Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 59


__ADS_3

"Aku tidak menyangka jika anak semanis ini adalah anak kalian, dan aku minta maaf karena telah merepotkan kalian dan terima kasih banyak karena kau telah membawaku kemari ucap Darandra menatap Jhony.


"Kau tidak perlu sungkan kepada kami, kita ini saling mengenal dan tidak seharusnya aku membiarkanmu tergeletak di pinggir jalan malam itu," Darandra hanya bisa tertunduk malu membayangkan bagaimana ia semalam sampai tak ingat apa-apa di saat Jhony menolongnya.


"Kau sudah terlalu jauh melangkah, Apa kau tahu jika Amara mengetahui semua ini pasti dia akan kecewa berat." Ucap Jhony.


"Apa kau tahu apa yang menyebabkan Amara pergi meningalkanmu,?"


"Tentu saja karena aku suami yang paling brengsek yang mencintai tapi harus melukainya." Ucap Darandra penuh sesal.


"Amara menderita Amnesia,"


"Apa Amnesia?" Darandra begitubterkejut mendengar kenyataan yang di dengar dari Jhony sendiri.


"Ya,, dia Amnesia, apa kau tidak sadar Amara selama ini beberapa kali pingsan dan mengeluh sakit dikepalanya dan apa kau tahu kalau dia masuk rumah sakit pun karena itu,Dan rumah sakit yang dimiliki oleh Tuan James Amaralah yang datang memohon Tengah malam agar kau bisa di Terima di rumah sakit itu, karena itu permohonan dari Amara sendiri makanya Tuan James pun mempertimbangkannya, dan apa sekarang kau akan menyia-nyiakan segala pengorbanan Amara kembali,?" Darandra masih terdiam dalam keterkejutannya mendengarkan penjelasan dari Jhony dan Tasya, entah apalagi yang akan didengarnya tentang wanitanya itu, wanita yang di anggap benalu dan anak kecil namun mampu bertahan meski dalam keterpurukan, dan rasa menyesal pun kembali menggelayut di hatinya.


"Aku ingin pulang, Terima kasih untuk semuanya," ucap Daranda setelah sekian lama terdiam, Tasya dan Jhony hanya saling menatap dan mengangguk kecil mengiyakan. Karena mereka paham bagaimana perasaan Darandra saat ini la butuh waktu untuk merenungi setiap kejadian yang terjadi pada hidupnya.


Darandra pun segera bergegas keluar karena air mata penyesalannya ingin segera ia tumpahkan dengan meraung-raung. Meski ia sadar sebagai lelaki ia tidak boleh cengeng, tapi membayangkan betapa sakit dan menderita nya Amara selama ini membuatnya semakin kian terpuruk dalam penyesalan yang menyesakkan.


"Sayang boleh aku bicara Empat mata dengan Daranda?" pinta Tasya pada sang Suami.


"Baiklah tapi jangan Lama-lama karena kau akan membuatku cemburu," Tutur Jhony menarik pinggang istrinya lalu mengecup pucuk kepala wanitanya itu.


Tasya hanya bisa tersenyum dengan kebucinan suaminya yang semakin hari semakin begitu posesif.


la pun segera mengejar langkah Daranda yang kini hendak keluar.

__ADS_1


"Tunggu Andra…!" Daranda yang mendengar namanya di panggil oleh suara yang sangat dikenalnya itubkini berhenti tanpa berbalik. Maaf maafkan aku yang dengan sengaja menahan langkah tapi boleh aku berbicara empat mata padamu?"


"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku rasa aku akan baik-baik saja setelah ini,"


"Aku mengenalmu dan aku tau apa yang sedang kau rasa selama ini. Percayalah padaku suatu hari nanti Amara pasti kembali membawa cintanya untukmu untuk itu persiapkan dirimu karena mungkin kau akan susah untuk menaklukkan hatinya kelak, karena hatinya yang pernah kau lukai," Darandra pun berbalik menatap Tasya dengan kedua tangannya disimpan di dalam saku celananya.


"Terima kasih untuk semuanya, dan sekarang masuklah, Aku tidak ingin suamimu beranggapan yang tidak tidak tentangku, dan tentang mu." Ucapnya berujar.


"Kau tidak perlu khawatir kalau tentang itu, sebelum aku menemuimu aku lebih dahulu meminta izinnya, dia itu bukanlah Jhony yang dulu karena Jhony yang dulu sudah hilang, untuk Itulah kenapa aku kembali memilih untuk mencintainya, karena aku tidak ingin diantara kita harus ada penyesalan di kemudian hari,"


"Baiklah selamat berbahagia aku pamit undur diri dulu," Tasya pun menatap kepergian Darandra dengan tatapan penuh arti, Tasya pun berbalik hendak kembali namun tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan Riri yang tiba-tiba saja menangis sesenggukan seperti orang ketakutan.


"Riri sayang kamu Kenapa Nak?"


"Pap-Papa Ma…" Ucapnya terbata karena masih terisak


"Kenapa sayang," Tasya kembali bertanya dalam ke adaan binggung.


Deg.


Mendengar semua itu jantung Tasya seperti Berhenti Berdetak bahkan kakinya tidak bisa berjalan.


"Mama...Mama...ayo cepat selamatkan Papa!" tangis histeris Riri kembali terdengar, sambil terus terisak, kini tangannya segera menarik tangan sang Mama yang masih berdiri bergeming pada tempatnya.


Tasya hanya mengikuti kemana langkah Riri sedangkan otak dan pikirannya seolah tak bisa lagi untuk dipergunakan.


Namun begitu la tiba di depan tubuh Jhony yang sedang terkapar dengan wajah pucatnya bahkan Darah segar mengalir dari kedua hidungnya.

__ADS_1


"S-suamiku...suamiku kau kenapa," tanya Tasya begitu gugup, bahkan suaranya kini tercekat, sambil menyentuh pundak suaminya.


"Bangun suamiku, kau jangan bercanda seperti ini, kau tahu aku tidak suka dengan cara bercandamu yang kelewatan, Ayo cepatlah bangun...kau jangan membuat Riri ketakutan, Ayo bangun suamiku,"


Tasya kembali mengguncang dengan keras tubuh suaminya namun tetap saja Jhony sudah tidak bergerak lagi.


"Papa bangun Pah, Papa bangun jangan tinggalkan Riri sama Mama, Papa...Mama..Riri takut sendiri," ratapan Riri membuat Isak tangis Tasya semakin kencang.


"Mama kita harus bawa Papa ke rumah sakit cepat Mama telepon dokter Riri yang segera menyadarkan Tasya Ia pun segera meraih teleponnya untuk segera menghubungi dokter.


"Darandra Lebih baik aku menelpon Darandra," dan Tasya pun segera mendal nomor Darandra karena nomor Darandra lah yang pertama terlihat olehnya.


"Halo ada apa Sya?" tanya Darandra begitu melihat nomor siapa yang menghubunginya Cepatlah kemari tolong aku cepatlah," Teriak Tasya di ujung telepon sambil terisak, lalu ia mematikan teleponnya.


"Halo Tasya Kau kenapa Sya?" Darandra menatap teleponnya.


"Ck, dimatikan jangan-jangan Jhoniy? Jhony tidak mungkin akan berlaku kasar pada istrinya bukan,? Tasya sudah meminta izin kepadanya untuk berbicara Empat Mata denganku?" pikiran Darandra terus menerawang ke mana-mana, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada Tasya karena Tasya tadi sempat menemuinya sendiri.


"Pak Bisa tidak kita balik arah ke Jalan Ini, minta Darandra pada sang sopir taksi.


"Baik Tuan saya akan membawa Anda ke sana,"


"Terima kasih Pak," ucap Darandra kembali.


"Ada apa Sya__?" Darandra tak bisa melanjutkan kalimatnya di saat melihat Tasya memangku kepala Jhony di pangkuannya sambil terus terisak dengan isakan yang menyayat hati. Darandra pun segera memeriksa denyut nadi milik Jhony.


"lkut aku kita harus segera membawanya ke rumah sakit, dan segera melakukan pemeriksaan" ujar Darandra lalu membopong tubuh Jhony untuk segera dibawa ke rumah sakit.

__ADS_1


Pak bisa minta tolong bawakan kami ke rumah sakit di jalan xxx ucap Darandra pada sang sopir taxi tadi.


Sang sopir pun hanya menjawab lewat anggukan untuk mengiakan.


__ADS_2