Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 43


__ADS_3

"Basah...hujan..basah...!" kejut Amara saat wajahnya terkena siraman Air yang dingin yang si tuang oleh Darandra sendiri.


Amara masih terus mengucek matanya yang kantuk dan terkena siraman air itu.


"Kau, apa yang kau lakukan padau Kak,? kenapa kau tega menyiram ku dengan air,?" Protesnya dengan wajah yang di tekuk.


Namun Darandra tidak mengubrisnya, la hanya diam dengan wajah datar yang tak terbaca.


"Kak, apa kau mendengar ku!?"


"Cepat ikut aku, aku tidak punya banyak waktu," Ucap Darandra menarik tangan Amara membuat Amar hampir saja terjatuh dari ranjang.


"Kau, lepaskan aku,! aku bisa berjalan sendiri," Kesal Amara menepis tangan Darandra yang meriknya dengan begitu kasar.


Namun sesaat kemudian ia berhenti mendadak, membuat Darandra menubruknya dari belakang.


"Amara apa yang kau lakukan!?" peliknya di saat hidungnya begitu sakit terkena kepala Amara.


"Maaf,, aku tak sengaja kau juga kenapa berjalan di belakangku tidak memakai jarak jadi nabrakkan?"


"Sudah diam tutup mulutmu aku sedang buru-buru." Ucapnya kesal, hendak menarik tangan Amara.


"Tunggu dulu, aku dimana,? maksudku kita sedang berada di mana,?" Tanyanya bingung.


"Apa kau tidak lihat kalau kita sedang Apartemen, apa kau juga lupa kalau aku akan membawamu ke Apartemen,?"


"Oh,, iya kau benar sekali, maaf aku sering tiba-tiba lupa bahkan tak mengingat apapun ucapnya tanpa sadar, membuat Darandra mengerutkan alisnya.


"Maksudmu jadi kau seperti hilang ingatan begitu,?" Selidik Darandra dengan persaan gusar. Dan Amara yang menyadari kesalahan ya yang sudah salah bicara dengan susah payah menelan salifanya.


"lt-itu aku, maksudku kemana Caterine,? kenapa aku tak melihatnya, bukankah kau juga menyuruh Caterine tinggal di Apartemen?''


"Caterine,? ayo cepat Aku tak punya waktu lagi aku harus mencari Caterine sekarang!"


"Tapi kak, tunggu aku, Aaaaau...Aaahh...perutku sakit kak..." keluh Amara karena merasakan perutnya tiba-tiba keram.


"Kau jangan bersandiwara lagi di depanku, Amara, aku sedang kehilangan Caterine dan bayinya, kau jangan membuatku semakin tak respect padamu!" ucapnya penuh penekanan.


Mendengar nada suara Darandra membuat Amara mengurungkan niat nya untuk mengajak Darandra menemani nya malam ini karena ia takut dengan kandungannya jika terjadi apa-apa pada calon anaknya itu.

__ADS_1


"Baiklah,, antar aku keluar dari sini biarkan aku pulang sendiri, kau carilah Caterine dan anakmu," ucap Amara lirih menahan sesak, bagaimana tidak di saat ia mengandung anak dari lelaki yang di cintai nya ia malah mendapat kenyataan jika lelaki yang ia cintai itu telah mempunyai anak dari wanita lain yang bukan istrinya, dan di saat ia merasa kesakitan ia malah, mendapatkan kata-kata penekanan.


"Aku pasti bisa melewatinya aku yakin aku bisa,"


Gumamnya dalam hati memberikan kekuatan pada dirinya sendiri.


"Apa kau yakin bisa pulang sendiri?" tanya Darandra mulai khawatir saat melihat wajah pucat Amara.


"Tentu saja, dan kau tidak perlu khawatir aku bisa mengurus diri ku sendiri bukan lah selama ini aku lebih banyak sendiri, oh..ya aku pergi dulu, ini sudah malam aku takut nanti taxinya pergi!"


"Tunggu ambillah ini aku membelikannya untukmu, tadi" ucapnya memberikan sebuah paper bag. Terima kasih Tapi sebaiknya lain kali jangan memberikanku apa-apa hanya takut akan ketergantungan padamu Baiklah aku pergi dulu Selamat tinggal,"


Amara segra melangkah pergi meninggalkan Daranra yang menatap kepergiannya dengan Tatapan yang tak terbaca, la perlahan menyentuh dadanya.


'Kenapa aku merasa tiba-tiba dadaku terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menghimpit?' Lirihnya pelan, saat melihat punggung Amara semakin lama semakin menjauh dari tatapannya.


'Amara maafkan aku jika aku selalu membuatmu kecewa.' Gumamnya lagi


"Randra...?"


"Caterine kau kamana saja,?"


"Lalu kenapa handphone mu tidak aktif?"


"Handphone ku mati, Aku tidak sempat mengaktifkan nya."


"Kau lain kali dengar apa yang aku katakan padamu kau tau aku sangat menghawatirkan mu dan anak kita, dan aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika terjadi apa-apa dengan kalian."


Darandra pun menarik tubuh Caterine dan memeluknya.


"Kau tau Darandra,sekarang aku sudah tidak takut lagi karena ada kau yang selalu ada untuk melindungi ku dan anak kita," ucap Caterine membalas pelukan Darandra.


Tanpa mereka sadari seseorang sedang menatap nya dengan tatapan kecewa.


"Kita putar balik Pak!" perintah Amara pada sang sopir taxi yang di tumpangi nya.


Amara tadi meminta sopir putar balik saat menyadari gelang di tangan nya sudah tidak ada mungkin saja gelang itu terlepas di saat tangannya di tarik paksa oleh Darandra tadi.


Darandra pun membawa Caterine kembali ke apartemen yang di tempati Caterine.

__ADS_1


"Kau jangan khawatir aku akan menempatkan penjagaan di tempat ini jadi tidak akan ada yang berani untuk mendatangi ataupun menyentuh mu" ujar Darandra menenangkan Caterine.


"Kau tidak tau saja siapa yang sedang kita hadapi sekarang ini."


Ucap Caterine namun hanya di dalam hati.


*


"Kau kenapa datang tidak di antar suamimu itu? kau datang hanya naik taxi dan kau lihat ini sudah jam berapa?" tanya dokter David begitu tau kandungan Amara sedang bermasalah. Sedang Amara hanya bisa diam tidak ingin menjawab, karena tidak mungkin kan ia menceritakan apa yang sedang di lakukan suami nya saat ini.


"Kau tau kau hampir saja ke guguran jika kau tak cepat datang kemari."


"Apa hampir keguguran?" kejut Amara benar-benar tidak percaya.


"la tapi sekarang kau tidak usah khawatir semuanya baik-baik saja, istrahatlah dulu malam ini di sini, agar kau bisa mendapat perawatan intensif, dan jangan banyak fikiran, kau itu sedang hamil, ini demi calon buah hatimu."


"Jadi aku haru tinggal disini Dok?"


"Iya,, kau harus tinggal dan di rawat selama satu minggu, kau juga harus bet stres, dan aku akan menyuruh suster Susan untuk menjaga dan menemanimu."


"Baiklah Dok, aku akan ikut apa kata dokter."


"Aku akan memberikan vitamin penguat kandungan dan ingat seperti apa yang pernah aku katakan, kau jangan sampai banyak fikiran."


"Baiklah Dok.."


Tak lama kemudian suster susan pun tiba di ruangan Amara.


"Eh..mm...suster kau harus meneman Nona Amara," ucap dokter David.


"Baiklah Dok, saya akan menemani Nona Amara" timpal suster Susan, kemudian ternyum menatap ke arah Amara.


"Selamat ya Nona atas kehamilan Anda,"


"Terima kasih Suster, tapi sebaiknya jangan panggil aku Nona, kalian itu sudah seperti kakak ku sendiri" Ucap Amara dengan senyum yang merekah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


__ADS_2