
Susan sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan dokter tentang keadaan Amara Ia pun kembali mengingat pesan Amara beberapa waktu yang lalu.
"Berjanjilah padaku, jika terjadi sesuatu padaku maka selamatkan kedua anak ini, Aku harap kau bisa membawanya kembali ke Indonesia lalu berikanlah ini kepada Darandra dan kau jangan mengatakan apapun padanya. Jangan katakan apapun tentangku, dan di mana Aku selama ini, apa kau mengerti,?"
"Iya saya mengerti Nona, Saya akan melakukan semua apa yang anda katakan"
"Kau jangan lupa memberikan bayi ini kepada kedua mertuaku, aku yakin mereka akan bahagia bersamanya."
"Baiklah Nona," itulah pesan Amara terakhir kalinya pada Susan yang selalu setia mendampinginya selama beberapa bulan. keadaan Amara memang dinyatakan tiba-tiba melemah karena Dokter mengatakan kalau dia terlalu banyak fikiran.
"Jadi untuk beberapa hari kedepannya dia harus dirawat di rumah sakit ini, karena kita akan mengontrol kandungan sebelum kita melakukan operasi" terang sang Dokter kembali.
"Apakah boleh saya bertemu dengan Nyonya saya sekarang dokter?" tanya Susan kepada dokter Amed. "Tentu saja Anda boleh menemuinya, karena dengan menemuinya Anda juga bisa memberikan nya semangat," ujar dokter Ahmed.
"Terima kasih Dokter, terima kasih karena dokter sudah sejauh ini melakukan hal yang terbaik untuk Nyonya saya, setelah ini mungkin saya juga akan mengabari mertua Nyonya saya agar beliau mengetahui keadaan Nyonya saya yang sebenarnya." dan kini Susan pun masuk ke dalam ruangan di mana Amara sedang terbaring dengan berbagai macam alat yang sudah menempel pada tubuh ringkihnya itu.
"Nona Bagaimana kabar Nona saat ini apa yang Nona rasakan?" tanya Susan saat diri nya masuk untuk melihat keadaan Amara yang terlihat begitu lemah tak berdaya.
"Jangan lupa akan pesanku padamu aku ingin mertua ku merawat mereka dengan baik," Amara mengelus perutnya yang semakin membuncit.
"Tentu Nona, saya akan membawa mereka pulang bersama-sama tentu saja bersama dengan Anda juga Nona," Amara hanya tersenyum sendu saat itu, la pun menarik nafas dengan berat.
"Aku akan menjalani operasi di bagian otak yang akan membuat seluruh memori ingatan ku menghilang, aku tidak ingin kedua anakku menderita karena aku tak mengingat mereka dan aku juga tidak ingin kedua anakku di asuh orang lain, akan lebih baik mereka di besarkan oleh keluarga nya sendiri, setidaknya Dad Anthony dan Mom Cleo ada untuk mereka."
__ADS_1
"Nona apakah Anda baik-baik saja,? atau Anda merasakan sesuatu yang sakit biar saya akan memanggilkan dokter?" Ujar Susan.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya merindukan keluargaku di saat seperti ini, Aku sangat merindukan mereka," Ucap Amara yang mulai meneteskan air matanya.
"Saya mengerti perasaan Anda Nona tapi sebaiknya Anda jangan terus berfikir yang terlalu berat karena kasihan dedek bayi nya nanti bisa stress." Mendengar ucapan Susan Amara pun mengusap sudut matanya.
"Apakah kau tidak merindukan keluargamu,?" tanya Amara menatap Susan.
"Semua orang pasti merindukan keluarganya Nona, begitupun dengan diri saya, yang selalu merindukan mereka, Namun di dunia ini saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa saya rindukan Nona, jadi Saya tidak merindukan siapa-siapa, kedua orang tua saya sudah dibantai dengan kejam Ketika saya masih kecil." Terang Susan panjang lebar, membuat Amara merasa serba salah, kerena secara tidak langsung ia sudah membuka kembali luka lama yang di alami Susan.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuat mu mengingat kembali kejadian itu, Dan aku turut prihatin padamu,"
"Tidak apa-apa Nona, Anda tidak perlu meminta maaf, ini semua sudah kenyataan takdir yang harus saya jalani." Ucap Susan dengan suara tegarnya meski di dalam hatinya ia menyimpan dendam yang membara untuk pembunuh kedua orang tuanya. Dan dia bersumpah akan menghancurkan keluarga itu, meski ia juga akan berakhir di penjara, dia tidak peduli yang penting bagi dirinya dendam kedua orang tua nya terlunaskan.
"Kau benar sekali, kita hanya bisa menjalaninya tanpa bisa berpaling dari kenyataan takdir yang menyeret kita, seperti aku saat ini, yang harus menjalani Takdirku. Takdir yang membawaku bersatu dengan orang yang Aku cintai walau Aku tahu pada akhirnya aku akan tersakiti, karena cintanya yang tak pernah bertepi di hati ini, dan takdir pula yang memisahkanku dari orang yang sangat aku cintai, meski aku sadari aku selalu di lukai, kau sendiri bagaimana Apakah kau pernah mencintai seseorang begitu dalam,?"
"Cinta…? Heh…Sepertinya kata-kata itu hanya untuk orang-orang yang lemah,"
"Apa maksudmu?"
"Maafkan saya Nona, saya tidak bermaksud apa-apa, hanya saja Sekuat apapun kita dan setegar apapun kita jika berhadapan dengan yang namanya cinta pasti kita akan lemah." Terangnya.
"Tapi menurutku tidak semua cinta itu bisa membuat kita lemah ada banyak cinta yang mampu memberikan kita kekuatan dan aku berdoa semoga kau mendapat cinta seperti itu, cinta yang tidak akan pernah membuatmu terluka,"
__ADS_1
"Terima kasih atas doa Anda Nona, tapi saya bukanlah tipe wanita yang mudah jatuh cinta, lalu karena cinta itu kita harus rela menderita, di siksa, yang saya tahu Cinta itu hanya sebuah ungkapan bagi orang-orang yang takut kehilangan, Bahkan orang-orang mengartikan Cinta itu dengan Cerita lndah Namun Tiada Arti." Bukan tanpa alasan Susan berkata seperti itu, karena ia sudah banyak melihat siksaan dan pengorbanan wanita yang mengalah atas nama karena Cinta.
Sungguh ironi memang Orang-orang yang hanya mengatas namakan cinta hanya untuk menyiksa, dengan rasa yang fatamorgana.
"Setiap orang punya sudut pandang yang berbeda dalam menilai cinta itu, tapi aku sarankan kau harus belajar jatuh cinta dulu,"
Amara kembali menatap Susan begitu lekat nya.
"Lalu siapa dia?"
Deg.
"M-maksud Anda Nona,?" Ucap Susan mulai gugup.
"Kau pasti tahu apa maksudku?" sejenak mata Amara turun ke perut Susan.
"Karena kau tau Anakmu juga butuh Ayahnya jangan biarkan dia terlahir tanpa seorang Ayah." Sambung Amara kembali.
Deg.
"Tapi saya tidak akan membiarkan lelaki Brengsek itu tahu, tentang anak ini Nona karena di antara kami tidak ada apa-apa, Aku yang salah dalam hal ini, karena Aku yang memulai semuanya maka aku akan membuatnya segera berakhir."
"Terserah kau saja, semoga kau dan calon bayimu baik-baik saja, dan jangan lupa untuk jaga makan dan minum mu dengan baik."
__ADS_1
"Iya Nona, Terima kasih atas perhatian Anda,"
"Kau jangan sungkan padaku, kau sudah aku anggap seperti kakak ku sendiri, untuk itu Jika ada sesuatu kau tidak usah sungkan, padaku, karena hanya kaulah keluarga yang aku miliki saat ini."