Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part. 20


__ADS_3

"Selamat malam Om,!"


"Kau baru pulang rupanya, Kenapa kau pulang terlambat,? Bukankah aku menyuruhmu pulang tepat waktu? Apa pekerjaanmu sekarang itu jauh lebih penting daripada kesehatanmu itu,? Apa kau ingin mertuamu itu menggantung ku hidup-hidup,? aku sudah melakukan apa yang kau inginkan dan Dengarkanlah apa yang pernah menjadi syarat kau tinggal di sini jika kau tidak mengikuti apa yang pernah aku katakan maka sebaiknya kau angkat kaki dari rumah ini,!" ujar Dokter James panjang lebar.


"Kau kenapa sih Pah? Kenapa mengusir Lara,? apa Papa tak suka melihat Mama bahagia lagi,?" Tegur Nyonya Bianca yang tiba-tiba saja datang menyela..


"Mama...," kejut Amara dan juga Dokter James saat melihat kedatangan istrinya yang tiba-tiba itu.


"Berani kau mengusir Lara ku! Aku akan pergi meninggalkanmu sendiri di rumah ini,!" ancam Nyonya Bianca pada suaminya itu. "Sayang, Aku tidak akan mengusir Lara, aku hanya memberikannya ketegasan agar dia tahu apa yang harus dilakukan, apa kau tau kalau Lara itu sedang sakit, oleh karena itulah aku mengatakan hal tersebut apa kau mau putri kita ini kenapa-kenapa,?"


"Tentu saja tidak Pah, tapi apa benar kamu lagi sakit sayaang?" tanya Nyonya Bianca menatap lekat pada Putrinya itu, dokter James pun memberikan isyarat kepada Lara agar ia segera masuk ke kamarnya.


"Mah, anak kita sedang capek biarkan dia masuk," ujar dokter James kembali.


"Iya,, Mama, Papa Lara masuk dulu ya! Lara capek," pamit Amara masuk ke kamarnya lalu memilih segera membersihkan diri, Setelah membersihkan tubuhnya Amara pun segera berpakaian rapi namun tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing.


'Auhk...Kenapa Kepalaku jadi seperti ini kepalaku sakit sekali Apakah penyakitku Kambuh lagi,? perutku juga tiba-tiba terasa mual,' Amara berusaha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu sejenak Ia pun memejamkan matanya menghilangkan rasa pusing dan mual yang tiba-tiba datang menyerangnya.


'Kak, Andra aku merindukanmu, maafkan aku jika tak bisa bersamamu lagi,' lirihnya dengan berurai air mata.


'lni semua demi masa depanmu dan janji ku pada Dad Anthony dan juga Mami Cleo,'


Amara terus saja memikirkan Darandra dalam kerinduan yang semakin dalam, ia benar-benar merasa tersiksa dengan semuanya namun ia harus kuat demi kebahagiaannya yang ingin melihat suaminya itu sukses meski ia juga harus terikat sebuah perjanjian.


Karena terlalu lelah berfikir akhirnya Amara pun tertidur dengan air mata kerinduannya.


Pagi.

__ADS_1


''Uweek...Uweek...Uweek..." Amara terus saja memuntahkan segala isi perutnya hingga ia ia sendiri merasa lemas, ia terduduk di atas Closed' dan menyandarkan kepalanya di dinding kamar mandi.


"Lara...Lara...Kamu dimana Nak,?" teriakan Nyonya Bianca mengejutkannya namun ia merasa lemas dan tidak bertenaga untuk bangkit bahkan menyahut, dan tiba-tiba saja.


Bugh.


Nyonya Bianca yang mendengar suara sesuatu yang jatuh dari kamar mandi pun segera menuju kamar mandi yang berada di kamar Lara tersebut, lalu betapa terkejutnya ia di saat membuka pintu ia melihat tubuh Amara yang terkulai terbujur di atas lantai kamar mandi yang dingin.


"Pah...Papa...! tolong...! tolong...!" histerisnya menjerit minta tolong membuat para maid dan penjaga yang berada di luar pun berhamburan untuk masuk begitupun dengan dokter James.


"Ada apa sayang?" tanya dokter James begitu mendekat.


"Papa Lara Pah.. dia jatuh dan pingsannya," Adu Nyonya Bianca pada suaminya dengan suara tangis sudah mulai pecah dan kecemasan juga kekhawatiran yang tergambar begitu jelas di matanya.


para penjaga pun segera mengeluarkan tubuh Amara yang masih tak berdaya dari kamar mandi itu.


"Kalian boleh pergi Sekarang! biarkan istri saya yng menjaganya, Mama tunggu di sini ya,! Papa mau ambil peralatan medis Papa dulu," ujar dokter James yang hanya di jawab anggukan oleh istrinya itu, karena istrinya masih menangis tersedu-sedu.


Nyonya Bianca pun segera menggantikan pakaian putrinya yang sudah basah, lalu ia kembali menghujani wajah Amara dengan kecupan-kecupan kasih sayangnya,


Dan itu sempat di saksikan dokter James yang baru saja tiba.


"Sekarang biarkan aku memeriksanya sedikit," Nyonya Bianca pun bangkit berdiri memberikan tempat untuk suaminya itu memeriksa putrinya.


"Bagaimana Pah...apa Anak kita baik-baik saja,?" tanya Nyonya Bianca pada suaminya begitu selesai melakukan pemeriksaannya.


"Dia...dia hanya sedang hamil, untuk itu kau harus menjaga putrimu ini agar dia tidak banyak bekerja dan juga jangan biarkan dia terlalu banyak bergerak untuk sementara biarkan dia istirahat di atas tempat tidur saja, hingga ke adaannya benar-benar kuat, karena ini masih di awal ke hamilannya," ucap dokter James panjang lebar, sedangkan Nyonya Bianca masih saja terdiam mendengar pernyataan yang mengejutkan dari suaminya itu.

__ADS_1


Sebenarnya ia sangat terkejut dengan berita kehamilan Putrinya, namun yang lebih membuatnya terkejut lagi di saat suaminya dengan santai menyatakan kalau putri mereka itu sedang hamil, seolah tidak terjadi sesuatu pada putri mereka itu.


"Mah...kenapa Mama melamun,?" tanya dokter James pada akhirnya saat menyadari kediaman istrinya itu, sedangkan Nyonya Bianca menatap suaminya yang baru saja bertanya atas kediamannya itu.


"Apa Papa tidak marah,?" tanyanya pada akhirnya.


"Marah,? maksud Mama,?" dokter James mengerut kan alisnya mendengar pertanyaan yang terlontar dari istrinya setelah sekian lama dalam keterdiamannya itu.


"Iya, apa Papa tidak marah karena putri kita sedang hamil,? dan Papa tau kan putri kita itu belum bersuami,?"


Deg.


"Astaga kenapa aku jadi sebodoh ini?"


gumam dokter James namun dalam hati, akhirnya ia mengerti arti kediaman istrinya itu dan merutuki kebodohannya yang hampir saja lupa siapa Lara sebenarnya.


"Apa Mama fikir Papa tidak marah pada Putri kita ini,? Papa itu sangat marah, namun apa dengan amarah akan menyelesaikan masalah,?" mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya Nyonya Bianca merasa terharu, itulah yang membuatnya sangat mencintai suaminya itu, suami yang terlihat tegas namun mempunyai cara berpikir yang bijak.


"Sebaiknya setelah Lara sadar kita bicarakan semuanya dengan baik-baik Biar bagaimanapun anak yang ada di dalam kandungannya adalah calon cucu kita,"


"Iya,, Papa benar sekali, Sebentar lagi kita akan mempunyai seorang cucu Pah.. Tapi kasihan juga kalau lelaki yang menghamili Anak kita tidak ingin bertanggung jawab, Bagaimana nasib Cucu kita kedepannya,? bagaimana jika ia akan lahir tanpa seorang Ayah,?" ujar Nyonya Bianca menatap sedih.


"Mama tak perlu mengkhawatirkan masalah itu, dengan atau tidaknya lelaki itu bertanggung jawab, Kita sebagai orang tua harus memberikan perlindungan kepadanya, Bukankah dia masih mempunyai kita Kakek dan Neneknya,"


"Iya,,, Papa benar sekali, Terima kasih ya Pah," "Untuk apa Mama berterima kasih pada Papa,?"


"Karena Papa sudah menjadi suami terbaik buat Mama selama ini," Nyonya Bianca memeluk suaminya begitu erat, sedangkan dokter James membalasnya dengan mengelus rambut dan punggung istrinya itu begitu penuh cinta serta kasih sayang.

__ADS_1


''Papa juga berterima kasih pada Mama karena selama ini Mama telah mendampingi Papa dalam suka maupun duka," ucap dokter James menatap istrinya dengan tatapan penuh makna, Tak lama kemudian terdengar lenguhan dari Amara yang baru saja sadar dari pingsannya itu.


__ADS_2