
"Sayang apa kau masak sesuatu untukku?" tanya Darandra setelah dirinya selesai membersihkan tubuhnya.
"Ada di atas meja makan, makanlah mumpung masih hangat" ucap Amara.
Sedangkan ia sibuk membuat susu hangat untuk suaminya itu.
"lni minumlah susunya mumpung masih panas setelah itu kita Siap-siap menjemput anak-anak, karena kita juga di undang Kak Jelita untuk makan siang di sana" ucap Amara menyuguhkan segelas susu di depan Darandra.
"Sayang kenapa kau hanya masak ini saja? untukmu mana dan kau__" Darandra tak bisa melanjutkan Kata-kata nya, karena saat ini ia tengah memeluk sang istri yang sangat di cintainya itu.
"Sayang apakah kau menangis?" tanya Amara saat merasakan punggung nya basah.
"Bagaimana Aku tidak menangis saat mengingat kejadian di tempat yang sama ini saat pertama kali kau memasak makanan yang sama yang membuatku marah, dan membuatmu masuk rumah sakit,"
Amara tertegun mendengar ucapan suaminya itu bahkan dia sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
"Sayang maafkan aku karena sudah mengingat kan mu dengan kejadian itu tapi percayalah aku sama sekali tidak sengaja, bukan maksud ingin mengingatkan mu atas kejadian yang sudah lama itu," Ucap Amara dengan rasa bersalahnya.
Darandra mengurai pelukannya, lalu menyentuh wajah Amara dengan ibu jarinya.
"Kau tahu andai Aku bisa mengulangi waktu yang yang telah aku lewati bersamamu maka Aku tidak akan pernah sedikit pun ingin menyakiti hatimu, agar tiga tahun kehilanganmu tidak akan pernah terjadi dalam hidupku." Ucap Darandra kembali penuh sesal.
"Hei…sayang…bukankah semua itu adalah ujian cinta kita, dan kau selama tiga tahun ini juga selalu setia untukku, bahkan kau menjadi Ayah dan lbu untuk si kembar."
"Tetap saja selamanya Aku akan merasa pernah menjadi suami yang paling jahat."
"Dan kau juga lelaki yang paling mencintaiku dengan nyawamu, l Love You sayang,"
"l Love You to…" Balas Darandra kembali memeluk erat tubuh wanita nya, bahkan kini ia kembali memberikan tautan lembut nya dan di balas oleh Amara, membuat suasananya kini berubah menjadi panas, di saat tautan mereka semakin dalam apalagi Darandra akan dengan mudah terbawa suasana di saat tubuhnya selalu dekat dengan wanita nya itu.
Tanpa sadar Darandra kini mengangkat tubuh Amara dan mendudukkannya di atas meja makan, tanpa melepaskan tautan nya, yang kini menjalar kemana-mana.
__ADS_1
"Sa-yang…" ucapan Amara tertahan saat Darandra dengan lihai bermain di area sensitive nya, apa lagi di saat Darandra mulai memperdalam sesapannya.
"Sayang apa kau yakin kita akan melakukan nya di tempat ini?" tanya Amara membuat Darandra mau tidak mau menjeda permainan nya, Darandra pun tanpa pikir panjang mengangkat tubuh wanitanya itu, dan membawanya segera masuk ke kamar, Karena dirinya sudah tidak tahan untuk menyelesaikan permainan yang sempat terjeda.
Darandra memeluk tubuh Amara di saat ia berhasil melakukan penyatuannya dengan sempurna, dan bahkan sudah beberapa kali menyemai benihnya di dalam.
"Terima kasih sayang…" ucap Darandra yang tak pernah merasa puas melakukan dan ingin terus melakukan permainan panasnya dengan Amara itu, jika saja ia tidak memikirkan kalau Amara ada janji pertemuan makan siang di rumah utama mungkin ia akan terus mengurung Amara di rumah.
*
"Aku kira kalian tidak akan datang dan akan terus mengurung diri di kamar." Sindir Damara.
"Sayang apa kau juga ingin melakukannya denganku? bahkan jika kau melakukannya kau tidak akan pernah ingin berhenti." Timpal Jelita, dan itu mampu membuat suaminya terdiam dan kembali memasang wajah datarnya di saat Amara dan Darandra tersenyum penuh kemenangan.
"Ayo kalian makanlah nanti makanannya dingin, kalian sudah tau sifatnya kan jadi tidak usah di ambil hati, karena Kakak mu itu sudah semakin tua"
"Sayang… aku hanya ingin menyambut adikku dan juga adik iparku, atau kakak sepupumu ini dengan baik dan benar, aku hanya mencoba ramah pada mereka, kenapa kau malah mengatakan semua keburukan ku di depan mereka? apa kau sekarang sudah tidak mencintai ku lagi karena merasa aku sudah tua." Ucap Damara dengan expresi wajah yang yang sangat menyedihkan.
"Sayang ku cinta ku suamiku, kalau Aku tidak mencintaimu untuk apa aku mau mengandung anakmu lagi, bahkan setiap malam kau selalu minta jatah padaku dan aku selalu memberikannya, apa itu masih kurang? tanya Jelita sambil mendelik. Namun sesaat kemudian Jelita bangkit dan mendekati suaminya yang tengah duduk menunggu hidangan.
"Lihatlah kalian dengarkan? kalau istriku sangat mencintaiku,? dan aku harap cinta kalian pun sama, seperti kami" ucapnya pada kedua insan yang tengah saling melempar tatapan itu.
"Tentu saja Kak, kalian tidak perlu khawatir, bahkan cinta kami semakin kuat sekarang, iya kan sayang?" ucap Amara menatap Darandra penuh cinta, Darandra pun mencium telapak tangan istrinya yang dari tadi selalu di genggamnya itu.
"Terima kasih karena sudah mau kembali menjadi istriku untuk selamanya." Ucap Darandra.
"Oooh so sweet… kalian kenapa bisa mengalahkan keromantisan kami sih?" celetuk Jelita. Lalu Mereka semua pun tertawa bahagia.
"Sebaiknya kami pamit pergi dulu ya kak, kasihan si kembar sejak semalam mereka tanpa kami, dan aku sangat merindukannya."
Ucap Amara pamit.
__ADS_1
*
Setahunan kemudian.
"Apa kamu yakin akan melahirkan secara normal dan tidak si cesar saja,? Aku sangat khawatir padamu sayang" ucap Darandra mengelus pucuk kepala istrinya bahkan Darandra pun merasa tegang, saat menanti persalinan ke dua istrinya, namun buatnya ini adalah pengalaman pertama.
Walau ia seorang dokter ia tetap saja merasa khawatir, karena istrinya memilih melahirkan normal.
"Auhk…ahk…sayang perutku sakit sekali" cicitnya menarik kemeja sangat suami. Tunggu sayang aku akan panggilkan Dokter." Ucapnya lalu memencet tombol merah yang ada di ruangan itu. Sementara di luar semua orang menunggu dengan tegang persalinan Amara.
"ini sudah pembukaan terakhir bu ya! kalau saya bilang dorong maka lakukan sesuai intruksi saya dan Anda beri semangat pada istri Anda." Ucap dokter menatap Darandra.
Dan benar saja Amara mengikuti intruksi dari dokter, untuk mengejan, namun belum ada tanda si bayi akan nongol.
"Sayang… aku yakin kamu bisa dan kuat," bisik Darandra memberikan semangat.
"Aaaaaa… sakit…" teriak keduanya karena di saat bersamaan, Amara mengigit tangan Darandra dengan kencang begitu seterusnya, hingga.
"Owek…owek…owek…"
"Suara tangis bayi menggelegar di seluruh ruangan. Membuat Amara menyunggingkan senyumnya rasa lelahnya melahirkan seketika hilang berganti haru dan bahagia, dia tidak menyangka akan kembali merasakan semuanya secara normal.
"Ini anak kalian perempuan yang cantik dan sempurna." Ucap sang dokter menyerahkan bayi mungil itu pada Amara.
"Terima kasih sayang atas perjuanganmu untuk menjadi Ibu lagi" Ucap Darandra lalu menghujani wajah istrinya dengan kecupan kasih penuh cinta.
"Kau juga sudah membantu ku dalam perjuangan ini," Timpal Amara meraih tangan Darandra dan mencium tangan yang telah di gigitnya selama persalinan.
"Terima kasih suami ku karena telah menjadi suami dan ayah yang luar biasa untukku dan Anak-anak." lmbuh Amara kembali.
Seminggu kemudian di rumah mereka di adakan syukuran penyambutan dan hakikahan. Semua orang pun menyambut gembira atas ke lahiran bayi cantik yang di beri nama Shelomita.
__ADS_1
TAMAT.