Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Kemarahan Darandra


__ADS_3

Pagi.


"Hm eng...suara lenguhan dari Amara membuat Darandra segera terbangun dari tidurnya, ternyata ia juga ketiduran setelah semalaman menunggu Amara yang tidak kunjung sadar. Amara Mulai mengerjapkan ke dua matanya, dan mulai membukanya pelan.


"Aku di mana,?" Tanyanya bingung karena la merasa asing dengan tempat tersebut.


"Apa kau sudah sadar? ternyata lama sekali kau pingsannya? kau tidak sedang bersandiwara lagi kan?"


"Pingsan? sandiwara, aku di mana?" tanyanya bingung dengan wajah terkejutnya.


"Kamu ada di sebuah Kfflinik, karena semalam kamu pingsan, jadi aku membawamu kemari, Apa kau tidak mengingatnya?" Darandra masih menatap Amara yang masih saja terdiam tidak menggubris apa yang ditanyakan Andra kepadanya.


"Kau kenapa? Apa kau merasa ada yang sakit?"


"Kau siapa,? apa Kau mengenalku? Aku siapa?"


"Kamu bicara apa sih? kamu jangan main-main Amara.!" sentak Darandra melihat tingkah istrinya yang nampak seperti orang kebingungan, bahkan berlagak tidak mengenalnya.


"Selamat pagi, maaf aku baru datang, ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu, apa ada yang aneh padaku.?" tanya Tasya yang mendapat kan tatapan berbeda dari Amara, dan juga Darandra Jika la mendapatkan tatapan tajam dari Amara maka lain halnya dengan Darandra, Darandra menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


"Syukurlah kau, datang tepat waktu, aku akan menemui Dokter jika kau tidak keberatan, apa boleh aku minta bantuanmu tolong jaga dia aku mau memanggil Dokter."


"Baiklah jangan khawatir aku akan menjaganya," Sahut Tasya dengan sedikit tersenyum.


Setelah Darandra keluar Tasya pun mendekat.


"Bagaimana keadaanmu saat ini? aku harap kau tidak sedang bersandiwara untuk pingsan dan menggagalkan rencana kami yang sebenarnya," Tuding Tasya.

__ADS_1


"Ap-apa maksudmu kau-kau siapa,?"


"Kau itu sangat lucu sekali Amara, kau sekarang berpura-pura hilang ingatan,? itu tidak lucu. Tapi baiklah aku akan membuatmu ingat kembali siapa aku yang sebenarnya, Aku dan Darandra saling mencintai dan bahkan kami sudah bertunangan, dan akan menikah, tapi kau yang dari dulu selalu mencari cara dan alasan untuk bisa berdua dengannya, kau menjebaknya agar kau bisa menikah dengan Darandra, apa kau ingat sekarang?" Sergah Tasya.


"Dan karena kau pingsan, Darandra menggagalkan bertemuannya dengan orang yang bisa menjamin hidupnya bahagia biar dia tidak susah lagi mengurus Kliniknya, jika kau adalah istri yang baik dan sangat mencintainya lalu kenapa kau selalu menghalangi jalannya, kenapa Amara kenapa?" Tasya mengguncang pundak Amara, namun apa yang di katakan Amara benar-benar membuat Amara bingung.


"J-jadi aku sudah menikah? dan lelaki tadi adalah suamiku,?" Amara benar-benar memasang wajah terkejutnya, namun berbeda dengan Tasya yang memilih diam acuh dengan pertanyaan yang di lontarkan Amara, ia memilih pergi meninggalkan Amara yang la rasa hanya menngerjainya saja.


"Bukankah saya sudah mengatakannya pada Anda jika istri Anda sebaiknya segera untuk di di periksa karena lebih cepat itu akan lebih baik."


"Baiklah Dokter, terima kasih maaf sudah mengganggu Anda," ujar Darandra pada dokter yang menangani istrinya itu, setelah sebelumnya ia memilih menceritakan apa yang di alamai istrinya itu, setelah bangun dari pingsannya Amara berubah tidak mengenalinya.


Darandra pun pamit undur diri kembali akan menemui Amara.


"Andra tunggu aku,!"


"Untuk apa kau mempercayainya? kita buktikan saja kalau dia berdusta atau tidak ketika tidak mengenalmu, aku rasa ini cara dia untuk menghindar karena dia telah menggagalkan rencana kita, yang hampir saja mendapatkan kontrak kerja sama itu," Ucap Tasya mulai memprovokasi Darandra, la hanya ingin membuktikan kalau Amara benar-benar berbohong.


"Ayo kita ke tempat Amara, aku khawatir dia kenapa-kenapa," Timpal Darandra segera mengajak Tasya pergi untuk menemui Amara Tasya pun tak bisa nolak hanya menurut saja apa yang dikatakan oleh Darandra.


"Amara...Amara...Amara...! kemana dia? Ck, kenapa kau harus meninggalkannya bukankah aku menyuruh untuk menjaganya?" sentak Darandra pada Tasya.


"Oh apa ini,? Jadi sekarang kau akan mencoba untuk marah padaku karena istrimu yang kabur itu,! Aku bukan, Aku bukan baby sitter istrimu itu dan untuk apa juga kau marah karena istrimu itu memilih pergi,!


"Sya dia itu istriku aku hanya khawatir,"


"Aku tahu dia istrimu dan aku bukan apa apa mukan?"

__ADS_1


"Tasya aku tidak bermak__" ucapannya terjeda saat melihat Tasya menjauh.


"Tasya...Tasya...tunggu!, kamu jangan seperti ini, aku mohon kau mengertilah!," seru Darandra menahan langkah Tasya.


"Sampai kapan Andra,? sampai kapan,?" tanya Tasya sambil berbalik dan menatap sengit, "Apakah aku akan terus separti ini,? sampai kau benar-benar jatuh cinta padanya,? lepaskan aku, biarkan aku menenangkan fikiran dan jangan mencariku kalau kau memang tidak bisa memutuskan apa yang ada di hati dan pikiranmu itu," Tasya menghempaskan tangan Darandra yang menggenggam tangannya lalu segera berlari dengan cucuran air mata yang sudah mengalir deras di wajah cantiknya itu.


Darandra hanya bisa menarik nafas kasar saat melihat Tasya yang terus berlalu tanpa ingin berbalik menatapnya, namun sejenak ia pun tersadar, bahwa ia harus segera menemukan Amara, ia khawatir jika Amara juga akan lupa jalan pulang.


'Apa tidak sebaiknya aku pulang dulu,' fikirnya memilih untuk mengecek apakah Amara pulang atau tidak.


Dan benar saja begitu tiba di rumah ia langsung membuka pintu kamar.


"Kak, Randra kau kenapa? apa kau mau datang sarapan kebetulan sekali ayo kita makan tadi aku dari pasar, membeli bahan pokok, lalu masak maafkan aku karena tidak pamit, karena aku tau kau sibuk dengan istri mu itu.


"lstri maksudmu, oh ya tentu saja dan kau kenapa? kau kenapa selalu membuat orang khawatir, apa kau tidak tau hanya karenamu aku harus bertengkar pagi-pagi dengan Tasya, ternyata benar kata Tasya kau selalu hidup di dalam kebohongan, kenapa kau berpura-pura hilang ingtan di depanku Amara kenapa,?"


Praaang...


Darandra yang marah membuang semua makanan yang sudah susah payah di buatnya itu, sorot matanya begitu tajam membuat Amara bergidik ngeri untuk menatapnya.


"Kak dengarkan aku, kenapa kau membuang makanan yang susah payah aku buat ini, kau boleh marah padaku tapi tidak seperti ini," sengit Amara memberanikan diri meski sebenarnya sangatlah takut.


"Kau hanya memikirkan makananmu tanpa memikirkan ke khawatiranku,? baiklah mulai sekarang apa pun yang terjadi padamu aku tidak peduli lagi,"


Bruaaak...


Amara begitu terkejut dengan suara bantingan pintu yang begitu kasar, lalu ia pun bergegas masuk di kamar dan menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


'Apa yang harus aku katakan padamu, apakah aku akan mengatakan kalau aku akan segera melupakanmu,? hiks...hiks...hiks."


__ADS_2