
Khalid tidak kehabisan akal Ia terus saja lakukan berbagai cara agar bisa meminta maaf pada Lara. Entah mengapa ia merasa Lara adalah wanita yang paling terpenting di dalam hidupnya saat ini.
Sementara itu Lara yang berada di rumah selama satu minggu ini ia terus saja mengurung diri di kamar, Dan tentu itu membuat kedua orang tuanya merasa bertanya-tanya, mereka bingung dengan apa yang terjadi pada putrinya tersebut, karena tidak seperti biasanya Lara akan bersikap seperti itu.
Nyonya Bianca pun mendekati suaminya.
"Apakah Papa merasakan kalau akhir-akhir ini Lara berubah?" Tanya Nyonya Bianca sambil menyentuh tangan suaminya itu.
"Iya Ma, papa juga heran dan sebenarnya ingin bertanya, Kenapa anak itu terus mengurung diri di kamar?"
"Apa jangan-jangan Lara mengingat sesuatu Pa,?"
"Maksud Mama?"
"Papa pasti lebih tahu maksud Mama itu apa," ucap Nyonya Bianca menatap lekat suaminya itu. Dokter James pun menarik nafas panjang
"Tentu saja itu bagus Ma, bukankah itu artinya kalau ia mengingat sesuatu, itu berarti akan membuatnya mengingat siapa kita juga, dan itu tandanya dia ada kemajuan." Timpal dokter James lagi.
Sementara itu di dalam kamar, Lara terus saja memaki seseorang yang selama satu minggu ini terus saja mengusiknya.
"Untuk apa kau menggangguku terus Bukankah aku sudah mengatakannya padamu kalau aku tidak ingin bertemu denganmu! aku sudah memaafkanmu tapi untuk bertemu aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. ucap Lara mengebu karena begitu kesalnya.
"Apa? bunuh diri? Jangan Gila kamu! Terserah kau saja, kau mati atau tidak aku tidak peduli! karena kamu bukan siapa-siapaku!" Lara pun mematikan sambungan sepihak.
*
"Mama, Papa, Lara pergi dulu sebentar ya!" "Lara sayang Kamu mau ke mana nak? ini yang sudah tengah malam!"
"Lara hanya sebentar saja Ma, Pa, bye…" Lara pun bergegas meninggalkan kedua orang tuanya.
"Lara Tunggu dulu Lara…!" teriak Nyonya Bianca Namun Lara terus berlalu.
"Lihat anak kita Pa, Kenapa bahkan sekarang dia keluar hanya memakai baju tidur?" dokter James pun segera menghubungi seseorang.
"Sudah ayo Ma, kita masuk! lagi pula anak itu sudah dewasa kok, Mama jangan khawatir tidak lama lagi kita akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Lara." Ucap dokter James panjang lebar berusaha menenangkan hati sangat istri.
__ADS_1
"Ayo Ma ini sudah larut Mama juga kan harus istirahat, sudah Mama tidak usah memikirkan nya Papa sudah menyuruh orang kepercayaan papa untuk mengawasinya."
"Iya Pa…" ucap Nyonya Bianca singkat lalu mengikuti suaminya masuk untuk beristirahat.
"Cepat Pak kita sudah tidak punya waktu lagi!" teriak Lara pada sang sopir.
"Ini sudah Full Non!" jawab sang sopir taxi yang di pakai Lara keluar. Selang 15 menit Ia pun tiba di tempat yang ditujunya.
"Dimana sih! si Brengsek itu? Kenapa ia selalu saja menyusahkan!" kesalnya terus menggerutu semenjak di mobil, kini Lara terus mencari sosok yang mengancamnya. Hingga ia berlari-lari kecil mencari Ia sama sekali btak melihat siapapun di sana.
la pun merogoh kantong bajunya lalu meraih telepon di dalamnya.
"Kau di mana Brengsek!" tanyanya pada orang yang di seberang telepon bukannya dijawab malah ia mendengar suara kekehan dari seberang sana.
"Sudah kuduga Kau pasti akan datang untuk mencariku kau juga pasti takut untuk kehilangan diriku kan Lara sayang…"
"Hentikan omong kosongmu yang menjijikkan itu brengsek!" bukannya marah mendengar umpatan Lara tetapi orang yang di seberang telepon itu terus saja tertawa.
"Lihatlah di belakangmu Aku ada di sini."
"Aku memang sudah gila, aku gila karena Kau Lara! kau yang membuat aku harus seperti ini,mendekatlah kemari sebelum aku terjun bebas kebawah sana!" Ucap orang tersebut yang tak lain adalah Khalid.
"Aku akan mendekat jika kau turun! karena aku takut ketinggian."
"Baiklah aku akan turun satu langkah, untuk itu mendekatlah," Lara pun mau tidak mau harus berjalan mendekat begitupun dengan Khalid Ia hanya berjalan selangkah demi selangkah.
"Sudah sekarang Apa yang kau inginkan dariku ucap Lara pada Khalid yang berdiri tak jauh dari tempatnya itu.
"Bukankah aku sudah mengatakan kalau kau harus mendekat, Lalu kenapa kau diam di situ saja?"
"Kenapa bukan kau yang datang untuk mendekatiku brengsek, aku kan sudah mengatakan aku takut ketinggian, kesal Lara. "Kau semakin cantik kalau terlihat marah seperti itu, Aku menyukai nya,"
"Aku tidak suka dengan cara bercandamu yang kelewatan seperti ini! apa kau pikir itu adalah wanita-wanita yang selama ini menjadi korbanmu?" ucap Lara
"Dan aku tidak menganggapmu sebagai korbanku, tapi akulah yang merasa sebagai korbanmu. Karena kau cukup cerdas untuk berfikir dan cukup pintar untuk menghindar, Dan aku tidak sedang bercanda sekarang kemarilah!"
__ADS_1
"Aku tidak mau, kalau kau ingin kau saja datang padaku aku sudah cukup sampai disini apa kau kira aku tidak capek berlari-lari hanya untuk menemuimu!" kesalnya.
"Maafkan Aku, Maafkan aku dan segala kesalahanku, aku melakukan semua itu awalnya memang hanya ingin membalasmu.,tapi Seiring berjalannya waktu aku tidak bisa melakukannya padamu, karena bagiku kau adalah wanita yang paling istimewa dalam hidupku setelah ibuku, Khalid pun datang mendekati Lara, dan ia memberanikan diri untuk menyentuh tangan wanita itu.
"Aku mohon kepadamu untuk memaafkan aku," ucapnya sambil berlutut membuat Lara bingung dan salah tingkah tak tahu harus berbuat apa.
"B-bangunlah kalo aku ingin memaafkanmu jangan seperti ini karena kau akan terlihat seperti orang bodoh saja." ucap Lara sedikit gugup.
"Baiklah aku akan bangun,"
"E…" ucap keduanya secara bersamaan Entah mengapa tiba-tiba keduanya merasa canggung.
"Berbicaralah, kalau ada yang ingin kusampaikan!" ucap Khalid.
"Tidak kau lebih dulu, apa yang ingin kau katakan padaku.?"
"Seharusnya wanita yang lebih dulu."
"Ya baiklah, kalau begitu Lara," ucap Lara sambil menarik nafas panjang.
"Aku hanya ingin bertanya Bagaimana kabarmu dan keadaanmu selama ini apa kau sudah membaik.?"
"Sangat tidak baik, dan sangat begitu buruk semenjak kau pergi meninggalkan aku. jawabannya Seperti apa itu dasar pembual!" "Aku serius Lara, tatap aku dan lihatlah mataku Apakah di dalam sini ada kebohongan untukmu?" ucap Khalid lalu menyentuh dagu Lara lalu mengangkat wajahnya, sesaat mata mereka pun saling mengunci dalam Tatapan yang begitu dalam. Dan benar saja Lara tak mendapatkan kebohongan di Mata Lelaki itu.
"Aku merindukanmu Lara, Aku sangat-sangat-sangat merindukanmu." Ucap Khalid sambil memeluk tubuh wanita di depannya itu.
Lara pun hanya tercengang dan terdiam menikmati apa yang dilakukan Khalid karena jujur ia juga merindukan lelaki itu.
"Lepaskan aku Apa kau ingin membunuhku aku susah bernafas!"
Khalid yang tersadar pun segera melepaskan pelukannya.
"lni sudah larut Aku ingin pulang, nanti Papa dan Mama mencariku karena ini sudah tengah malam," ucap Lara dengan wajah yang menunduk dan masih memerah.
"Biarkan aku mengantarmu pulang."
__ADS_1