
"Amara, Kenapa kau cepat sekali Kembali?"
Tanya Renata, saat menyaksikan Amara ternyata sudah kembali dari klinik.
"Iya Kak, aku hanya ingin mengantar makanan nya saja, tadi juga kan aku memang pamit hanya sebentar saja Kak, dan kakak juga menyuruh ku untuk cepat kembali, Aku hanya takut Darandra lupa makan, makanya aku mengantarkan makanan untuk Darandra saja," Bohongnya.
"Kau, yakin kau tidak apa-apa? atau Kau sedang ada masalah dengan Darandra?" Tanya Renata dengan tatapan menyelidik, karena melihat tatapan Amara sepertinya la menyimpan sesuatu.
"Tidak kak, kau sendiri tau benar Darandra kalau dia itu akan lupa makan, kalau Dia di buat sibuk dengan pasiennya, lagi pula untuk apa juga aku harus berlama-lama di sana, kalau aku hanya akan mengganggu kesibukannya," Renata, membenarkan ucapan Amara dengan tersenyum tipis dan mengangguk kecil.
"Ya sudah Kakak mau masuk dulu kepala Kakak agak sedikit pusing, Apa kau mau ikut,?'' Ajak Renata.
''Aku di sini saja, di luar, aku ingin menghirup udara segar," ujarnya menimpali, Renata pun meninggalkan Amara sendiri sedangkan Amara kembali menangis dalam diamnya saat mengingat kejadian yang didengarnya di dalam kamar tadi, yang membuatnya mengurungkan niat untuk membuka mengetuk pintu.
Flashback on.
Amara yang berlari membawa Rantang' makanan, menghentikan langkahnya di saat dirinya tiba di depan pintu ruangan pribadi milik Darandra saat ia ingin berniat mengetuk pintu, Ia tanpa sengaja mendengar suara aneh yang mencurigakan hingga membuatnya mengurungkan niat untuk mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu.
"Ahk..sakit ahk sakit sekali" suara rintihan kesakitan, seperti suara Tasya.
'Apa yang mereka lakukan di dalam sana,?'
Fikir Amara dengan degup jantung yang semakin cepat.
"Kamu tahan ya awalnya memang terasa akan sakit tapi itu hanya dengan sekali hentakan dan tarikan, pasti akan terasa enak,"
"Baiklah tapi usahakan melelakukannya pelan-pelan," ucap Tasya yang nampak mulai gelisah.
"Kau boleh memeluk ku, untuk mengurangi rasa sakitmu jika kamu mau," Tawar Darandra
"Aaakh...sssth, sakit sekali pelan-pelan"
__ADS_1
"Aaaaaa....ahk,"
Darandra membungkam Tasya dengan tangannya agar dia tidak berteriak, menarik lalu memutar kakinya.
"Sekarang bagaimana apa sudah terasa enak?"
"Iya ini sudah enak banget coba kau goyangkan sedikit, pasti kau bisa merasakannya, rasanya bagaimana,?" Tasya mencoba menggoyang kan kakinya.
"Iya kau benar sekali ini sudah enak sekali sekarang, terima kasih,"
Flashback of.
'Apa-apa aku cemburu? atau sakit hati, seharusnya tidak,? Amara kau konyol sekali, biar bagaimana pun, dia itu istri yang di cintai Darandra untuk apa kau harus sakit hati,' Monolognya menghibur diri sendiri.
'Tapi apa mereka baru melakukannya hari ini? bukankah seharusnya mereka melakukannya sejak malam pertama, dan kenapa juga mereka melakukannya di tempat kerja, dasar orang aneh, dia kan punya apartemen sendiri kenapa tak melakukannya di sana? dasar aku juga yang apes seharusnya aku tidak kesana.' Kesal Amara menyalahkan diri sendiri.
Amara pun bergidik ngeri membayangkan apa yang di lakukan keduanya, la berusaha membuang sara sakitnya, meski ia tau itu akan terasa sangatlah sulit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sisi Apa yang kau lakukan di sini?"
"Eh...Pak Dokter, ini Pak Dokter, Saya mau makan siang kebetulan tadi ada Rezeki Pak Dokter, Sisi dikasih makanan sama seorang wanita muda dan cantik, yang datang mencari Bapak."
"Wanita Siapa dia? apa Kau mengenalnya,? atau mungkin menanyakan dia darimana, apa kau tidak menanyakan namanya,?"
"Nah itu sih Sisi lupa Pak Dokter, katanya sih ada yang penting, saya sudah melarangnya masuk Pak Dokter, sesuai intrusi Anda, namun dia bersikeras mau masuk, Tapi anehnya ketika dia sudah sampai di depan pintu ruangan Pak Dokter, dia malah hanya diam saja, dan setelah itu dia langsung pergi dan memberikan makanan ini kepada Sisi Pak dokter," Sisi terus saja bercerita panjang lebar
"Boleh aku lihat makanan yang diberikan untukmu itu,?" pinta Darandra.
"lni Pak dokter," ucap Sisi menyerahkan Rantang yang berisi makanan.
__ADS_1
"Amara...!" lirihnya.
'lni pasti dari Amara Mungkin dia mau mengantarkan makan siang untukku,' pikirnya.
"Kemari kan makanan itu lebih baik Kau membeli yang lain saja, karena ini punyaku, ini ada uang untukmu, dan beli makananmu sendiri."
"Baiklah Pak Dokter ucap Sisi sambil meraih uang yang disodorkan oleh Darandra.
"Ah,, asyik, memang kalau rezeki anak soleh itu nggak bakalan kemana" ucap Sisi sambil melangkah pergi.
"Tunggu dulu!" panggil Darandra,
"Ya,, ada apa lagi Pak Dokter,?"
"Apa kau lupa sesuatu?" tanya Darandra "tidak Pak dokter," ucap Sisi sambil berpikir.
"Oh iya saya lupa Mengucapkan terima kasih Pak Dokter," ujar Sisi.
''Sudahlah sana, Kau Pergi,!" Sisi pun pergi meninggalkan Darandra yang masih menatap makanan yang dibawa Amara untuknya.
"Anak itu kerja di Cafe uangnya bukan untuk dikumpul malah untuk diberikan makanan seperti ini apa dia kira aku suka apa dibawakan makanan seperti kata Sisi dia hanya diam berdiri di depan pintu ruanganku?
Lalu kenapa dia tidak mengetuk pintu? atau jangan-jangan... Astaga ya ampun pasti dia mendengar teriakan Tasya tadi dan jangan bilang kalau dia pergi karena menganggap aku sedang melakukan sesuatu dengan Tasya, Aku yakin dia pergi karena itu, tapi tidak apa-apalah, Bukankah selama ini aku mengatakan kepadanya kalau Tasya itu adalah istriku, dan lagi pula aku tidak melakukan apa-apa bersama Tasya tadi, tunggu dulu untuk apa juga aku memikirkannya Bukankah dia itu hanyalah seorang pembohong mungkin juga dia membawakan aku makanan ini agar aku bisa memaafkannya karena tadi pagi aku sempat marah padanya apa dia pikir aku akan tergoda dan memaafkannya hanya karena dia membawakan aku makanan kesukaanku ini dasar wanita aneh," Darandra terus saja menggerutu sambil mengunyah makanan yang ada di tangannya itu tanpa disadarinya makanan itu pun Habis tak bersisa dimakan olehnya.
"Siapa yang membawa makanan untukmu,? bukankah tadi aku bilang untuk makan bareng kenapa sih kau tak pernah mendengar apa yang aku katakan,?"
"Maafkan aku, aku benar-benar sangat lapar karena tadi pagi aku tidak bisa sarapan karena sibuk mencarimu,"
kali ini Tasya menunduk, penuh sesal, karena dirinyalah Darandra mengabaikan dirinya sendiri.
"Maafkan aku, aku yang salah, lain kali aku akan membawakan makanan lezat untukmu,"
__ADS_1
"Sudahlah, sekarang kau makan makanan yang sudah kau pesan itu, kau juga bisa membaginya dengan Sisi kalau kau mau, setelah ini pulanglah tapi maaf, aku tidak bisa mengatarmu."
"Tidak apa-apa aku bisa pulang sendiri,"