
"Lara kau kah itu sayang...?"
Deg.
Baik Amara dan semuanya menoleh kearah suara yang tiba-tiba saja muncul dari dalam.
"Sayang bagaimana kau__"
"Sayang dia Putriku, dia Putriku... hiks hiks hiks"
"Baik Cleo dan Anthony saling memberi tatapan terkejutnya saat Nyonya Bianca memeluk Amara dan memanggilnya dengan nama Lara."
"Sayang biarkan Lara istirahat sejenak karena dia sangat capek dan lelah sebaiknya besok pagi kau bicara dengan nya," ujar dokter James pada istrinya itu.
"Tidak Sayang aku tidak mau berpisah darinya lagi biarkan aku malam ini tidur bersamanya."
"Baiklah Bianca kau akan tidur bersama Putriku malam ini, tapi dia akan membersihkan diri dulu biar kita menunggunya di kamar, bagaimana?"
"Baiklah Cle," ucapnya sambil mengangguk, Cleo pun masuk mengantar Nyonya Bianca kembali masuk ke kamar nya.
"Maafkan istriku dia sedang sakit," Dokter James pun menceritakan semua tentang kejadian yang membuat istrinya sakit kepada Amara.
"Bagaiman kalau kalian menjadi keluarga saja yaitu kau bisa mengadopsi Putri menantuku tapi kau harus menyayangi nya seperti putrimu sendiri, bagaiman Amara sayang,?"
"Hmmm...aku...aku..."
"Kau tenang saja James akan memberikan Darandra mengelola rumah sakitnya itu, asal kau mau jadi putrinya karena aku yakin letak kesembuhan istrinya ada padamu, bagaimana James"
Mendengar apa yang di jelaskan Anthony sahabatnya itu dokter James hanya mengangguk menurutinya.
"Baiklah Daddy, tidak akan khawatir menyerah kan mu padanya, karena Daddy dan Mami akan pulang keluar Negeri dulu untuk beberapa bulan kedepannya Daddy harap Kamu betah tinggal sama Om James.
__ADS_1
"Bukan Om, tapi Papa,!" ujar dokter James mengingatkan.
"Dan sebaiknya malam ini kau bermalam saja Papa tidak ingin jika pagi-pagi Mama mu akan bertanya Lara kemana,"
"Tap, tapi__"
"Aku akan menyerah kan rumah sakitnya besok pada suamimu itu bagaimana,?" ucap menjeda kalimat Amara.
"B-baiklah Om-E...Papa," ucap Amara kaku.
Flashback of.
Amara kini berjalan masuk menuju Rumah sakit, di mana Darandra kini sedang bertugas menjadi pemimpin kepala Rumah Sakit sekaligus menjadi dokter yang harus bertanggung jawab penuh atas rumah sakit tersebut, hari ini memang adalah hari di jadwalkan untuk kedatangan Darandra dari luar negeri, dan setelah memutuskan untuk kembali ke rumahnya Amara pun hendak menuju rumah sakit karena sebelumnya dokter James mengabarkan kalau Darandra saat ini sedang berada di rumah sakit, untuk meninjau beberapa dokter baru yang ia rekrut untuk membantu di rumah sakit itu semenjak kepergiannya.
Amara turun dari mobil yang mengantarnya, dan kini ia mengayunkan langkah kakinya meski masih dengan langkah ragu, namun baru saja ia melewati koridor lorong Rumah Sakit tersebut, tiba-tiba saja matanya disuguhkan oleh pemandangan yang sangat menyesakkan dada dan menyakitkan matanya.
'Tasya? dia berada di sini juga? sebaiknya aku tidak usah mengganggu mereka mungkin saatnya mereka melepas rindu karena mereka juga lama tidak saling bertemu' lirihnya meninggalkan tempat itu.
"Kamu Yang kuat Sayang, Mama Tidak apa-apa kok" ucapnya dengan senyum getir sambil mengelus perutnya yang masih rata itu, dia pun melangkah berbalik meninggalkan Darandra dan Tasya yang sedang asyik bercengkrama.
"Waw...keren sekali, jadi ceritanya kita sedang putus cinta? Hehe...." Darandra terkekeh saat mengingat penjelasan Tasya yang panjang lebar.
"Maafkan Aku, tapi sebenarnya selama ini mungkin kita sebenarnya tidak saling mencintai namun kita itu tak lebih membangun hubungan hanya untuk membuat sebuah pelampiasan saja."
"Apa maksudmu dengan sebuah pelampiasan saja?" tanya Darandra.
"Apa kau tau, apa sebenarnya yang terjadi dengan perasaanmu, dan juga perasaanku selama ini, tanyakan itu dengan hatimu, pernah tidak, kau melupakan aku walau sejenak saja ketika kau bersama orang lain, dan apa kau ingat di saat kau pergi keluar negri untuk kesembuhan kaki Amara, aku tak tau apa yang terjadi pada kalian di sana yang jelasnya kau begitu tampak sangat berubah, bahkan perhatianmu padanya Nampak begitu nyata, namun kau selalu menafikkan itu. Karena kau sebenarnya mencintai nya namun kau takut untuk jatuh cinta dan membangun sebuah hubungan yang serius bersamanya.
Kau membuat tameng dan menciptakan jarak yang begitu nyata pada cintamu, sekarang aku bertanya padamu apa kau pernah merindukanku selama kepergianmu ini?"
Deg.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Tasya membuat Darandra gagu, la bingung untuk memberikan pernyataannya, jika kenyataannya semua ucapan yang di jelaskan Tasya semuanya benar.
"Aku akan fokus dengan keluarga kecilku, berusahalah untuk mencintai Amara karena dia pantas mendapatkan cintamu,"
"Baiklah sebaiknya sekarang kau cepat pergi dari sini, karena aku tak ingin melihat suamimu itu muncul di depanku lalu menghajar wajahku yang masih tampan ini," kelakar Darandra.
"Kau, apa kau tau, suamiku tidak sejahat itu." "Oh,, ya, Benarkah? sekarang kau telah berani membelanya karena dia telah berhasil membuatmu jatuh cinta," ledek Darandra.
"Karena biar bagaimanapun dia adalah suamiku, jadi aku harus membelanya di saat orang lain akan merendahkannya,"
"Oho...lihatlah orang yang sedang jatuh cinta ini, Dan aku juga tidak akan merendahkan suamimu, Aku hanya tidak ingin dia datang mengajar wajahku yang tampan ini, kau tahu kan kalau lelaki sedang bucin? dia pasti akan menghajar semua yang ada di depannya Karena rasa cintanya yang berlebihan,"
"Apa kau juga suatu saat akan seperti itu pada istrimu?"
"Aku,, Entahlah, aku juga tak tahu Apakah aku begitu mencintainya atau tidak sama sekali, maksudku aku ingin dia selalu mencintaiku Meskipun mungkin aku tak pernah mengucapkan kalau aku mencintainya, kau tahu aku juga takut sangat-sangat takut kehilangan dirinya, namun entah kenapa aku belum bisa mengatakan cinta padanya.?"
"Kalau kau takut kehilangan istrimu itu berarti kau mencintainya, Apa kau itu bodoh,? sama sekali tidak mengetahui dan tidak bisa membedakan yang mana cinta dan bukan cinta."
"Entahlah,, aku juga bingung sendiri, Sekarang pergilah,!"
"Jadi kau sudah berani mengusirku?" tidak bukan maksudku seperti itu Bukankah aku sudah memberikan jawabannya sejak tadi aku tak ingin suamimu itu tiba-tiba datang Lalu menghajar wajah tampanku ini,"
"Dan aku sudah mengatakan kepadamu Kalau suamiku itu tidak seperti itu," kesal Tasya, Sedangkan Darandra hanya tertawa meledeknya.
"Baiklah sekarang aku serius kau berbahagia lah, dengan nya."
"Kau juga, selamat atas kesuksesan mu, tapi aku heran siapa yang meyakinkan dokter James untuk menyerahkan Rumah sakitnya padamu!"
"Ntahlah, Aku juga masih di buat heran dengan semuanya, seperti mimpi di siang hari kau tau dokter James adalah dokter ldolaku selain Dad, Anthony.
"Baiklah Aku pamit dulu, Assalamualaikum," ucap uluk salam dari Tasya.
__ADS_1
"Walaikumsalam..." Balas Darandra.
"Amara...!"