Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 42


__ADS_3

"Kenapa kau diam saja,! bukankah aku sudah mengatakan nya padamu, atau sekarang kau mulai berubah tuli,?" Ucap Darandra kesal.


"A-aku__aku mau ke toilet perutku sakit," cicit Amara berlari kecil meninggalkan Darandra yang masih diam terpaku dengan wajah datar nya itu.


"Amara...kau__!" Darandra menggantung kalimatnya saat melihat gawainya bergetar.


"Hal..."


"Kau kemana saja,!? aku sudah mencoba menghubungimu beberapa kali tapi kau tak bisa di hubungi, kau tau, aku sangat takut sekali, karena ada seseorang membuntutiku, aku takut kalau dia akan melukaiku dan anakku." Ujar Caterine menjeda kalimat Darandra dengan suara yang bergetar ketakutan bahkan disertai isak tangis.


"Halo...halo...apa kau mendengarku!" teriaknya lagi dengan suara yang lebih kencang.


"Ah-Bab-baiklah aku akan segera pulang tenang kan dirimu, mungkin 20 menit lagi aku sampai, kunci seluruh pintu dan jendela jangan di buka kalau aku belum sampai, baiklah sekarang tutup telponmu, aku akan segera pulang."


'Sebaiknya aku mengajak Amara juga untuk tinggal di sana, karena aku akan tetap merasa khawatir jika ia jauh, belum lagi aku tidak bisa tidur kalau belum dapat menghirup aroma tubuhnya itu, apa ini karena Caterine yang sedang mengandung anakku? dan aku yang ngidam ingin tidur di samping Amara? ntah lah sebaiknya aku sekarang mencari nya'


Sementara itu Amara yang di cari sedang berdiri di teras rumah ia berdiri sambil menghirup udara malam yang begitu sejuk, sedang matanya fokus menatap langit yang terang benderang oleh pantulan sinar sang rembulan, karena malam ini begitu cerah tanpa mendung sedikitpun.


"Rupanya kau disini, aku mencarimu kemana-mana. Apa yang sedang kau lakukan disini sendiri,?" Darandra memeluk tubuh Amara dari belakang, sedang kan Amara yang terkejut dengan kedatangan Darandra berpura-berpura-pura cuek-cuek saja, hingga ia merasakan tangan jahil Darandra menelusup di balik branya.


"Ck, apa yang kau lakukan,?" kesal Amara jengah dengan tingkah suaminya yang selalu mesum itu.


"Bukankah sejak tadi aku menginginkanmu tapi kenapa kau selalu menghindari ku seperti ini? kau tahu aku tidak menyukai nya.

__ADS_1


Amara mengendorkan pelukan suaminya itu lalu menatapnya dengan lekat.


"Aku sedang capek, aku lelah boleh kita tidak melakukannya,?" ucapnya sambil menggenggam kedua tangan orang yang selalu membuatnya jatuh cinta dan sekaligus terluka itu.


''Kau kenapa,? Apakah kau sedang sakit,? katakan padaku kau sedang sakit apa? tidak aku tidak sakit hanya saja tubuhku yang terasa lemah dan sebaiknya sekarang kau pulang nanti calon istrimu akan marah jika tahu kalau kau ada di sini.


"Kau benar sekali, dan sebaiknya sekarang kau bersiap-siap karena aku akan mengajakmu juga untuk pergi ke sana," ucap Darandra sambil melangkah masuk saat mengingat kalau Caterine berada di apartemennya sendiri.


"Apa? aku juga harus ikut ke sana,? tapi Kak...!" Amara menggantung kan kalimatnya di saat melihat Darandra kian menjauh. Namun tak lama ia pun keluar dan mendekati Amara.


"Kau harus mau, karena Catherine tidak ada yang menemani, sebab hari ini dia sedang ke takutan, sebaiknya kita berangkat sekarang juga," Ucapnya dengan penuh penekanan.


Amara yang kesalpun tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan Darandra yang nampak serius itu.


"Ayo cepatlah kenapa kau masih diam di tempat!?" sentak Darandra lagi.


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu karena kau bisa memakai pakaian milik Caterine atau aku akan membelikannya untukmu."


"Apa maksudmu Kak, apa kau kira aku tidak bisa membeli selembar bakaian hingga kau menyuruhku memakai pakaian milik orang yang benar saja kau itu kalau tidak mencintaiku tapi jangan perlakukan aku seperti wanita perampas suami orang...Oh tidak aku salah aku lupa dimana-mana wanita kedua itu selalu menang, dan dapat yang lebih," ucap Amara sinis.


"Amara berhenti lah untuk berkata yang tidak -tidak, kau jangan mencari masalah lagi aku sedang buru-buru, Ayo ikut aku." Darandra menarik tangan Amara untuk masuk ke mobil meski ia awalnya Amara memberontak namun akhirnya ia pun terpaksa mengalah dan mengikuti kemana Darandra akan mengajaknya pergi.


Tak ada yang ingin berbicara di dalam mobil, semuanya memilih diam jika Amara memilih tidur, lain halnya dengan Darandra yang memilih fokus karena ia harus sampai tepat waktu, tentu dengan melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, dan hanya 15 menit waktu yang di tempuhnya, hingga ia tiba tepat di apartemennya.

__ADS_1


"Amara..Amara...Ayo cepat bangunlah kita sudah sampai," Darandra mengguncang tubuh Amara sambil memanggil namanya, namun yang di panggil nampak tertidur pulas.


'Amara kenapa aku perhatikan akhir-akhir ini kau suka sekali tidur, bahkan kau tak peduli dengan keadaan sekitar mu.' Darandra kembali memilih mengangkat tubuh sang wanitanya itu. Setelah tiba di kamar yang begitu luas Darandra pun membaringkan tubuh istrinya itu dengan pelan dan menutup tubuh wanitanya dengan selimut hingga ke rasa dada.


Setelah selesai membaringkan tubuh Amara, Darandra pun bergegas keluar meninggalkan apartemennya, menuju sebuah tempat yaitu apartemen dimana Caterine tinggal.


Ya,, Darandra menyewakan Caterine sebuah tempat yaitu apartemen dimana ia tinggal saat ini sedang kan apartemennya sendiri adalah hadiah dari dokter James, ia tidak ingin orang lain tau apartemennya saat ini ia akan menggunakan nya untuk dirinya dan orang terdekatnya saja.


"Caterine...Caterine...Caterine...sayang kau dimana sayang!?" Darandra terus saja berteriak memanggil nama Caterine, namun orang yang di panggilnya tak jua kunjung muncul ataupun menyahut membuat Darandra begitu khawatir dengan keadaan wanita yang sedang mengandung buah hatinya itu.


"Caterine...Caterine...kau dimana sayang...?!" Darandra kembali memanggil dan terus mencari di setiap sudut ruangan namun tetap saja nihil orang yang di carinya tak di temukannya. Darandra mengusap kasar wajah bahkan menjambak rambutnya sendiri di saat mengingat capan Caterine yang memintanya untuk segera pulang, kini kembali berputar-putar di ingatannya.


Kini ia mencoba untuk menghubungi nomor Caterine namun yang di dapat hanya suara operator yang mengatakan kalau nomornya sedang tidak aktif.


'Caterine maafkan aku, jika aku selama ini selalu meninggalkanmu, dan anak kita, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu dan anak kita, tapi aku harus mencarimu kemana?'


Darandra yang binggung akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen nya.


'Amara...dia maaih saja enak-enakan tidur,' Gumamnya menggerutu.


"Amara...Amara...bangunlah Amara bangun kalau tidak aku akan menyirammu dengan air!'' Ancam nya namun Amara tetap bergeming tak terganggu sedikit pun dengan kebisingan yang di lakukan Darandra.


Darandra yang merasa otaknya buntu meraih air yang ada di atas Nakas lalu denga tega menyiramkan nya ke wajah Amara yang sedang tertidur lelap.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2