Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part.19


__ADS_3

Seminggu telah berlalu saat Amara meninggalkan rumah, dan memilih tinggal dengan seseorang yang sudah menganggap nya sebagai anak, bahkan Darandra pun tak pernah pulang, karena selama satu bulan ia akan ditugaskan untuk berbenah-benah. apalagi Rumah sakit yang ia tempati sekarang ini benar-benar sangat membutuhkan perhatiannya dengan sangat Extra, bahkan Ia banyak melakukan Rapat penting, untuk perubahan Rumah sakit dan juga beberapa tindakan Operasi yang akan di lakukan, ia juga ditugaskan untuk melakukan perjalanan ke luar Negeri beberapa minggu kedepannya, ia benar-benar tak punya waktu untuk beristirahat total, untuk itulah ia tak punya waktu untuk mengingat Amara, bahkan Tasya sekalipun.


"Bagaimana dokter Darandra, apa kau menyukainya,?" tanya lelaki paruh Baya namun masih dengan tatapan tajamnya dan juga jangan lupa ketegasan pada wajah rentanya tersebut.


"Tentu saja, Dokter James, saya sangat senang sekali bisa bekerja sama dengan Rumah Sakit Anda, atau lebih tepatnya mendapat bimbingan di tempat ini, Saya tidak menyangka kalau Anda akan menerima saya untuk mengelola Rumah Sakit Anda ini, sebuah kehormatan yang besar dari Anda Dokter James," ujar Darandra penuh semangat, mereka pun memilih duduk di bangku taman sekitar Rumah sakit tersebut.


"Jalani semua apa yang ingin kau Lakukan dengan dengan cinta dan tanggung jawab yang penuh, karena kesempatan itu datang hanya sekali, tidak berkali-kali, Setelah semua urusanmu selesai kau boleh pulang ke rumahmu, dan kau harus benar-benar pindah ke apartemen dekat rumah sakit yang sudah aku sediakan untukmu, biar tidak memakan waktu yang lama untuk kesini, dan semoga kau menyukainya," ucap Dokter James menatap lekat pada Darandra.


"Tentu saja saya akan menyukai apa pun yang Anda berikan pada saya Dokter."


"Sebenarnya Aku juga punya seorang Putra sepertimu," Dokter James meluruskan pandangannya kedepan.


"Lalu di mana dia sekarang,?" tanya Darandra pada dokter James sambil meliriknya.


"Dia memilih bekerja di Rumah Sakit milik temannya ketimbang terus mengurus Rumah sakit ini."


"Kenapa bisa seperti itu,?"


"Entahlah semenjak Adiknya meninggal istri dan juga Putraku berubah, la lebih memilih meninggalkan rumah dan tinggal di luar tanpa ingin menyandang statusnya sebagai Putraku, hanya sesekali dia pulang jika dia merindukan lbunya," Keluh Dokter tua itu.


"Kenapa bisa seperti itu Dokter,? Seharusnya dia berada di sisi Dokter di saat Dokter mengalami hal sulit seperti ini,?"


"Justru Jika dia berada di sisi kami, Dia akan terus merasa bersalah, karena Seandainya di saat itu dia mendengar permintaan Adiknya untuk menjemputnya maka kecelakaan itu tidak akan mungkin terjadi, itulah yang membuatnya keluar dari rumah karena merasa terus bersalah kepada lbunya," dokter James menarik nafas panjang lalu melirik ke arah Darandra yang duduk tepat di sampingnya itu.


"Baiklah anak muda, sampai di sini dulu ceritaku, Bagaimana denganmu apa kau punya masalah dengan seseorang,?" selidik dokter James sejenak Darandra hanya tertunduk dalam diamnya, mendengar lontaran pertanyaan dari dokter James, Ia pun menarik nafas selalu menghempaskannya saat teringat Dad Anthony.


"Daddy Dok, Saya punya masalah dengan Daddy," ucapnya penuh penyesalan.

__ADS_1


"Sebaiknya sesaikan masalahmu Biar bagaimanapun, apa yang diinginkan orang tua itu adalah yang terbaik untukmu, tidak baik kau menyimpan dendam kepadanya sebaiknya setiap masalah dibicarakan dengan kepala dingin, jangan pernah menggunakan emosi dalam berpikir setelah masalah Rumah sakit ini kelar, Kau boleh berjumpa dengan orang tuamu, atau setidaknya sesekali Teleponlah mereka, mungkin Mami akan merindukanmu Jadilah Anak yang berbakti padanya, Jangan pernah mengecewakan kedua orang tuamu, dan ingat bagaimanapun keadaan pasienmu kau harus menjadi Garda terdepan untuk menyelamatkan mereka keputusan semua ada di tanganmu Jangan pernah mengecewakan Rumah sakit ini karena Rumah sakit ini bergantung banyak padamu, dan ingatlah sebagai laki-laki dan sebagai manusia kau harus punya tanggung jawab baik dengan pekerjaanmu maupun dengan keluargamu," ucap dokter James panjang lebar.


"Baiklah, Dokter James saya akan mendengarkan semua nasehat Anda," dokter James pun tersenyum dengan semangat yang di miliki Darandra.


"Benar kata *A*nak wanita itu, kau sangat penuh semangat tapi sayang kau tak menyadari ada cinta yang selalu ingin membuatmu sukses.


Gumamnya namun hanya dalam hati.


Lalu Menepuk perlahan punggung Darandra.


"Kau masih muda, dan semangatmu masih membara, aku berdoa semoga kau bahagia, Baiklah kalau begitu aku pergi dulu karena istriku sedang menantikanku di rumah dia tidak akan tertidur sebelum ada aku di sampingnya, semoga kau juga sepertiku mempunyai istri yang selalu menantimu ketika Dimanapun kau berada,"


Deg.


Setelah berucap Dokter James pun bangkit dan beranjak pergi meninggalkan Darandra yang masih terlihat termenung dengan kata-kata terakhir dokter James.


Darandara mengusap kasar wajahnya, Entah mengapa dia tiba-tiba saja la merasakan jantungnya berdegup kencang di saat Ia menyebut nama Amara, namun ia menguatkan hatinya, dan terus meyakinkan diri kalau Amara akan baik-baik saja, walaupun ini adalah hal pertama dan terlama ia harus meninggalkan Amara bahkan tanpa memberi kabar atau menanyakan kabar tentang Amara.


Sementara itu di tempat lain Amara tiba-tiba saja bersin dan menggosok hidungnya.


"Siapa sih,, yang sedang menyebut namaku,?" "Mungkin kami yang menyebut namamu karena kami sedang merindukanmu,"


"Kakak...! kenapa Kakak datang kemari,?" Cicit Amara begitu melihat Jelita dan baby Ar.


"Apa tidak boleh kakak main ke sini,?" tanya Jelita.


"Jadi kau mengusir kami,?" sela Damara yang baru saja masuk di Cafe tersebut.

__ADS_1


"Kakak kau_"


"lya Amara, kau kenapa,? apa kau masih marah pada kakakmu ini? dan kau mengusir istri kakakmu ini, bahkan kau juga ingin mengusir kakakmu juga,?" sela Damara kembali menjeda kalimat Amara yang masih tidak percaya dengan kedatangan kakak yang sudah lama di rindukannya itu.


"T-tidak seperti itu Kak, sebenarnya tadi aku khawatir kalau Kak Jelita sering ke sini maka Kakak akan marah pada Kak Jelita, Aku tidak ingin kalian akan bertengkar gara-gara aku lagi,"


"Siapa juga yang akan bertengkar,? Apa kau tidak tahu kalau kakakmu itu sangat mencintaiku, Coba saja dia berani memarahiku akan ku buat kakakmu itu tidur di luar," ucap Jelita Sambil tertawa renyah.


"Sayang kau jangan seperti itu, mana pernah aku marah padamu,"ucap Damara yang dengan susah payah menelan salivanya karena tak sanggup membayangkan ia tidur di luar kamar.


Amara yang melihat tingkah kedua Kakaknya itu pun jadi tersenyum Ia berbahagia melihat kebahagiaan Kakak dan kakak iparnya tersebut, berbeda dengannya saat ini yang belum tahu kapan kebahagiaannya itu akan memihak padanya.


"Amara Kenapa kau jadi melamun,?" ujar Jelita saat melihat adik iparnya malah hanya diam saja.


"Eh, tidak Kak, itu-anu-itu tadi, maksudnya kedatangan kalian ke sini apa ada yang penting,?" ucapnya untuk menutupi kegugupannya itu.


"Tentu saja, kau penting buat kami, makanya kami ke sini," ucap Jelita dan Damara serempak membuat Amara tersenyum Haru. "Apa kau tidak merindukan kakakmu ini," tanya Damara pada akhirnya.


"Tentu saja aku merindukanmu, Apa kau itu bodoh Kak, bertanya hal seperti itu padaku, mana ada adik yang tidak merindukan kakaknya."


"Lalu kenapa kau masih diam saja di situ,? kemarilah apa kau tak ingin memelukku?" panggilnya dengan merentangkan kedua tangannya, Amara pun menatap kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca, Ia Pun berlari mendekati sang kakak dan menghambur dalam pelukannya.


"Maafkan kakak, kakak salah telah memperlakukanmu dengan tidak adil,"


"tapi aku senang kok, kakak melakukan hal itu padaku, dengan begitu aku bisa sedikit lebih dewasa, tapi aku sangat merindukanmu, Bahkan aku merindukan kakak ipar dan juga baby Ar.


"Lalu kenapa kau tak datang menemui kami,?" "Aku pernah ingin mencobanya, tapi aku takut kau akan mengusirku,"

__ADS_1


"Dasar kau adikku yang paling bodoh, Kenapa kau sampai berpikir seperti itu,? Aku itu kakak mu, satu-satunya keluarga yang kau miliki kenapa kau harus takut untuk bertemu denganku,? aku memang sengaja melakukan hal itu karena aku ingin melihat kau tumbuh menjadi wanita yang mandiri bukan wanita yang cengeng dan kau telah berhasil membuktikannya pada kakakmu ini kakak bangga padamu," Amara pun sangat bahagia mendengar apa yang Kakaknya itu katakan dan mereka pun menikmati waktu yang tersisa untuk bersenang-bersenang bersama.


__ADS_2