Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Lupakan.


__ADS_3

"Lepaskan Darandra, berhentilah untuk mencintainya,"


"A-apa maksudmu, aku tidak faham Jhony,?"


"Lupakan Darandra, aku memintamu karena Tasya, maksudku, biarkan mereka hidup bahagia," tutur Jhony.


"Jhony, aku tau kau mencintai Tasya, tapi kenapa kau menyuruhku melepaskan Darandra untuknya,? asal kau tau, tanpa aku melepasnya pun dia sudah terlepas dariku, dia memilih mencintai dan ingin berasama Tasya jadi untuk apa kau menyuruhku untuk melepasnya, apa kau puas sekarang?" timpal Amara.


"Kau pernah menghiburku dan menyemangati ku untuk tidak bersedih lagi lalu sekarang,?" Amara bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Jhony.


"Amara tunggu, aku akan menjelaskan semuanya padamu,!" Jhony berusaha mengejar langkah kaki Amara dan berusaha mencegatnya dan begitu berhasil Amara menatapnya dengan tatapan yang berkaca-kaca.


"Aku membencimu Jhon...," Amara menghempaskan tangan Jhony lalu kembali hendak pergi namun tiba-tiba.


Bugh...


"Kak, Darandra,? Tasya,?" cicit keduanya terkejut, dan saat itu juga Darandra menarik pergelangan Amara, tanpa sepatah kata pun membawa Amara keluar dari tempat tersebut,


sedangkan Tasya masih menatap Jhony dengan tatapan tak percayanya.


"Aku salah, Aku salah telah percaya padamu,"


Tasya pun berlalu dengan rasa sakit di hatinya di saat dengan nyata ia melihat Jhony hanya berdua dengan Amara.


Sementara itu Darandra terus saja membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, tentu dengan wajah datarnya.


"Kita mau kemana Kak,?" Tanya Amara memecah kesunyian di saat Darandra hanya diam saja tidak berbicara sepatah katapun padanya dan itu jauh lebih menakutkan dari pada Darandra yang sedang mengamuk, apa lagi sekarang Darandra membawa mobil dengan kecepatan tinggi hingga kini ia pun tiba di suatu tempat yang nampaknya seperti Bar.


"Kanapa kita harus kesini sih Kak,?" cicit Amara yang nampak mulai ketakutan, namun ketakutannya hilang seketika di saat ia masuk, kini ia duduk di sebuah kamar yang berukuran mini malis tersebut, sedangkan Darandra sendiri masih di luar memesan beberapa minuman dan cemilan.


Bar yang ia datangi memang tergolong unik karena di lengkapi dengan kamar tidur VIP yang kedap suara tentunya apa lagi Bar tersebut berada di pinggiran ibu kota jadi jauh dari keramaian dan di kelilingi taman yang indah di sekelilingnya, sekilas terlihat nampak seperti Villa, mungkin sesuai dengan namanya, VilBar.

__ADS_1


Ceklek.


Suara pintu terbuka mengejutkannya ia pun segera berdiri dan melangkah menuju pintu "Kak, katakan padaku kita kesini mau apa,?" tanya Amara saat melihat suaminya datang dengan wajah yang berantakan apa lagi rambutnya yang sudah acak-acakan.


"Apa kau minum,? kenapa kau harus minum-minuman beralkohol kau tau itu akan merusak kesehatanmu, bukankah kau seorang dokter,? Tapi kenapa kau jadi seperti ini," Amara yang sudah menunggu lama karena Darandra akan keluar mencari makanan dan minuman malah mendapatkan suaminya pulang dalam ke adaan mabuk berat.


"Aku membencimu- aku membencimu Amara," igau Darandra masih dalam ke adaan mabuknya.


"Aku tau itu heh..." Amara tersenyum sendu menatap wajah kusut Darandra yang kini memejamkan mata itu.


"Bahkan di dalam kau tak sadar pun kau membenciku, aku rasa aku memang tak pantas untukmu," Amara menyeka sudut mata nya yang mulai basah, ia pun segera membersihkan tubuh suaminya itu, setelah semuanya rapi Amara pun memilih keluar tak lupa ia menuliskan sebuah pesan di atas selembar kertas memo.


"Maaf jika aku harus meninggalkanmu sendiri, karena aku rasa ada hal yang jauh lebih penting yang harus aku lakukan sekarang ini daripada hanya tinggal bersembunyi di tempat seperti ini," Amara mendesah perlahan membuang sedikit rasa sesaknya, setelah merasa sedikit lega ia pun melangkah meraih handle pintu sebelum keluar, Ia masih menyempatkan diri berbalik menatap tubuh lelakinya yang masih terbujur dalam selimut di atas ranjang tersebut.


"Aku akan berusaha mencari tahu semuanya dan maafkan aku jika aku terlalu lancang Aku hanya ingin melihatmu baik-baik saja, dan jangan mencariku sebelum semuanya selesai" Ucapnya lalu keluar meninggalkan kamar tersebut.


*


*


*


'Aku cuma bermimpi, tapi kenapa mimpi itu,? mimpi yang sama terulang kembali,? dan kali ini seperti nyata?' lirihnya.


'Aukh,, ahk...kenapa kepalaku pusing,? ahk...' Darandra berusaha bangkit dari tidurnya meski kepalanya masih terasa berat.


'Amara...Amara...Amara...!' Darandra terus saja berteriak memanggil nama Amara namun tak ada jawaban.


'Kemana perginya Anak itu,? ini kan sudah pukul 01:00 malam mana perutku mual lagi' Darandra memegang kepala nya yang masih terasa pusing, sedang perutnya terus saja bergejolak membuatnya ingin muntah.


Namun samar-samar matanya menangkap sebuah memo yang tersimpan tak jauh dari tempatnya berbaring.

__ADS_1


"Jangan mencariku, aku pergi duluan dari pada aku menunggumu aku memilih pulang lebih dulu, minumlah, minuman yang sudah aku buat untukmu, kau bisa menghangatkan nya lagi, agar kau tidak mual dan kepalamu tidak sakit, lain kali jangan minum kalau kau tak bisa minum, kau itu sangat payah dan memalukan sekali, mengajakku keluar malah kau tinggal mabuk, cepatlah pulang aku menunggumu di rumah."


Setelah selesai membaca surat dari wanitanya itu Darandra pun melebarkan senyumnya sambil merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur dengan membentang kan kedua tangannya.


'Sial ini gara-gara si brengsek itu dia menantangku minum,'


Flashback on.


Darandra yang baru saja keluar dari kamar yang di pesannya bersama istri yang kini ia suruh menunggunya di dalam kamar saja.


Bugh.


"Kau, apa kau tidak melihat kalau aku sedang buru-buru,?" sentak Darandra, pada seseorang yang baru saja menabraknya itu.


"Maafkan saya Bung, karena saya tidak sengaja menabrak Anda," ujar orang tersebut sambil membungkuk memberi hormat.


"Tunggu sepertinya aku mengenalmu," ujar Darandra membuat orang tersebut mengangkat wajahnya.


"Thomas...Darandra," ucap keduanya sama-sama terkejut lalu saling berpelukan, bagaimana kabarmu sekarang? apa kau sudah menikah?" tanya Thomas.


"Tentu saja sudah, kau sendiri bagaimana,?"


"Sama, dan apa kau tau aku kemari karena wanita itu, semenjak dia hamil membuatku bingung dengan permintaan anehnya dan aku kesini untuk menenangkan diri" tutur Thomas dengan wajah memelasnya.


"Sekarang mumpung kau ada disini temani aku, kalau kau tak mau melihatku bunuh diri di depanmu," ucapnya sambil mencekik lehernya sendiri dengan gaya lucunya.


"Tapi aku kemari bersama wanitaku, maksudku istriku pasti sedang menungguku sekarang ini," ujar Darandra kembali.


"Lupakan saja wanita-wanita itu, untuk sesaat, aku yakin setelah ini kau juga akan merasa rilex dan melupakan sedikit masalah yang kau hadapi saat ini," ucap Thomas dan bagai sapi yang dan cucuk hidungnya, Darandra menerima ajakan pria yang pernah menjadi sahabat terbaiknya waktu di Kampus bersama Arya dulu namun karena orang tua Thomas waktu pindah ia pun ikut pindah.


Flashback of.

__ADS_1


__ADS_2