
Darandra mengerjapkan kedua matanya ingin membenarkan Apakah penglihatannya salah atau tidak, namun semakin ia mengerjapkan matanya wajah itu semakin nyata itu adalah wajah Amara istri yang selama ini dinyatakan sudah meninggal.
"Apa benar kau Amara? Amaraku masih hidup? Amara Kau adalah Amaraku kan? kau adalah cintaku? dan tangan Darandra bergetar saat mencoba menyentuh wajah wanita di depannya itu.
Lalu tiba-tiba saja air matanya menetes luruh begitu saja, rasa rindu yang sudah lama terpendam membuatnya ingin memeluk dan mencium wanita itu, namun Ia Tak Tega saat melihat wanitanya tidur pulas.
"Kau Jangan takut sayang, aku akan ada sini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Darandra pun merebahkan tubuhnya di samping Lara, Ia pun menarik selimut untuk menutup tubuhnya dan tubuh Lara lalu memeluk Lara dengan penuh cinta, untuk menguapkan kerinduan yang selama ini membelenggu jiwanya.
Bahkan ia tak ingin menutup matanya, takut kalau wanita yang berada di depannya itu hanyalah sebuah ilusinasi atau mimpinya belaka, bahkan ia merasakan hembusan nafas yang hangat menerpa wajahnya aroma tubuh wanita itu masih tetap sama seperti dulu, aroma tubuh yang selalu dirindukan selama ini.
"Akhirnya kau kembali padaku, dan aku tidak akan pernah Melepaskanmu Amara istriku.Kau Cinta Pertama Dan Terakhirku." Lirih nya.
Pagi.
Lara menggeliat sambil mengerjap-ngerjapkan kan matanya karena tadi Entah mengapa dia merasa kalau seluruh tubuhnya begitu kaku, dia merasa seperti terhimpit beban berat.
Lara membuka matanya saat merasakan sesuatu, ia membulatkan matanya secara sempurna saat menyadari kalau kepalanya bukan tidur di Atas Bantal tapi tidur di atas dengan seseorang sambil mencium ketiak dan memeluk tubuh kekar di samping itu.
Bahkan orang yang dipeluknya memeluk erat dirinya, sedangkan kakinya naik di atas kaki Lara seolah tak membiarkan perempuan itu bergerak dari tempatnya, saat mendengar dengkuran dari lelaki di depannya tersebut Lara pun berusaha melepaskan diri. Dan betapa terkejutnya ia di saat menyadari lelaki tersebut sudah polos tidak memakai sehelai benang pun.
"Aaaaa…aaaa…" Teriak Lara tepat di gendang telinga Darandra, hingga membuat lelaki tersebut menutup kedua telinganya.
"Haaa…haaa…lelaki mesum, lelaki brengsek apa yang telah kau lakukan padaku dan kenapa kau melakukan ini padaku,? haaa...haaa"
"Sayang kenapa kau menangis? aku tidak melakukan apapun padamu? kita hanya tidur, dan aku memelukmu karena aku sangat merindukanmu, kemarilah sayang," ucap Darandra dengan mata yang masih terpejam berusaha menggapai tubuh wanitanya itu.
__ADS_1
Namun Lara berusaha untuk memberontak.
"Lepaskan aku brengsek! aku mau pulang dan aku bukan wanita ******, lepaskan aku!"
"Kau itu istriku, dan tidak ada orang yang menganggap mu wanita ******." Timpal Darandra.
"Hahahaha...istri kau bilang aku istrimu? apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan itu? atau kau sudah mulai sinting? hingga kau tidak bisa membedakan aku dengan istri mu! bahkan aku saja belum pernah menikah sama sekali!" ucap Lara sambil tertawa, mendengar Kata-kata Lara Darandra pun membuka mata dan mengurai pelukannya, la pun kembali menatap Lara begitu lekatnya, membuat Lara salah tingkah dan mati kutu.
"Kenapa? tatap aku Amara! aku adalah Andramu dan kau adalah Araku!" tegasnya penuh penekanan dan kembali memeluk tubuh Lara.
Namun kali ini Lara tidak ingin tinggal diam ia berusaha memberontak untuk melepaskan diri.
"Kau jangan bergerak karena akan bahaya jika ia sudah bangun!" peringat Darandra pada Lara, namun Lara tidak peduli, la terus saja memukul dada bidang itu dengan tangan mungilnya, bahkan ingin keluar dari pelukan lelaki asing yang tidak di kenalnya itu.
Suara Lara menghilang di bungkam oleh satu pangutan dari Darandra yang awalnya ia berusaha menolak namun ntah mengapa ia begitu menikmatinya, ia pun berusaha untuk membalasnya. Darandra menarik sudut bibirnya saat menyadari kelemahan wanitanya itu.
"Ternyata kau tidak pernah berubah," Gumamnya.
Darandra yang sudah sekian lama tidak pernah merasakan semua itu kini kembali bergairah di saat wanita di bawah tubuhnya itu mendesah akibat ulahnya, bahkan kini ia sudah melemparkan semua pakaian yang melekat di tubuh wanitanya. Lara memejamkan matanya saat merasakan sesapan lembut dan balaian halus yang mempermainkan ujung di kedua gundukan nya itu, bahkan tanpa sadar tangan nya terus menekan agar Darandra menyelaminya lebih dalam lagi.
Kini tangan Darandra turun kebawah pusar dan menyingkap benda yang membentuk segi tiga itu, lalu membuangnya kesegala arah, perlahan ia menyentuh dengan lembut sesuatu yang sudah lembab di bawah sana, dan Lagi-lagi Lara di buat terhenyak dengan permainan Darandra, namun entah mengapa ia tidak bisa menolaknya ia merasa seperti ada sesuatu yang mengikat diri nya dan Darandra namun ia tidak tahu apa itu.
"A-aku Ahk…" suara Lara tertahan karena malu di saat merasakan sesuatu yang akan tumpah. Darandra yang menyadari mempercepat permainannya hingga terlihat tubuh Lara yang bergetar mencengkram ujung seprai yang berada di bawahnya.
"Bersiaplah aku akan melakukannya," ucap Darandra, Lara berusaha menahan Darandra untuk tidak melakukan nya namun Darandra yang sudah terbawa hasratnya tidak menggubrisnya.
__ADS_1
"Ahhk ahk sakit pekik Lara!"
Deg.
"Siapa wanita ini kenapa dia masih__?" Darandra menjeda kegiatan nya lalu segera turun dari atas tubuh Lara, kini ia pun bergegas turun dari ranjang dan meraih handuk yang sudah tergeletak begitu saja di atas lantai ia pun bergegas hendak ke kamar mandi.
"Kenapa-kenapa kau berhenti melakukannya?" tanya Lara yang sudah berdiri dengan derai air mata bahkan ia tidak mempedulikan kalau ia tidak memakai apapun sekarang, membuat Darandra memalingkan wajahnya.
"Aku bertanya kenapa kau berhenti melakukannya? dan kenapa kau memalingkan wajahmu dariku?"
"Maaf…maafkan Aku, Kau benar sekali, kau bukan Amara istriku, hanya saja wajah kalian begitu mirip." Ucap Darandra penuh sesal.
"Kau,! kau benar-benar lelaki brengsek Aku membencimu aku membencimu!" Lara terlihat begitu terpukul mendengar jawaban lelaki itu.
"Kau jangan khawatir kita akan menikah aku akan bertanggung jawab untuk semuanya tapi, Aku tidak bisa mencintai mu karena hatiku sudah terkunci untuk Amara."
"Memangnya istrimu kemana?" tanya Lara mulai kepo karena ingin tahu kenapa lelaki itu menganggap nya begitu mirip dengannya.
"Dia sudah tiada, Aku sudah terlalu banyak menyakiti nya hingga ia pergi meninggalkan aku untuk selamanya,"
"Dan kau ingin mengulang kesalahan yang sama dengan menikahiku, anggap kita tidak pernah bertemu, aku akan pergi dari sini, kemarikan handuk nya," Lara menarik handuk yang di pakai oleh Darandra hingga membuat lelaki itu sedikit kesal dan menahan rasa malu di saat tubuhnya kembali polos.
"Kau tidak usah bertingkah seperti itu! bukanlah kita sudah saling melihat, bahkan aku hampir merasakan nya," ucap Lara sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Darandra hanya bisa menarik nafas dengan kasar sambil membulat kan matanya mendengar ucapan Lara tadi.
__ADS_1