
Dan Darandra baru tersadar dengan kesalahannya yang menyalahkan Amara bahkan mendorong wanita itu hingga terjatuh. Pada wanita itu tidak akan paham dengan makanan dan minuman yang boleh atau tidak boleh di makan oleh putra dan putrinya itu.
"Maafkan Aku, aku benar-benar tidak mengetahui semuanya, kau bahkan boleh melakukan apa pun padaku." Ucap Amara sendu dengan mata yang kini mulai berkaca-kaca. Saat melihat Darandra masih diam tak menyapanya.
"Anda boleh menengok putra Anda sekarang Tuan dan Nyonya karena Putra Anda sudah di pindah kan ke ruangan VIP." ucap seorang perawat.
"Baiklah Terima kasih." Darandra pun sekilas melirik ke arah Amara seolah memberi isyarat kalau Amara harus ikut dengannya. Amara yang mengerti pun mengikuti langkah kaki Danranda Sesampainya di kamar di mana Steven sedang dirawat.
Amara segera membaringkan tubuh Stevani di atas sofa yang berada di ruangan itu, lalu Ia pun segera mendekati Dararanda Yang kini sedang berada di samping Stevani yang sedang terbaring lemah dengan jarum infus di tangannya itu.
Entah mengapa melihat Stevani seperti itu hatinya seperti tercabik-cabik, air matanya pun Luruh mengalir deras membasahi pipi halusnya.
"Aku-aku m-minta maaf, Seharusnya aku__" Suara Amara terbata karena manahan isakannya, dan ucapan Amara terjeda di saat Darandra mengecup dengan lembut bibirnya.
"Kau tidak bersalah, kau tidak perlu meminta maaf. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Aku Yang Memulai kekacauan ini, Kau hanya tidak mengetahui karena aku yang tidak pernah memberitahukannya kepadamu, aku mohon.
Berhentilah untuk menangis karena aku tidak kuat melihat air matamu, sudah cukup aku membuatmu menangis di masa lalu, dan mulai sekarang aku pun membebaskanmu untuk memilih, kau memilihku atau memilih calon suamimu itu.
Aku hanya ingin melihatmu bahagia tanpa ada air mata kesedihan lagi, jika kau bertanya apakah aku mencintaimu aku sangat-sangat-sangat mencintaimu Amara, dari dulu, sekarang, bahkan hingga nanti, tapi aku tidak bisa memaksakan hatimu yang sekarang karena di hatimu sekarang sudah tidak ada lagi cinta untuk dan aku tidak ingin memaksakannya, jika itu membuatmu merasa tidak nyaman bersamaku.
Kau boleh pergi, dan menikah dengan orang yang kau cintai, jika Steven sudah sembuh maka aku akan segera mengurus surat perceraian kita."
Mendengar apa yang diucapkan Darandra Amara hanya bisa terdiam. Ia hanya fokus menatap wajah Darandra yang nampak masih kacau sejak pertama kali menjemputnya di Apartemen apa lagi saat melihat luka di sudut di sudut bibir lelaki itu.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Amara sambil menyentuh bibir Darandra yang membuatnya meringis kesakitan.
"Ssst ahk..."
"Maaf…" cicit Amara terkejut.
"Sudah tidak apa-apa, aku baik-baik saja kok, sebaiknya sekarang kau istirahat dulu aku sudah memesan tempat tidur untuk mu dan Vani, jadi kau boleh tidur bersamanya."
"Bagaimana aku bisa tidur jika Putraku belum bangun, apa kau kira aku seorang ibu yang bodoh? dengarkan aku, aku memang tidak mengingat bagaimana Aku bisa melupakan kalian, dan siapa aku, hanya saja perasaan ku sebagai wanita tidak bisa di bohongi apa lagi perasaan seseorang ibu, karena suatu saat aku juga akan menjadi seorang ibu juga kan?"
Mendengar apa yang dikatakan Amara Darandra hanya bisa mengangguk pelan.
"Oh,, iya… boleh aku bertanya? kenapa kau bisa terluka seperti ini,? dan kenapa kau bisa yakin kalau aku adalah istrimu? bukankah kau mengatakan kalau istrimu itu sudah meninggal? jika iya kenapa aku tidak mengingat kalian"
Cukup sudah aku merasa kehilanganmu selama kurang lebih tiga tahun ini. Dan dengan siapa pun kau hidup selama kau bahagia aku juga Akan merasa bahagia."
Darandra dengan berat hati mengucapkan kata-kata itu, meski hatinya terasa perih dan terluka Namun demi kebahagiaan Amara ia rela melakukannya, dan biarlah cerita kemarin kan menjadi kenangan terindah dalam hidup nya, kini ia sadar dengan memaksakan kehendaknya maka ia akan melukai Amara untuk yang kesekian kalinya.
Kini biarkanlah Amara hidup dengan fikiran barunya, cinta barunya dan juga pendamping hidup yang baru untuk nya, dia tidak akan terluka lagi.
"Katakan padaku siapa yang membuatmu seperti ini?" Tanya Amara kembali saat melihat beberapa memar di bagian wajahnya, bahkan kini ia pun memberanikandiri membuka kemeja Darandra dan betapa terkejutnya ia sampai-sampai Amara menutup mulut dengan kedua tangannya itu.
"Kau, siapa yang melakukan nya padamu?"
__ADS_1
"Tentu saja Calon suamimu itu. Namun aku sudah mengirimnya kerumah sakit, dan jika kau ingin menjenguknya kau boleh pergi bertemu dengan nya sekarang!" Usir Darandra.
"Apa…! jadi kau__?"
"Dia yang menyerangku terlebih dahulu,karena aku merampasmu darinya."
"Baiklah Aku pergi dulu, kabari aku jika Steven sudah bangun," Amara pun berlalu pergi begitu saja meninggalkan Darandra dan kedua Anaknya, Darandra merasa begitu sesak namun ia mencoba untuk kuat demi kedua anaknya.
'Apa sesakit ini kah rasamu yang pernah ku sakiti? dan cintamu yang pernah aku khianati? bagiku kau wanita yang betul-betul hebat, kau mampu bertahan di atas luka yang aku taburi garam, di mana aku rasa apakah aku mampu untuk melewati ini disaat aku tahu kenyataan bahwa kau masih ada namun tidak bisa kusentuh meski engkau itu nyata.
Bukan tanpa alasan ia meninggalkan Darandra sendiri ia hanya ingin memastikan bahwa lelaki yang kini sedang ia cintai dan tengah menjadi calon suaminya itu baik-baik saja. Karena bukan tidak mungkin kejadian ini akan merambat ke keluarga besarnya jika ia tidak bicara baik-baik dulu dengan Khalid, dan Amara tidak ingin terjadi apa-apa pada Darandra karena Darandra punya anak yang masih balita yang masih membutuhkannya.
Sesampainya di rumah sakit Amara langsung mencari dimana letak kamar perawatan Khalid, setelah seorang perawat mengantarkan nya ia pun segera masuk untuk menemui Khalid. Namun baru saja ia masuk tatapan tajam seorang wanita paruh baya seolah ingin menelanjanginya.
"Kau siapa? kenapa kau masuk ke kamar putraku? mendingan sang mama sedang membentak seseorang Khalid yang sedang tertidur pun membuka matanya.
"Lara…sayang benarkah ini kau Laraku?" tanyanya dengan kembali mengusap matanya seolah tak percaya jika Lara berada di depannya.
"I-iya sayang ini aku"Jawab Amara gugup dan mendekati Khalid. Namun tiba-tiba saja sebuah tangan menahan langkahnya untuk mendekat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan selamat buat kalian pemenang di bawah ini mendapatkan pulsa dari Author. 25 untuk juara satu 20 untuk juara dua 15 untuk juara 3 silahkan DM nomor kalian di ig author di ini👉 IG Chacha shyla Atau banatahmadbanat. secepatnya ya!
__ADS_1