Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 18


__ADS_3

Tasya menggenggam tangan Jhony dan menurunkannya dan sontak hal itu membuatnya tersadar atas apa yang telah dilakukannya.


"Maafkan Aku, karena telah lancang menyentuhmu tanpa seizinmu, tapi aku, aku tidak bemak__ump" Kalimat Jhony terjeda dalam sebuah ******* yang tiba-tiba di lakukan oleh wanitanya itu, lama mereka saling menggulum karena terbawa oleh situasi panas yang tiba-tiba saja menyerang tubuh mereka.


Tasya melepaskan tautannya di saat merasa benar-benar dirinya kesulitan untuk bernafas.


"Maaf,'' ucapnya tertunduk malu dengan wajah yang sudah bersemu merah, karena sebagai wanita ia tidak sepantasnya melakukan semua itu pada seorang lelaki meski lelaki tersebut sudah bersetatus suaminya.


"Tidak apa-apa sebaiknya sekarang kita tidur karena ini sudah larut," ujar Jhony.


Tasya pun hanya mengaguk mengiyakan.


"Tunggu kau mau kemana,?" tanyanya saat melihat Jhony beranjak dari sampingnya.


"Tidurlah malam ini bersamaku, kau tahu kan aku sangat takut petir," pintanya menatap Jhony yang masih berdiri pada tempatnya.


"Tapi Sya, aku_"


"Hanya untuk malam ini saja, aku mohon,"


"Baiklah..." Akhirnya Jhony menyetujui apa yang inginkan wanitanya itu, bukan tanpa alasan Jhony memilih, tidur jauh dari Tasya, karena ia takut tak bisa menahan dirinya jika Tasya terus saja berada di sampingnya.


Jhony mulai merebahkan diri di samping Tasya sedangkan Tasya segera memeluk tubuh Jhony saat tiba-tiba saja petir begitu menggelegar.


"Aaa...aku takut Jhon...aku takut," rengeknya ketakutan.


"Aku ada di sampingmu tidurlah, tidak akan ada apa-apa padamu," Jhony menarik selimut yang tergerai di lantai untuk menutupi tubuh Tasya, lalu merekapun terlelap ke alam mimpi dengan Tasya yang masih memeluk tubuh Jhony.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selah menempuh perjalanan selama 60 menit akhirnya Darandra tiba di rumah kontrakan nya, ia turun dari mobil dan bergegas masuk kedalam rumah untuk mencari Amara.


'Kemana perginya Anak itu,? bukankah dia mengatakan ingin menungguku di rumah,? bagaimana ini aku sudah mencarinya ke seluruh ruangan tapi tak ada siapa pun, sebaiknya aku menelponnya saja.'


Darandra pun segera menghubungi nomor milik Amara namun sayang nomor nya tidak aktif.


'Ck, sial bukankah aku telah merusak telponnya, kamu ke mana Amara,?' Darandra memilih tidur dan berfikir jika Amara akan datang sebentar lagi.


'Amara...Amara jangan pergi....!' Darandra kembali terbangun dengan mimik wajah yang ketakutan.


'Kenapa aku terus bermimpi tentang Amara,? yang pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya,? ini sudah terjadi lama sekali tapi kenapa mimpi ini terulang kembali apa maksud semua ini,?' Darandra masih terus saja di buat binggung oleh mimpinya itu.


'Apa Amara sudah pulang,? sebenarnya Ke mana perginya,?' Darandra memilih segera bangkit dari tempat tidurnya setelah melihat jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, Ting, satu pesan masuk di gawainya.


'Dokter James, tidak ini tidak mungkin kan,? aku tidak sedang bermimpi kan,?' Darandra seolah tak percaya dengan apa yang di katakan dokter James, dokter James, adalah idolanya, ia dan Tasya sudah berusaha meyakinkan, Namun karena mereka bukanlah rekan kerja, dan bukan pasangan suami istri jadi dokter James menolaknya, karena ia ingin menyerahkan rumah sakitnya pada orang yang sudah berumah tangga.


'Kalau begitu aku akan segera bersihkan diri dulu,' ujarnya setelah lama berpikir, dan benar saja setelah 5 menit dari Ia pun bergegas keluar dari kamar mandi dan segera mencari pakaiannya Namun ternyata semua pakaiannya sudah tersedia dengan sempurna.


'Amara Apa kau yang menyediakan semua ini untukku,' lirihnya Setelah semuanya rapi bergegas keluar keluar kamar.


"Tunggu Aku,! hari ini Kau pasti akan sangat sibuk jadi jangan lupa bawa perbakalanmu aku sudah menyiapkannya pagi-pagi sekali, aku mohon untuk saat ini saja, kau makan ya," ucap Amara dengan tatapan memohonnya.


"Kau juga harus makan dengan teratur agar


kau tidak mudah sakit, apalagi samalam kalau habis mabuk pasti perutmu akan terasa tidak enak hari ini, jadi Makanlah makanan sehat yang kubuat untukmu,"

__ADS_1


"Amara kau dari mana saja,? kau, aku mencarimu, Tapi tunggu dari mana juga tahu kalau aku hari ini sedang sibuk?"


"Jangan banyak bertanya sebaiknya kau simpan pertanyaanmu itu untuk sebentar bukankah kau akan terlambat jika kau bertanya terus padaku," usirnya secara halus.


"Baiklah tapi tunggu hari ini Aku merasa bahagia, aku ingin menghukummu tapi sudahlah, kau sudah menyiapkan semuanya Hari ini aku memaafkanmu, tapi tidak lain kali, aku pergi dulu." Setelah berucap la pun meraih box makanan yang sudah disiapkan oleh Amara dan membawanya pergi.


"Berhati-hatilah! Jangan ngebut di jalan teriak Amara yang masih bisa didengar oleh Darandra kau tak perlu mengkhawatirkanku," jawab Darandra, tanpa melihat ke belakang


"Semoga hari ini adalah awal kesuksesan suamiku, setelah ini aku akan merasa tenang meninggalkanmu jika hari ini adalah hari terakhirku berada di sini, ada janji yang harus aku bayar semoga kau baik-baik saja tanpa kehadiranku bersamamu," Amara masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintu, Ia membaca satu persatu pesan yang pernah ditulisnya di belakang pintu.


Amara melakukan semua itu, karena jika suatu saat dia lupa maka dia bisa membaca ulang tulisan dan pesannya itu, ia pun menulis pesan terakhirnya.


Tok...tok...tok...


sedang asyik membaca tulisannya satu persatu dari luar terdengar ketukan pintu yang begitu keras membuat Amara segera bergegas keluar.


"Siapa,?" tanya Amara begitu ia membuka pintu.


"Maaf Nona, saya adalah sopir suruhan Tuan yang ditugaskan untuk menjemput Anda," terang sang sopir.


"Baiklah tunggu, aku akan bersiap-siap dulu,"


"Baiklah Nona," jawab sopir yang ditugaskan menjemput Amara tersebut, Amara pun bergegas masuk namun tidak ke kamarnya tapi dia memilih masuk kamar Darandra dan ia pun membuka lemari pakaian milik Darandra dan segera mencari sesuatu.


'Ternyata kau masih menyimpannya, Baiklah aku hanya membawa yang ini saja,' Amarapun kembali keluar.


"Ayo aku sudah siap," Amara pada sopir yang telah menunggunya dari tadi, Amara melangkah keluar meninggalkan rumah tersebut dengan perasaan yang campur aduk, namun ia harus melakukan semua itu karena dokter mengatakan ia harus menjalani terapi sebelum ia akan melakukan operasinya,

__ADS_1


Hanya air mata yang bisa ia keluarkan saat ini karena ia harus benar-benar memilih meninggalkan orang yang di cintainya, untuk beberapa hari kedepan ia akan terus bekerja di cafe, karena tanpa Darandra sadari bahwa dirinya akan sibuk dengan dengan tugas barunya, dan tanpa menyadari kalau dia akan benar-benar kehilangan orang yang sangat mencintainya.


__ADS_2