
"Bagaimana dengan suamiku Kak,?" tanya Tasya pada Sang Kakak yaitu dokter Arya yang baru saja keluar sehabis bertempur di atas meja operasi.
Ya,, hari ini adalah jadwal pencangkokan tulang sumsum untuk Jhony, setelah sekian detik, waktu yang berganti Hari, minggu, dan bulan, meski pada awalnya pesimis, namun pada akhirnya optimistis, saat Tasya putus asa namun secercah harapan itu tiba-tiba saja memberikan nya kekuatan di saat mengetahui kalau lelaki yang pernah di tolong nya ternyata adalah mertuanya sendiri, yaitu Ayah dari Jhony, yang ternyata dia masih hidup.
Dengan berusaha memberi dukungan pada Jhony, yang berbesar hati memaafkan kesalahan kedua orang tua yang pernah meninggalkan nya hanya dengan Oma dan Opa nya itu.
"Kamu yang tenang semuanya baik-baik saja, tunggulah beberapa saat lagi karena dia akan segera dipindahkan ke dalam ruangan yang lebih luas, Agar kau juga bisa beristirahat kasihan kan dengan kandungan mu. Dan kakak sarankan sebaiknya kau juga banyak-banyak istirahat karena kandunganmu itu sangat sensitif," Nasehat Arya pada sang Adik.
"Iya Kak, terima kasih karena Kakak masih perhatian denganku dan kakak juga mau merestui hubunganku dengan Jhony, Kakak juga mau memaafkan kesalahannya."
"Dengarkan Kakak Sya, Kakak akan bahagia melihatmu juga bahagia bersama orang yang kau cintai, meski pada awalnya Kakak membenci suamimu itu di karenakan perbuatannya padamu, bahkan Kakak pernah menyuruh dokter untuk memberikannya obat agar apa yang ada dalam dirinya itu tidak berdiri,"
"Jadi itu semua akal-akalan kakak,?" kejut Tasya mendengar penuturan sang Kakak."
"Apa Kakak tau karena itu Jhony hampir saja balas dendam pada kami, tapi beruntunglah dia menyadari kesalahan nya."
"Maafkan Kakak Sya, pada waktu itu Kakak hanya kesal padanya,"
"Kakak harus minta maaf pada Jhony yang hampir saja tidak bisa membuat keturunan bukan padaku," Kesal Tasya menekuk wajahnya karena bagaimana tidak Jhony pernah takut menyentuh nya gara-gara ia akan di tuduh sebagai lelaki lemah dan itu pernah di ceritakan Jhony padanya.
"Kakak tahu, nanti kapan-kapan kalau dia sudah sadar baru kakak minta maaf padanya." Ucap Arya kembali memberi pengertian kepada sang adik agar adiknya itu tidak marah lagi.
"Sepertinya Jhony sudah dipindahkan Kau boleh masuk menjenguk nya tapi ingat jangan di ajak bicara terlalu lama karena dia harus istirahat yang cukup karena masih dalam pemulihan."
"Baiklah Aku kesana dulu, Kakak sendiri mau kemana?"
"Aku akan kesana mencari Darandra dulu" "Baiklah Kak aku pergi dulu," Tasya pun bergegas menuju ruangan dimana kini suaminya dipindahkan.
__ADS_1
Sedangkan Arya keluar mencari Darandra ia merasa khawatir pada Darandra karena tiba-tiba saja dia melihat Darandra menyentuh dadanya seperti sedang sesak bernafas, padahal ia tahu sendiri Darandra tidak punya rawat penyakit Asma.
Darandra pun memilih segera pergi setelah selesai melakukan operasinya.
Sementara itu Darandra yang dicari memilih untuk segera pulang saat merasa dadanya benar-benar begitu sesak seolah tak bisa bernafas.
Sedang yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Amara, bahkan tadi hampir saja Ia melakukan kesalahan, Di saat sedang melakukan operasi karena ia sempat tertegun sesaat kalau saja Arya tidak segera menyadarkannya.
"Apa yang terjadi sebenarnya padamu sayang kamu di mana,? kemana Aku akanmencarimu pulanglah, Aku sangat merindukanmu Pulanglah bersama anak kita, Aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan kalian lagi. Tapi aku mohon pulanglah.
Atau katakan kepadaku dimana kau tinggal sekarang? aku akan datang menjemputmu, dan kenapa aku susa sekali untuk mencarimu kau pergi menghilang bagaikan Ditelan Bumi, Apa sudah tidak ada lagi cinta untukku di hatimu.?"
Darandra terus saja meracau sambil menyentuh dadanya, apa lagi di saat kalung yang di berikan Amara menyala-nyala dan berbunyi membuatnya semakin khawatir dengan keadaan wanitanya itu.
la menyentuh kalungnya yang melingkar di lehernya itu lalu menatapnya sembari mengingat Kata-kata Amara yang telah lalu.
"Jika Aku memakai gelang yang sama dengan kalung yang kau pake maka kau akan tau kalau kalungnya berbunyi dengan kedipan lampu berwarna merah, itu berarti aku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja."
*
Dan benar saja Amara saat ini sedang berjuang di atas meja operasi, sedangkan Susan menunggu dengan gelisah bersama Cleo, dan Nyonya Bianca.
Yah,,Cleo dan Nyonya Bianca terpaksa harus datang menemani Putri dan menantunya itu apa lagi setelah mendengar semua penjelasan dari Susan yang selalu setia menemaninya.
"Bagaimana anak saya, bagaimana menantu saya,? dokter apa semuanya baik-baik saja,?" tanya Cleo dan Nyonya Bianca secara bersamaan begitu melihat dokter Ahmed keluar dari ruangan dimana Amara sedang berjuang.
Dokter Ahmed menatap Cleo dan Nyonya Bianca secara bergantian.
__ADS_1
Sedangkan Cleo dan nyonya Bianca masih menunggu jawaban dari dokter Ahmed dengan perasaan yang tidak dapat digambarkan.
"Kedua cucu Anda Alhamdulillah selamat dan sehat, tapi ibunya masih dalam keadaan kritis." mendengar penjelasan dari dokter Ahmed baik Susan Cleo dan nyonya Bianca merasa bahagia sekaligus sedih, di saat cucu mereka sudah terlahir dengan selamat tapi menantu dan Putri mereka masih harus berjuang antara hidup dan matinya, satu minggu kemudian Nyonya Bianca dan Cleo kembali pulang ke Negaranya.
sedangkan Susan memilih pulang setelah 1 bulan si kembar lahir Amara sendiri dinyatakan koma, dan entah kapan dia bisa bangun dari komanya itu. Dan setelah genap berusia 1 bulan akhirnya si kembar pun diboyong oleh Susan kembali ke negaranya.
*
Darandra yang baru saja ingin beristirahat karena merasa kepalanya pening dan penat menyerang tubuhnya setelah seharian bergelut dengan kesibukan.
Baru saja ia ingin memejamkan mata, Namun ia harus merasa terganggu oleh suara tangisan bayi di tengah malam.
"Anak siapa sih menangis tengah malam kenceng banget,?" gerutunya sedikit kesal. Karena merasa sedikit terganggu Darandra memilih keluar untuk membuka pintu dan melangkah mencari di mana sumber suara itu berasal, Darandra mengerutkan keningnya suara bayi itu semakin kencang terdengar,
Ia pun segera membuka pintu yang menuju teras rumahnya, Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Di dalam keranjang bayi ada dua bayi yang sedang menangis
"Bayi? Siapa sih yang tega membuang bayi malam-malam seperti ini di depan rumah,? Kasihan sekali, sepertinya mereka kehausan. Tapi..." Darandra menjeda kalimat nya,
dan menatap di sekeliling bayi itu ternyata sudah lengkap dengan segala perlengkapan yang dibutuhkan sang Bayi, mulai dari Susu bahkan popok bayinya.
Tiba-tiba saja jantung Darandra berdetak dengan begitu kencangnya saat menatap kedua bayi mungil tersebut, Ia pun segera meraih keranjang bayi bersama semua barang-barang yang sudah tersedia di samping bayi tersebut.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan pada kalian,?" tanya Darandra bingung sambil berdiri menatap bayi itu satu-satu.
"Kalian itu masih mungil sekali, bagaimana kalau aku membawa kalian ke Panti Asuhan saja." Salah satu bayi itu tersenyum mendengar ucapan Darandra sedangkan yang satunya lagi menangis begitu kencang.
"Sayang jangan menangis...Sepertinya kalian mengerti dengan apa yang ku ucapkan ini, dengar kan Aku, Aku membawa kalian ke panti asuhan Agar kalian mendapatkan perawatan dengan baik, di sini Uncle tinggal sendiri Uncle juga sibuk jadi Uncle tidak bisa merawat kalian, kalian mengerti,?"
__ADS_1
Darandra pun mencoba menyentuh wajah seorang bayi yang di mana bayi itu selalu tersenyum sedang yang satunya masih terus menangis, membuat senangang sekaligus bingung harus bagaimana.
"Hei...kamu jangan menangis, Apa kamu ingin tinggal bersamaku,?" tanya Darandra dan mengelus dengan lembut wajah bayi tadi dan seperti sebuah magnet kedua bayi itu pun menggenggam jari jemari Darandra yang menyentuh wajah mereka.