi pada Amara.
'Sebaiknya aku masuk untuk menemui Catherine sebelum ia sadarkan diri dan mencariku.' Gumamnya pada diri sendiri, Lalu la pun melangkah masuk ke dalam ruangan di mana Catherine sedang dirawat. Dan benar saja begitu ia tiba di dalam ruangan Catherine pun langsung melenguh sambil sesekali mengerjap- ngerjap kan kedua matanya.
"Aku di mana? kenapa, Kenapa kepalaku pun terasa sangat sakit." Rintihnya dan itu di lihat oleh Darandra.
"Bagaimana Sayang apakah sudah tidak apa-apa,?" tanya Daranda.
"Berhentilah memanggilku sayang karena aku bukanlah istrimu." Ketusnya membuat Darandra seketika terdiam.
"Sebaiknya kau katakan kata-kata itu untuk Amara istrimu, Dan satu hal lagi aku minta padamu jangan pernah kau menceraikan Amara Apapun alasannya, dan apapun yang terjadi." Sejenak Chatrine terdiam
"Apa kau tahu Daranda aku itu pernah sangat mencintaimu, dari dulu ketika kita masih sama bersekolah aku tak pernah bisa mencintai laki-laki lain selain dirimu hingga aku menyadari bahwa kau bukanlah jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku."
"Apa maksudmu Catherine? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan aku akan menjelaskan semuanya kepadamu tentang hubunganku denganAmara,"
"Tak perlu kau menjelaskannya karena aku sudah mengetahui kalau kalian adalah sepasang suami istri tapi kenapa kau__" Cathrine menjeda ucapannya sendiri.
"Sudahlah kita tak perlu membahasnya sebaiknya sekarang kau pergi, karena aku ingin beristirahat sejenak."
"Baiklah, kalau begitu beristirahatlah dulu jika pikiranmu sudah kembali tenang baru kita bicarakan ini baik-baik."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1