
Chatrine menatap nanar langit langit kamar dimana ia sedang di rawat sekarang ini. Tetes air mata terus saja mengalir deras di wajah cantik wanita itu, ia tak habis fikir mengapa ia terus terjebak dalam masalah yang tiada berkesudahan, Bahkan saat ini ia terjebak dalam masalah yang ia ciptakan sendiri, perlahan Chatrine mengelus perutnya yang sedikit membuncit itu.
"Maafkan, Mama yang sudah membuatmu seperti ini, apa pun akan Mama lakukan demi keselamatan nyawamu meski dengan menjebak orang lain, tapi tidak dengan menyakiti hati wanita lain, Karena Mama juga seorang wanita." Ya Catherine, berpikir sebaiknya ia mengatakan semuanya secara baik-baik pada Amara, ia ingin berkata jujur pada wanita yang tak sengaja ia lukai itu.
'Ya sebaiknya Besok aku harus menghubungi Amara aku akan menemuinya dan menjelaskan kepadanya agar tak ada lagi salah paham terjadi antara dirinya dan Darandra.' Gumamnya meyakin kan diri sendiri.
*
Sementara itu di tepi pantai, Deru ombak yang menggulung dan angin yang bertiup sepoi-sepoi, menerbangkan rambut Panjang Amara yang tergerai indah.
Lama ia duduk terpaku menatap deburan yang buih yang memutih, sambil sesekali menarik nafas untuk menghilangkan rasa yang begitu menghimpit nya.
'Maafkan Mami sayang jika Mami terlalu cengeng, baiklah Mami akan memutuskan untuk berusaha kuat melewati semua ini, Karena Ada kalian disini bersama Mami.'
Lagi-lagi Amara mengelus perutnya yang belum nampak itu.
"Ayo aku akan mengantarmu pulang, karena ini sudah sore," Ajak Jhony pada Amara, Membuat Amara berbalik menatap pria itu, dengan sebuah anggukan.
Lalu mereka pun berjalan beriringan meninggalkan tempat tersebut.
"Bagaimana perasaanmu sekarang apa kau sudah jauh lebih baik, dari sebelumnya?" tanya Jhony sambil menatap Amara yang baru saja membuka pintu mobil dan duduk di sampingnya, sedangkan la duduk di balik kemudi.
"Kau tak perlu khawatir, aku masih Waras belom gila, jadi Aku rasa aku akan baik-baik saja." Timpal Amara sambil berusaha untuk tetap tersenyum.
"Baguslah,, aku senang mendengarnya. Lain kali kalau kau bersedih, Kau bisa menghubungi ku. Dan Aku akan siap untuk menjadi sopir pribadimu untuk sementara waktu bagaimana?"
"Tapi Aku berjanji tidak akan bersedih lagi, Apapun yang terjadi aku akan berusaha kuat dan tegar untuk menghadapi masalah yang selalu mendera."
"Apa kau sangat yakin akan bisa melewati masa sulitmu sendiri?"
"Mmm...sebenarnya sih aku tak yakin," ucapnya meragu.
"Hmmm...haaah..." Jhony hanya bisa menarik nafas panjang sambil menggelengkan kepala mendengar jawaban Amara yang sedikit lndicisive itu.
__ADS_1
"Sekarang apa kau ingin singgah untuk makan sesuatu,? karena biasanya kalau wanita sedang kesal pasti bawaannya lapar," Ujar Jhony sambil terus menatap jalan di depan nya.
"Kau benar sekali aku sahgatlah lapar, boleh kita berhenti aku ingin makan bebek Rica-rica." Ujar nya.
"Rica-rica apa kau yakin ingin memakan makanan itu,? kau tahukan itu makanan apa?"
"Tentu saja aku tahu itu makanan dengan banyak mengandung banyak Cili padi, (cabe kecil)."
"Apa tidak ada makanan lain yang sedang kau ingin kan selain itu,? aku takut nanti kau akan menyalahkan ku kalau kau kenapa-kenapa."
"Aku bahakan Aku akan menyalahkanmu jika tidak membawaku kesana!" ucapnya sambil merengut.
"Haaaah....Baiklah," Akhirnya Jhony pun mengikuti keinginan Amara untuk mampir di tempat makan langganannya.
"Kau tunggu aku, Aku akan memesan makanannya untukmu," Ucap Jhony begitu tiba di dalam Restoran, dan mereka pun memilih tempat duduk yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung.
Amara pun memilih menuju toilet karena tiba-tiba saja ia merasa kebelet, la dengan tergesa-gesa bangkit dari duduknya dan baru saja ia hendak berbalik tiba-tiba.
Bugh.
"Apa kau tidak apa-apa Nona,? tanya lelaki asing tersebut, saat menatap Amara begitu intens.
"A-aku tidak Apa-apa, Terima kasih." ucap Amara kaku saat lelaki tersebut masih memegang erat pinggangnya.
"E...ah...Ma-maafkan aku Nona aku T-tidak sengaja." Cicit nya melepaskan pegangan nya pada pinggang Amara.
"A-aku yang salah karena terlalu terburu-buru, " timpal Amara kembali.
"Amara Apakah kau tidak apa-apa?!" tanya Johny yang baru saja tiba dan melihat Amara bersama seorang pria asing.
"Aku tidak apa-apa, Jhon... Aku hanya__"
"Maaf saya pamit Permisi dulu, sekali lagi saya minta maaf Nona," ucap pria itu kembali menjeda kalimat Amara, Sambil menunduk memberi hormat.
__ADS_1
Dan tanpa menunggu jawaban dari Amar Ia pun segera meninggalkan Johny dan Amara yang menatapnya kepergiannya dengan Tatapan yang berbeda.
"Siapa lelaki itu?" selidik Jhony menatap Amara.
"Entahlah,, aku juga tidak mengenalnya, tadi sebenarnya aku ingin ke toilet namun dia tiba-tiba saja menabrakku"
"Owh...sekarang sebaiknya kau segera pergi ke toilet sebelum makanannya datang!" perintah Jhony.
"Baiklah..." Amara pun bergegas pergi meninggalkan Jhony karena la ingin segera menuntaskan hajatnya yang sempat tertunda.
Sementara itu ditempat yang sama namun di ruangan yang berbeda Tepatnya di ruangan VIP Seorang laki-laki mengetatkan rahangnya saat menunggu sang Asisten namun tidak kunjung tiba.
Ceklek.
"Kau kemana saja, Kenapa kau baru tiba,? Bukankah kau tahu aku sangat tidak menyukai seseorang yang tergolong suka telat,!" geramnya dengan gigi yang menggerutuk.
"M-maafkan saya Tuan tadi....maksud saya tadi di luar ada insiden kecil yang membuat saya telat untuk masuk," Ucap sang Asisten dengan sedikit gugup, karena ia faham sang Tuan, dalam keadaan Mod yang tidak baik.
Sedangkan lelaki tersebut menatap Johan dengan tatapan menyelidiknya.
"Apa kau yakin kalau dia adalah Caterine dan siapa lelaki yang bersamanya itu,? kau harus menyelidikinya, Aku tidak ingin ada yang terlewatkan.!" Perintah seorang Pria yang bertubuh tegap dan sispac dengan tatapan tajam, setajam mata elang.
"Saya sedang berusaha Tuan, tapi sepertinya untuk saat ini kita harus menghentikan penyelidikan kita, karena sepertinya Nyonya besar dan Nona Aurora, sudah mengetahui rencana kita Tuan,"
"Maksudmu? Mamy sudah mengetahui Caterine dimana?" tatap lelaki itu dengan tatapan intimidasinya. Membuat sang Asisten hanya bisa menunduk takut.
"Beb-benar Tuan, dan Nyonya mengancam akan mencelakai Nona Caterine jika kita meneruskan pencarian kita Tuan,"
"Kenapa Mamy selalu saja ikut campur dengan segala urusanku Johan, kenapa...?" Teriaknya dengan tangan yang mencengkram gelas yang berisi minuman di tangannya.
"Karena Anda tidak berani tegas dan melawan pada Nyonya Tuan, jika berhadapan dengan Nyonya besar maka Anda seperti seekor kerbau yang di cucuk hidungnya," Ucap Johan Namun hanya cukup di dalam hatinya.
"T-Tuan tangan Anda berdarah....!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...