
"Yah,, aku sering bermimpi kalau kau akan meninggalkan aku untuk selamanya, kau tahu mimpi itu akan selalu hadir di saat aku jauh darimu, itu yang membuat aku takut akan kehilanganmu Amara,"
Amara membuka pelukan Darandra dan kini ia menatap dengan seksama lelaki yang sudah menjadi suaminya beberapa bulan belakangan ini.
"Kau itu lucu sekali," ucap Amara lalu tertawa lepas, sambil berbalik meninggal kan Darandra, yang masih bingung kenapa tiba-tiba Amara tertawa begitu lepas setelah mendengar apa yang di ceritakannya itu.
"Ra,, apa kau tak percaya dengan mimpiku itu,? dan ini tidak lucu Ra, aku serius." Ucapnya kembali mendekati Amara yang sedang mencari bajunya di lemari.
"Aku bukan tidak percaya, hanya saja kau itu lucu, itu kan hanya sekedar mimpi dan mimpi itu hanyalah sebuah bunga tidur, dan ya,, jika itu nyata pun tidak apa-apa, karena aku yakin kau akan bisa hidup bahagia dengan Caterine, dan anak kalian tanpa harus memikirkan tentang kehadiranku di antara kalian," ucapnya berbalik menatap Darandra, setelah berhasil menemukan baju yang akan di pakainya.
"Dan perasaan khawatirmu jangan berlebihan, karena aku akan mengira kau itu mencintai ku, itu bukan karena kau mencintaiku kan?" tanya Amara kembali.
"Ya,, tentu saja bukan, Apa kau kira aku ini bodoh tidak bisa membandingkan mana perasaan cinta dan bukan. Aku khawatir karena kau adalah istriku, apa kata orang nanti jika aku tidak ada lalu kau pegi tiba-tiba, pasti mereka berfikir aku itu tidak peduli padamu."
"Ya,, sudahlah aku lapar, aku mau memasak dulu, atau kau mau aku pesankan makanan, Apa kau juga mau makan?" tanya Amara berjalan ke luar menuju dapur, sedang Darandra terus saja mengekor di belakang nya.
"Kau,, tidak usah memesan makanan, kau lihat ini semua aku pesan untukmu semoga kau menyukai rasanya." la pun menyimpan paper bag di atas meja makan.
"Banyak sekali,? apa kau sedang ada pesta?" Amara bertanya sambil mengerutkan alisnya karena paper bag yang di bawa Darandra begitu banyak.
"Aku kira tidak ada salahnya aku membawa makanan banyak karena aku yakin kau mampu menghabisinya,"
"Kau,, apa kau sengaja membuat aku gemuk?" kesalnya menatap jengah.
"Aku rasa tidak ada salahnya karena kau nampak begitu cantik dan **** jika seperti ini"
Ucapnya mendekati Amara dan menarik pinggangnya bahkan kini lelaki itu mengecup dengan lembut bibir milik wanitanya itu.
"A-ayo kita makan," gugup Amara berusaha menghindari Darandra, dan Darandra pun mengaguk mengiyakan sambil mengusap lembut wajah yang selalu membuatnya tak bisa tidur nyenyak itu.
Dan benar saja Darandra lagi-lagi di buat tercengang karena Amara masih makan dengan porsi besarnya itu.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai Amara kini merapikan semua sisa bekas makannya.
"Apa kau tak pulang hari ini, kasihan Caterine kalau kau tinggal dan sekarang sudah pukul 22:00 sebaiknya kau pulang." Usir Amara pada suaminya yang terlihat begitu santai, sambil sesekali menatap gawainya dengan tersenyum.
"Kak, apa kau mendengar ku?!"
"Ah,, ya ada apa,? apa kau mengatakan sesuatu,?"
"Ck, kau itu sejak kapan kau berubah tidak fokus dengan ucapanku,?" ucapnya sambil mencelikkan bibirnya, membuat Darandra semakin gemas.
"Kemarilah, duduk di sini!" panggil Darandra sambil menepuk pahanya, namun Amara membuang muka, dan memilih beranjak pergi.
"Kau mau kemana, bukankah aku menyuruh mu duduk, tapi kenapa kau malah ingin pergi?" tanya Darandra mencengkram pergelangan tangan Amara, hingga membuat Amara menatap balik dirinya yang masih duduk dengan santai.
"Kau kenapa lagi,? kenapa kau tak mendengar ku,? apa kau berniat ingin membalas ku dengan terus berusaha menghindariku?"
"Bu-bukan itu, Hanya saja aku ingin ke taoilet sebentar," Jawabnya dengan begitu gugup.
"Ayo kemana?"
"Katanya kau mau ke taoilet."
"lya,, tapi kenapa kau juga malah mesti ikut?"
"Kerena aku tidak mau kau kabur seperti waktu." Ucapnya begitu mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
"Ayo,, kenapa kau diam saja,? bukankah kau ingin ke toilet,?" tegurnya lagi saat melihat Amara hanya diam mematung.
"Ah..ya,! kenapa Kak,?"
"Ya,, ampun Amara cepat lah kau jangan pura-pura binggung," ujar Darandra lagi.
__ADS_1
"Aku tidak jadi masuk, karena perutku sudah tidak sakit, sebaiknya sekarang kau pulang. Aku mau istirahat dulu, karena aku sudah mengantuk." Usir Amara kembali pada suaminya itu.
"Apa kau sedang mengusirku,? lihat aku dan tatap mataku,! apa kau sedang mengusirku!?" sentak Darandra kembali membuat Amara sedikit mundur, namun pinggangnya segera di tarik dengan kencang, hingga membuatnya membuat keduanya terjatuh, jika Darandra jatuh di atas sofa, Amara sendiri jatuh di atas tubuh suaminya itu.
"Tatap mataku Amara Puspita Wijaya. Apa kau tidak melihat kalau di dalam mataku ini ada kerinduan untukmu,! tatap mataku,!" ucapnya lagi dengan penuh penekanan.
Sedang Amara sendiri hanya bisa mengikuti apa yang di katakan lelaki egois di depannya itu, yaitu menatap lekat wajah di depan nya dan menyelami tatapan mata yang sekalipun tak berkedip.
Ada cinta juga rindu yang begitu kuat dan besar di dalamnya, tapi Amara tidak tau cinta itu untuk siapa, bahkan ia kalau boleh berharap biarkan cinta itu untuk dirinya tapi itu sangat mustahil sekali, karena Darandra hanya memberikan rasa rindunya saja tanpa ada cinta menghiasi nya.
"Bagaimana,? apa kau sudah melihat kerinduan ku padamu di dalam mata ini,?"
Amara hanya menggangguk sebagai sebuah jawaban karena tangan jahil milik Darandra kini sudah bergerilya kemana-mana.
Bahkan kini Darandra membalik tubuh Amara yang berada di bawah sedangkan tubuhnya berada di atas.
"Kak..." suara Amara tertahan ketika merasakan sensasi di tubuhnya kini menjalar hingga ke ubun-ubun, di saat sesuatu terus saja menggelitiknya di bawah sana tanpa jeda membuatnya benar-benar tidak bisa berkutik.
"Aku menginginkan mu malam ini apa kau mengizinkan ku melakukan nya,?"
Kembali Amara hanya menggangguk pasrah, karena menolak pun tidak ada gunanya.
Toh Darandra akan terus melakukannya meski ia akan menolak.
Merasa mendapat izin Darandra mengangkat tubuh Amara ala bridal style tanpa melepas tautan nya, dan kini ia pun melangkah masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuh Amara dengan lembut tanpa melepas bibir milik wanitanya itu, sedangkan Amara kembali merasakan sensasi di tubuhnya kini menjalar hingga membuat Amara memejamkan kedua matanya, menikmati setiap sentuhan yang di lakukan oleh lelakinya.
Darandra pun tersenyum puas melihat wanita yang di bawah Kungkungan nya itu kini tidak berdaya, mendapat serangan demi serangan dari nya, dan kini saatnya ia akan melakukan penyatuannya namun tiba-tiba Amara menahan tubuhnya.
''Tungu...!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1