
Tasya menjeda kalimatnya begitu melihat Siapa yang datang bersama dengan sang suami.
"Darandra dia kenapa suamiku sayang?" "Sebaiknya aku membawanya masuk biarkan dia beristirahat, Setelah itu kita berbicara nanti" Tasya hanya menganggukkan kepala cepat mengikuti apa yang dikatakan sang suami.
"Berikan ini padanya ini akan mengurangi rasa mual di perutnya di ucap Tasya membawa cangkir minuman hangat untuk Darandra. "Terima kasih sayang kau sudah bersusah payah membuatnya,"
"Sudah tidak apa-apa, Biar bagaimanapun aku pernah dekat dengan Darandra, dan aku tahu dia itu orangnya seperti apa? dia tidak pernah sehancur ini, ternyata kepergian Amara adalah pukulan terberat di dalam hidupnya," ujar Tasya.
"Sebaiknya aku berikan ini dulu untuknya agar ia cepat beristirahat, Kasihan dia Timpal Jhony pada istrinya. Tasya hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan sang suami.
"Minumlah ini agar rasa mual mu bisa sedikit hilang ucap Jhony memberikan satu gelas yang berisi minuman hangat kepada Darandra, dan Darandra meraih kelas yang disodorkan oleh Jhony lalu meminum minuman itu sehingga tandas.
"Sekarang kau boleh tidur agar besok pagi tubuhmu bisa kembali segar," Ucap Jhony
"Di mana dia?" tanya Darandra kembali. "Katakan padaku di mana kau sembunyikan Amaraku aku sangat merindukannya, aku sangat mencintainya, katakan padanya aku meminta maaf, Kenapa dia tidak mau datang menemuiku,? Apakah dia tidak mau maafkanku,? atau dia tidak lagi mencintaiku,?"
"Sebaiknya kau istirahat dulu, besok setelah Kau bangun baru kita berbicara bagaimana?" ucap Jhony, Darandra hanya mengikuti apa yang diucapkan oleh Jhony padanya karena dia juga merasa kalau kepalanya masih terasa sangat pusing.
"Sayang bagaimana,?" tanya Tasya begitu suaminya masuk di dalam kamar.
"Kemarilah sayang…" Panggil Jhony pada Tasya yang sudah berbaring di atas tempat sedangkan diri sendiri pun kini merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
Tasya pun kini mendekat, sedang wajahnya kini berada di dada bidang lelakinya itu. Jhony merengkuh tubuh sang istri lalu membawanya ke dalam dekapannya. Jhony perlahan menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Bagaimana dengan dengan keadaan Darandra sayang?" tanya Tasya kau benar sekali Sepertinya dia sangat Terpukul dengan kepergian Amara, kasihan sekali dia di saat seperti ini tidak ada orang yang mempedulikannya, tapi aku yakin Darandra sedang menjalani hukuman sebagai bentuk kasih sayang dari orang-orang yang sangat menyayangi dan mencintainya, terima kasih ucap Jhony menatap sang istri.
"Untuk apa,?" tanya Tasya bingung.
"Untuk kau yang selalu ada di sisiku, yang tidak pernah meninggalkanku, terima kasih karena kau selalu ada untukku, Aku sangat sangat sangat mencintaimu Sayang,"
"Seharusnya aku yang mengatakan itu, kau telah membuktikan pada dirimu dan juga pada diriku kalau kau pantas untuk menerima cintaku kembali, Kau adalah laki-laki pertama yang membuat aku jatuh cinta, dan yang mengajarkan aku cinta, mengajarkan aku artinya Setia, mengajarkan aku arti terluka, mengajarkan aku arti menangis, arti Tersakiti, dan arti memaafkan, bahkan kau sudah banyak berjuang dan bersabar menghadapi ku, mungkin karena itulah aku secepat itu percaya padamu kembali, karena aku melihat di matamu hanya ada cinta untukku," Tasya menatap suaminya dengan tatapan berkaca-kaca.
"Terima kasih sayang," ucap Jhony kembali mengeratkan pelukannya.
"Tapi Apa kau tahu ada rahasia besar yang aku sembunyikan darimu untuk itu Maafkan Aku atas ketidakberdayaanku untuk mengatakannya kepadamu." "Apa yang kau maksudkan ini sayang?" Tasya mengendorkan pelukan suaminya dan menatap wajah Jhony dengan begitu lekatnya.
"Apa kau yakin kau akan sanggup untuk mendengarnya,? Jika aku berkata jujur padamu setidaknya aku bisa mengetahui apa yang Kau rahasiakan dariku selama ini, dan jangan bilang bahwa kau menyukai wanita lain di luaran sana,?" tuduhnya dengan wajah yang ditekuk Jhony pun tersenyum melihat wajah cemberut istrinya itu.
"Apa kau masih meragukan kesetiaanku,?" "Entahlah mungkin saja." Ketus Tasya.
"Aku senang melihatmu kalau lagi cemburu seperti ini Jhony pun memberikan sebuah kecupan di bibir istrinya bahkan kini dia melakukannya begitu dalam bahkan tangannya mulai menyusup kebagian kesukaannya, membuat Tasya tak bisa menolak lagi Ia pun ikut terhanyut di dalam permainan suaminya itu.
"Boleh aku melakukannya hari ini?" tanya Jhony pada Tasya, Tasya pun hanya mengangguk pasrah saat melihat mata suaminya yang sudah diselimuti oleh kabut gairah, malam panas pun kini mereka lewati dengan saling memberi dan menerima.
Dengan suara erangan yang bersahutan silih berganti mereka menikmati nikmatnya surga bercinta pada malam ini, Tasya benar-benar lupa dengan apa yang ingin Jhony katakan.
Pagi.
__ADS_1
Darandra menggeliatkan tubuhnya yang terasa seperti habis tertimpa beban yang sangat berat, sedangkan kepalanya masih terasa terus berdenyut. Samar-samar ia mendengar ketukan pintu dari luar Darandra pun mencoba untuk membuka matanya.
la sedikit mengerjapkan mata saat menyadari kalau tempatnya bukanlah di rumahnya.
'Aku berada di mana? dan siapa yang membawaku pulang ke tempat ini?' kembali terdengar ketukan pintu dari luar.
"Om… boleh saya masuk teriak… seorang anak kecil yang tak lain adalah Riri.
"Masuklah mungkin pintunya tidak dikunci sahut Darandra dari dalam, Riri pun masuk dengan wajah Comelnya.
"Assalamualaikum Om Selamat pagi Mama dan Papa menyuruh Riri membawa ini Om,"
"Kau siapa? apa aku mengenalmu?"
"Om… tidak mengenalku tapi Om akan mengenal Papa dan juga Mama" jawab Riri mendekati Darandra yang masih duduk di tempat tidurnya, siapa Mama dan papamu?" tanya Darandra masih penasaran.
"Nanti Om akan bertemu juga kok Sekarang Om minum-minuman ini biar kepala Om tidak sakit lagi, lalu mandilah biar tubuh Om kembali fress," Riri pun menyodorkan sebuah gelas yang berada di atas nampan yang dibawanya.
"Terima kasih," ucap Darandra meraih gelas yang ada di atas nampan lalu meneguk air hangat yang di bawa Riri.
"Kau adalah anak yang baik dan cantik pasti kedua orang tuamu juga adalah orang yang baik." Ucap Darandra memuji.
"Kau benar sekali Om,, kedua orang tuaku memang orang tua yang sangat baik karena mereka aku bisa jadi seperti sekarang ini, kalau tidak mungkin aku akan selamanya berada di Panti Asuhan,"
__ADS_1
"Panti Asuhan,? maksudmu,?" orang tua kandungku membuangku Om mungkin mereka tidak menginginkanku begitulah mereka membuangku di depan panti asuhan mereka mungkin tidak ingin mengakuiku sebagai anaknya,"
Darandra tertegun dengan kalimat terakhir Riri, dia mendengar apa yang dikatakan oleh Riri lalu mengingat kembali apa yang pernah dan telah dia katakan kepada Amara waktu itu yang tidak menginginkan anak dari kandungannya, tapi ternyata wanita itu Tengah mengandung kedua anaknya dan Entah bagaimana kabar mereka saat ini.