
"Bagaimana dengan Jhony, apa dia baik-baik saja,?" tanya Tasya saat Darandra muncul dari sebuah ruangan yang khusus untuk penanganan gawat darurat. Darandra hanya terdiam menatap Tasya yang saat ini masih terlihat sangat terpukul, itu terlihat dari air matanya yang terus saja mengalir.
"Andra aku sedang bertanya kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?" Cicit Tasya kembali terisak.
"Sebaiknya kau bawa Riri pulang dulu tidak baik dia berada di rumah sakit Lama-lama, dan sekarang sebaiknya kau juga ikut denganku, karena ada hal penting yang harus kita bicarakan ini tentang keadaan Jhony dan persiapkan mentalmu untuk mendengar
semuanya"
Deg.
Mendengar Kata-kata Darandra tiba-tiba saja perasaan Tasya mulai tidak enak.
"Ayo ikut aku akan menjelaskannya semua padamu" ucap Darandra kembali dan langkahnya diikuti oleh Tasya dari belakang.
"Silakan masuk...Tapi, sebaiknya Riri kau titipkan dulu aku akan memanggil seorang suster untuk menemaninya.
"Riri mau kan sayang,? Om dan Mama titipkan dulu sebentar, Karena Om ingin berbicara sama Mama dulu ucap Tasya sambil mengusap dengan lembut kepala putrinya tersebut.
"Iya Mama, tidak apa-apa, Tapi Mama janji jangan lama-lama karena Riri takut Mah..."
"Iya sayang Mama janji kok Mama tidak akan ninggalin Riri lama-lama," Tak, lama kemudian datanglah seorang suster mendekati mereka karena beberapa saat lalu Darandra Sudah menelponnya, setelah Riri dibawa pergi Darandra pun mempersilakan masuk Tasya ke dalam ruangan miliknya.
"Duduklah Kau ingin minum apa aku akan mengambilkannya untukmu tawar Darandra. "Sebaiknya berikan aku minum air putih saja." Darandra pun memberikan sebotol kecil air mineral ukuran 200ml. Yang di ambilnya di sebuah lemari pendingin, lalu di berikan nya untuk Tasya.
Darandra pun menarik nafas panjang setrika itu menghempaskannya begitu saja.
"Apa kau yakin sudah siap mendengar semuanya,?"
"Katakan saja padaku siap tidak siap aku pun harus bersiap karena tidak ada jalan lain kan,? aku harus mengetahui semua apa yang dideritanya selama ini." Ucap Tasya.
__ADS_1
"Baiklah jika kau sudah siap mendengarnya, Maaf aku akan mengatakannya kepadamu, Apa kau tahu kalau ternyata selama ini suamimu menderita leukemia. dan ini sudah tahap akhir aku sudah memeriksa daftar kesehatan yang selama ini, Dan sebenarnya la selama inibsudah beberapa kali dirawat di rumah sakit."
Mendengarkan penjelasan dari Darandra membuat Tasya tertegun tanpa bicara.
"Bahkan dokter sudah mengatakan kepadanya jika hidupnya sudah tidak lama lagi," Terang Darandra kembali.
Tes tes tes. Buliran bening itu kembali mengalir di pipi halus Tasya melumpuhkan pertahanannya, bibirnya kini bergetar sedang ia merasa susah untuk bernafas. Sambil terisak ia mengingat kembali flashback kejadian demi kejadian yang di alami suaminya.
''Apa ini yang menyebabkan Ia menginginkan pernikahan kami hanya 6 bulan saja,? Apa karena ini dia tidak ingin mempunyai anak dariku, dan apakah ini rahasia besar yang disembunyikan selama ini, kenapa dia harus melakukan ini padaku Andra kenapa? hiks hiks.
"Bukankah dia sangat mencintaiku, tapi kenapa aku tidak bisa mengetahui apa yang dia alami Jika dia peka dengan keadaanku, tapi kenapa aku tidak pernah peka akan dirinya, Bukankah itu sangat egois Andra?"
"Kau benar sekali Tasya, semua orang yang mencintai kita mengorbankan dirinya terlalu besar, tanpa kita pernah menyadari dan melihat pengorbanan mereka, ada sedikit harapan sebelum semuanya terlambat Kita harus melakukan pencangkokan tulang sumsum Untuknya, untuk itu kita harus segera menghubungi keluarga terdekatnya,"
"Apa benar yang kau katakan ini? jadi ada harapan untuk Jhony bisa sembuh.?
"Kau benar sekali, untuk itulah aku mengajakmu berbicara dan sekarang kau harus kuat dan tegar kita harus melewati semuanya step by step aku juga akan selalu ada untukmu jika kau membutuhkan bantuanku, sekarang persiapkan dirimu untuk menemui suamimu, karena tidak lama lagi dia akan sadar." Ucap Daranda sambil menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, aku akan menemui Riri dan membawanya bertemu dengan Auk...ahk kepalaku."
"Kau kenapa,? apa kau baik-baik saja,?" tanya Darandra saat melihat Tasya bangun dari duduknya namun Tiba-tiba ia mengaduh sambil memegang kepalanya.
"Entahlah tiba-tiba saja aku merasa pusing dan mual, mungkin aku masuk angin karena terlalu banyak menangis,"
"Tapi apa iya ada orang masuk angin karena terlalu banyak menangis,?"
"Entahlah Andra mungkin saja."
"Atau kalau tidak sebaiknya kau juga diperiksa aku takut kau kenapa-kenapa Sudahlah Andra ini adalah Sakit biasa kok, sebaiknya sekarang aku harus menemui Jhony Aku tidak mau ia terbangun dari pingsannya dia dan tidak mendapatiku di sampingnya,"
__ADS_1
"Baiklah, kau boleh pergi sekarang Sedangkan aku akan menemui Arya dan juga Dokter David."
"Baiklah Ndra Aku pergi dulu, Sekali lagi terima kasih bye…"
"Bye…" balas Darandra menatap kepergian Tasya sambil menarik nafas panjang lalu menghempaskannya keluar.
"Amara Maafkan aku yang telah menyia-nyiakan semua pengorbanan selama ini Maafkan aku yang tidak peka akan dirimu aku berjanji akan melakukan apa yang kau inginkan, Dan aku berjanji akan menunggumu kembali, aku akan tetap menunggumu lirih Darandra sambil menatap video yang di dalamnya memperlihatkan Amara.
Setelah beberapa detik melihat video tersebut Ia pun segera bangkit dan melangkah keluar untuk segera menghubungi dokter Arya dan Dokter David.
Sementara itu di sebuah ruangan di mana Jhony sedang terbaring di rawat Tasya duduk di kursi di samping Ranjang suaminya, ia menatap lekat wajah suaminya yang terlihat pucat dan semakin tirus itu.
"Suamiku-suamiku, Apa kau mendengarku,? lirihnya dengan menyentuh tangan suaminya.
"Mama apa Papa baik-baik saja Mah,?" tanya Riri yang ikut menemani.
"Iya… sayang Papa tidak apa-apa Papa baik-baik saja, kamu tenang ya," ucap Tasya menghapus air matanya dan berusaha Tegar di depan putrinya tersebut.
"Riri harus banyak-banyak berdoa untuk kesembuhan Papa ya sayang"
"Iya Ma, Riri selalu berdoa untuk mama dan papa Rere juga berdoa supaya di sini ada dede bayinya ucap Riri sambil mengelus perut Tasya dan itu sempat membuat jantung Tasya berdetak kencang.
"Iya Semoga doa dari Riri cepat dikabulkan oleh Allah, sebentar lagi ada yang akan menjemput Riri jadi Riri pulang dulu ya nak" "Tapi Mah, Riri mau bicara sama Papa" ucap Riri yang kini mulai terisak.
"Untuk saat ini Papa tidak boleh banyak bicara dulu, jadi Papa harus sembuh baru bisa bicara lagi sama Riri, untuk itu Riri pulang dulu ya sayang,"
"Baiklah Ma, Riri akan berdoa dari rumah buat Mama dan papa salam Riri buat Papa ya Mah" "Iya,, sayang… pasti Mama akan sampaikan nanti kalau Papa sudah bangun,"
Cup.
__ADS_1
Tasya pun memberikan kecupan di atas pucuk kepala putrinya tersebut, Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Sepertinya orang yang menjemput Tasya udah datang Ayo Mama temani Riri keluar,"