Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 41


__ADS_3

"Johan Kau, kenapa kau ada di sini,?"


Mendengar namanya di sebut lelaki yang berada di depan Caterine pun mengangkat kepalanya.


"Caterine kau,? kenapa kau juga berada di sini,?" kejut Johan.


"Bukan urusanmu,! sekarang menyingkirlah dari hadapanku, aku mau pulang,"


"Baiklah silakan," ucap Johan segera menyingkir, sedangkan Caterine sendiri jangan di tanya tentang perasaan nya saat ini, jantung nya saja seperti hendak lepas dari tempatnya.


Dan tanpa membuang waktu lagi Caterine segera naik taxi yang sudah di pesannya dari tadi.


"Astaga itu tadikan Caterine,? lalu kenapa aku membiarkan nya kabur,? bukankah aku sedang mencarnya? sial...sial...sial...kenapa aku jadi bodoh seperti ini sih..." gerutu Johan saat mobil yang di tumpangi Caterine kini sudah menghilang meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut.


Caterine sendiri kini merasa lega karena bisa terlepas dari lelaki itu.


'Dasar Johan brengsek! kenapa juga ia harus kesini, aku tau ini pasti rencananya dia ingin mencariku dan membawaku pergi, tidak dia tidak boleh mengetahui tempat tinggalku, kalau tidak dia pasti akan menggagalkan rencana yang sudah aku susun.'


Caterine benar-benar di buat gelisah hingga di mobil pun ia tak tenang, la berusaha menelpon Darandra namun telepon Darandra sedang tidak aktif, hingga membuat nya benar-benar kesal.


*


Sementara itu Amara benar-benar kesal dengan sikap Darandra yang menurutnya aneh, bagaimana tidak ia membawa Amara seperti seorang penculik saja. Membekap mulutnya bahkan menyeretnya masuk di mobil secara paksa, bahkan saat itu Amara masih berada di dalam toilet wanita, beruntung toilet sedang sepi. Tak ada yang berbicara di dalam mobil, semuanya hanya diam seribu bahasa sibuk dengan pemikiran masing-masing.


sedangkan kini Amara yang merasa mengantuk memilih tidur saja, karena ia masih kesal dengan sikap Darandra, yang acuh tak acuh serta cuek padanya itu.


Dan begitu sampai dirumah Darandra melihat kalau Amara sedang tertidur pulas, ia pun tak tega membangunkan nya.


'Kenapa badanmu semakin hari semakin berisi sih?' Darandra bergumam, sambil menatap heran tubuh Amara yang menurutnya semakin hari semakin padat berisi.


Darandra kini membaringkan tubuh Amara di atas tilam, sedangkan darah kini duduk di samping tubuh amarah yang terbaring lelap dalam tidurnya aku memperhatikanmu semakin hari semakin cantik apa selama satu minggu ini kau merindukanku Aku harap seperti itu karena aku tidak ingin melupakan rasamu padaku karena aku juga_"


"Hmm,...Eng..." Darandra menggantungkan ucapannya di saat mendengar lenguhan dari Amara.


"Kau sudah bangun rupanya?"

__ADS_1


"Kau, kenapa kau masih disini,?" Kejut Amara yang tiba-tiba saja di suguhkan wajah Darandra yang kini begitu dekat dengan wajah nya bahkan kini hidung mancung merka saling bersentuhan dengan tatapan yang saling mengunci, perlahan tapi pasti Darandra ingin memberikan ciuman hangatnya, Namun di luar dugaan Amara malah membuang wajahnya ke samping membuat Darandra hanya mencium bantal.


"Dasar sial,!" umpatnya sedang Amara hanya bisa tersenyum miring, lalu beniat bergegas meninggalkan Darandra.


"Kau mau kemana?" Darandra merik dengan kuat tangan Amara hingga membuatnya terjatuh kembali ke atas tilam.


Dan dengan segera ia mengurung tubuh Amara di bawah Kungkungan tubuh nya.


"Setelah satu minggu aku membebaskan mu


lalu apa ini? apa kau sudah mulai ingin mengidariku.?"


"Le-lepaskan aku, kau, kau menyakitiku kak,!"


Cicitnya berusaha terlepas dari Kungkungan Darandra, namun Darandra yang selama satu minggu sudah menahan diri untuk tidak menyentuh Amara kini tidak menggubris apa yang dikatakan wanitanya tersebut, Apa lagi selama satu minggu ini Darandra hanya bisa menatap punggung Amara dari belakang, tanpa berani menyentuh nya sama sekali.


Ya,, selama satu minggu ini sebenarnya, Darandra selalu pulang dan memilih tidur di kamar Amara, dan tentu saja itu tanpa sepengetahuan dari Amara, la selalu datang dan tidur di belakang Amara disaat Amara benar-benar sudah tertidur lelap.


Sungguh sangat membuatnya tersiksa, disaat Ia sama sekali harus menahan sekuat tenaga apa yang selalu bergejolak di dalam dirinya ingin segera di tuntaskan.


"Kak, lepaskan aku, karena perutku lagi sakit aku ingin le toilet," bohongnya.


Darandra sendiri mengerutkan alisnya, mendengar apa yang di ucapkan Amara.


"Kau ini benar-benar__sudah sekarang pergilah!" usirnya lalu Amara pun bergegas keluar dari kungkungan suaminya itu.


Dan kini tujuan nya adalah dapur untuk segera mengisi perutnya, yang sedari tadi meminta untuk segara di isi.


"Amara Kau di mana amarah aku mencarimu dari ternyata kau ada di sini kau ini benar-benar, Kau sedang apa,? kau sudah berani-berani nya membohongiku kau mengatakan ingin ke toilet sakit perut, tapi kau sedang mengisi perutmu," gerutu Darandra kesal.


"Apa kau tidak lihat aku sedang lapar, kalau kau ingin berdebat nanti saja karena saat ini aku benar-benar lapar banget, dan ya, siapa juga yang menyuruhmu menculikku, di saat perut ku belum terisi penuh," ucapnya dengan mulut yang di penuhi makanan.


"Siapa yang menculikmu,? heh...enak saja menuduh ku menculikmu," seringai Darandra.


"Lalu apa namanya kalau bukan menculik kau membekap bahkan menyeret ku seperti seorang penjahat."

__ADS_1


"Seharusnya kau berterima kasih padaku karena sudah menyelamatkan mu dari penangkapan para petugas ke amanan di tempat itu?"


"Apa? petugas keamanan di pusat perbelanjaan,?" Amara hampir saja menyemburkan makanan yang memenuhi mulutnya itu karena saking terkejunya.


"Ya...!" jawab Darandra cepat dan singkat.


"Apa mereka itu gila aku tidak bermasalah dengan mereka jadi ngapain mereka ingin menangkap ku?"


"Kau memang tidak bersalah tetapi aku yang membuat semuanya jadi seperti,"


"Kau maksudmu?" Darandra pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. "Kau benar-benar keterlaluan"


"Maafkan Aku, Aku tidak sengaja melakukan itu, aku kira semuanya tidak akan terjadi seperti ini," ucap Darandra penuh sesal.


"Apa karena itu kau menarikku masuk ke dalam mobil, atau kau memang sengaja selalu membuatku di dalam masalah, Lalu ke mana wanita kesayanganmu itu aku,"


"Aku sudah menjawab semua, dan menceritakna semuanya, malam ini aku akan menginap di sini bersamamu,!"


"Apa kau yakin dengan kata-katamu itu?" "Kenapa tidak,!"


"Ya,, kau setidaknya kau tidak akan kabur lagi," sindir Amara.


"Sudahlah lupakan semuanya bagaimana Apakah kau sudah selesai makan?


"Emangnya kenapa?" tanya Amara mengerutkan alisnya.


"Karena aku ingin segera membawamu ke atas tilam,"


"Untuk apa?" gugupnya.


"Apa? kau bertanya untuk apa?"


"Apa harus aku mempraktekkan dari sini.?" ucapnya dengan seringai tipisnya.


Sedangkan, Amara menelan salivanya karena ia tahu Ke mana arah tujuan ucapan Darandra.

__ADS_1



__ADS_2