Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 38


__ADS_3

Danu bangkit dari tempat duduknya sambil menggelengkan kepala, karena masih heran apa lagi, sekarang ini ia baru memperhatikan tubuh wanita itu semakin padat dan berisi.


"Apa ini yang membuatmu banyak makan, Amara, tapi kau terlihat semakin cantik di mata ku,"


Gumamnya namun hanya dalam hati.


15 Menit mereka pun sampai di tujuannya.


"Apa kakak yakin tidak ingin singgah," ucap Amara lagi setelah beberapa saat yang lalu ia menawarkan singgah pada Danu.


"Kau lihat sekarang sudah jam berapa,? lagi pula suamimu itu orang nya cepat marah nanti dia cemburu kalau tau aku mengantar mu pulang."


"Baiklah kakak hati-hati di jalan dan terimakasih atas traktirannya, lain kali terakhir aku lagi ya,'' kelakar Amara saat ingin keluar dari mobil.


"Tunggu Amara ada sesuatu di wajahmu,!" cicit Danu menarik tangan Amara begitu ia hendak melangkah pergi, hingga membuat Amara menabrak dada bidang itu, dan sontak membuat terkejut, dan Amara menatap ke arahnya, Danu pun mengelus lembut ujug bibir Amara yang terdapat sisa makanan.


Dan tanpa sengaja Amara melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis milik Danu dengan spontan Amara pun meraih tangan Danu. Tanpa mereka sadari sepasang mata terus mengawasi apa yang mereka lakukan, dengan kedua tangan yang sudah mengepal.


"Kak kau,!"


"Ya...! aku sudah menikah dengan orang yang tidak aku cintai bahkan dia begitu tega menjebakku. Membuat pernikahan kami harus di percepat, bukankah wanita itu__?"


"Ya...dan dia adalah sepupu Kakak iparmu, tapi kami tidak mengundang siapapun, karena pernikahan kami dadakan tak ada yang tau kalau kami sudah menikah kecuali ke dua orang tua kami karena aku belum ingin mengadakan resepsi."


"Aku harap Kakak, bisa berbahagia," ucap Amara tulus.


"Bagaimana aku bisa berbahagia, Ra, kalau aku mencintai orang yang sudah jadi milik pria lain," ucap Danu sendu.


"Kak..."


"Amara biarkan aku terus mencintai mu meski tak bisa memilikimu karena cintaku bukanlah sebuah dosa, biarkan rasa ini terus di sini," tunjuk nya pada dada sebelah kirinya.


"Tapi Kak. aku tak ingin rasa yang kau miliki akan membuat orang lain terluka, dan aku tidak ingin di salahkan, untuk itu aku mohon, jangan cintai aku, dengan cinta yang terlalu kuat dan besar karena, aku tak ingin kau terperangkap di dalam kisah yang tidak akan mungkin pernah menjadi nyata.


"Belajarlah melupakan aku, meski kau merasa itu akan terasa sulit, karena aku yakin di balik cinta yang kau pertahankan akan ada hati yang akan kau korbankan, sama seperti ku yang memelihara cinta dengan ke egoisan, Aku egois meminta cinta kepada orang yang tidak mencintai ku, berikan hatimu kesempatan untuk mencoba mencintai yang lain, lalukanlah jika ku merasa mencintaiku, dan anggap ini permintaan ku yang pertama dan yang terakhir." Ucap Amara dengan tatapan memohon nya.

__ADS_1


"Mendengar apa yang di kayakan Amara dan permintaannya membuat Danu mengaguk pelan, lalu menatap lekat Amara.


"Boleh aku memelukmu Untuk yang terakhir kalinya, karena mungkin aku akan menetap di luar Negri,"


"Boleh kok Kak.." ucap Amara lalu ia pun membalas pelukan Danu yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


"Sudah, ayo cepat masuklah, sudah pukul satu malam," Amara pun hanya mengangguk, lalu meninggalkan Danu yang kini melangkah masuk ke mobilnya.


Ia pun berbalik dengan mata yang sudah berkaca-kaca, karena ia begitu bahagia tak menjadi orang ke tiga di dalam sebuah perasaan.


Danu pun pergi meninggalkan Amara meski dengan perasaan yang tak dapat di gambarkan.


*


"Kenapa kau begitu lama hah?" sentak Darandra begitu Amara membuka pintu.


"Kak kau,! kenapa kau mengagetkan ku," cicit Amara yang terkejut sambil mengelus dadanya yang masih berdetak tak karuan.


"Kau ikut aku sekarang...!" Amara yang masih mengatur detak jantungnya yang terkejut akibat perbuatan Darandra, kini di kejutkan lagi dengan Darandra yang menyeretnya masuk ke kamar mandi.


"Katakan padaku sekarang apa hubunganmu dengan lelaki Brengsek itu?" Sentak Darandra kembali, dengan tatapan membunuhnya.


"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Kak Danu," jawab Amara yang kini terisak dalam tangisnya.


"Kau jangan pernah bohong padaku Amara,!, Aku pikir Kau adalah wanita baik-baik, tapi ternyata Kau adalah wanita ****** yang menggoda setiap lelaki begitu Ada Kesempatan."


"Kak cukup Kak,! Kenapa kau selalu berusaha menuduhku tanpa bukti yang jelas!" timpal Amara tak kalah sengit.


"Apa kau takut aku melakukan hal yang sama seperti apa yang kau lakukan? sebelum kau menuduh aku, lebih baik kau lihat dirimu dulu apakah Kau juga pantas melakukannya Di Belakangku?"


"Amara kau,!"


Plak.


Sebuah tamparan melayang di pipi Amara membuat amara menyentuh pipinya yang kini terasa panas dan perih.

__ADS_1


Amara yang kesal mendorong tubuh Darandra, hingga membuat lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang.


Amara menyambar handuk kecil yang berada di dalam kamar mandi tersebut untuk menutup tubuhnya. Dan Ia pun segera berlari keluar menuju kamarnya.


Darandra tak tinggal diam ia mengikuti Amara dari belakang.


"Keluar kau dari sini brengsek keluar, Aku membencimu, hiks hiks hiks,"


"Seharusnya aku yang marah padamu, Kenapa kau yang meski marah padaku, kau pulang dengan laki-laki yang sangat mencintaimu, Apakah kau akan berencana pergi bersamanya, untuk meninggalkan aku,?"


"Apa mksudmu?"


"Apa yang kalian lakukan aku sudah melihatnya dari tadi" ucap Darandra menekankan suaranya, Amara yang mendengar ucapan suaminya itu langsung terdiam Ia tidak bisa berkata apa-apa di saat mengingat kejadian di depan rumah tadi sebelum dia masuk.


Wajar saja jika Darandra marah kepadanya karena apa yang dilakukannya terlihat oleh Darandra hanya dari kejauhan.


"Aku, aku minta maaf kau hanya salah sangka dengan semuanya, aku berani bersumpah demi apa pun aku tidak mencintanya aku hanya__Ump"


Amara tak bisa melanjutkan ucapannya karena bibirnya kini sudah dilumat dengan ******* yang berubah menjadi panas dan begitu menuntut.


"Lain kali jangan pernah kau membiarkan dirimu disentuh oleh lelaki lain kalau tidak aku akan membunuhmu atau membunuh lelaki itu" ucap Darandra kembali saat tautan


nya terjeda.


Glek.


Dengan susah payah Amara menelan Saliva nya di saat mendengar nada ancaman dari suaminya tersebut.


"Karena semua yang ada pada dirimu adalah milikku, aku tak ingin ada orang yang menyentuhnya, Apa kau paham!" Amar hanya mengangguk mengingatkan ucapan lelakinya itu.


"Apa kau sudah makan,? aku sudah membelikan Makanan kesukaanmu, bukankah kau sangat suka dengan bebek panggang saus kecap," Amara pun mengangguk cepat dengan kening yang berkerut karena Ia heran kenapa suaminya itu bisa tahu makanan favoritnya padahal sudah lama ia tak memakan bebek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


__ADS_2