
Pagi.
Amara menggeliat mengenjangkan otot-otot tubuhnya yang masih terasa kaku sambil meraba tempat tidur yang berada di sampingnya, tiba-tiba saja matanya membulat saat benar-benar yakin jika tidak ada seorang pun di sampinya.
"Kak Randra Apa dia sudah pergi?" Tanyanya pada diri sendiri.
Baru saja Amara ingin membuka selimut tiba-tiba saja ada suara gawai yang bergetar mengganggu pendengaran nya.
📲Drt...Drt... Drt...
"Kenapaa ada suara Handpone,? Pasti Handpone Darandra tertinggal dan, suamiku tercinta?...
oh..ya ampun kenapaa dia jadi segila ini sih?"
Amara terus saja menatap panggilan telepon tanpa ada niat untuk mengangkatnya, hingga pangilan ke tiga ia baru mau mengangkatnya.
''Hal..."
"Kau kemana saja,? kenapa baru mengkat Teleponnya,? kau membuatku khawatir saja."
Baru saja Amara ingin berbicara namun Darandra sudah memotong terlebih dahulu ucapannya dari ujung telepon, dengan nada suara yang sedikit lebih meninggi karena ia Benar-benar khawatir.
"Apakah kau Baik-baik saja Amara? kenapa kau diam saja?"
"Aku baik-baik saja kok, kau tak perlu khawatir seperti itu.!" timpal Amara.
"Baiklah itu Handpone yang aku sengaja berikan buatmu jadi aku bisa menghubungimu jika sewaktu-waktu aku membutuhkan mu."
"Baiklah... " Jawab Amara malas saat mendengar ucapan Daranda yang mengatakan akan menghubunginya jika ia butuh saja.
"Dan satu lagi, lihat di bawah bantalmu!" Amara pun memeriksa di bawah bantalnya.
"Gelang...?"
"Iya,, pakai lah,! aku menemukannya di apartemen waktu itu, lain kali kau harus Hati-hati jangan sampai kau meninggalkan nya bukanlah itu peninggalan ibumu. "
"Iya,, maaf, waktu itu terjatuh saat kau menarik tanganku." Mendengar pengakuan Amara membuat Darandra seketika terdiam.
la mengingat kembali kejadian dimana ia menarik dengan kasar pergekangan tangan Amara.
"Halo... Kak... apa kau masih disana?" tanya Amara saat tak mendengar suara siapa pun.
"I-iya aku masih mendengarmu, baiklah aku tutup dulu, karena sepertinya ada pasien yang harus aku tangani, dan jaga dirimu."
__ADS_1
"Baik..."
Tut...tut...tut.
Amara menatap telponnya yang sudah mati, sambil mengerutkan alisnya.
'Kenapa dia selalu se enak hatinya melakukan ini padaku, aku kan belum selesai bicara, dia sudah main memutuskan panggilan saja.' Kesal Amara menggerutu.
Ia pun segera memilih bangkit untuk membersihkan tubuhnya sebelum ia akan lanjut untuk untuk memasak di dapur, karena perutnya sudah bernyanyi riang tanda ingin di isi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa Mama yakin Ma, kalau kita akan menemukan dimana tempat wanita itu? bagaimana kalau Kak Johan tau dan..."
"Tutup mulutmu Aurora,! apa kau ingin selamanya hidup dalam bayang-bayang Anak haram itu,?" sentak sang Mama menatap tajam.
"T-tentu saja aku tidak mau Ma,," sahut Aurora
"Dan kau tahu tugasmu itu apa?"
"Apa Ma,?"
"Kau harus membuat Melisa terus berada di sisi kakakmu itu, Agar dia tidak bisa bertemu dengan wanita sialan itu, dasar wanita pembawa sial ini semua gara-gara Papamu itu." Rutuk Nyonya Melinda.
"Baik Ma, Aku akan segera mengabarkan hal ini pada Kak Meli," cicit Aurora.
Aurora pun segera beranjak pergi meninggalkan sang Mama yang masih dalam Emosi tingkat tingginya itu, itu terlihat jelas karena dedua tangannya masih saja mengepal.
''Kau lihatlah dari sana, bagaimana aku akan menghancurkan putramu itu dengan sehancur-hancurnya, kau salah sudah mempercayakannya padaku, Aku sudah membuatnya tumbuh menjadi seperti apa yang aku inginkan.'
Nyonya Agatha pun lalu tersenyum dengan seringai jahatnya.
📲Drtd..dtr...drt...
Nyonya Agatha tersenyum lebar saat melihat sebuah panggilan masuk di gawainya.
"Bagaimana apa kau berhasil menemukan nya?" tanya Nyonya Agatha pada seseorang di seberang telepon.
"Iya Nyonya kami sudah menemukan tempat wanita tersebut," jawab sang penelpon.
"Baiklah kirimkan alamatnya cepat!" perintah nya
"Baik Nyonya"
__ADS_1
Ting.
Kini Satu pesan masuk ke gawainya, Nyonya Agatha pun segera membuka pesan tersebut.
Dan la pun tersenyum penuh kemenangan, karena tinggal selangkah lagi dia akan menuju tujuannya.
*
"Kau dimana? cepatlah kemari, kau harus menemuiku sekarang juga, karena ada hal penting yang harus kita bicarakan.!" serunya pada seseorang di seberang telepon.
*
"Ada apa sayang, kenapa wajahmu cemberut seperti ini?" tanya lelaki yang sedang mengungkung tubuh wanita cantik di bawahnya.
"Biasalah ibu mertuaku yang bawel itu, kau tau kan dia itu seperti apa,? semua perintahnya harus aku turuti, tapi tidak mengapa yang penting hartanya bisa aku miliki dan putranya yang bodoh itu akan segera aku singkirkan, lalu kita akan hidup bahagia selamanya, tapi kau harus segera membuatku mengandung anakmu, karena semenjak menikah lelaki itu tidak pernah ingin menyentuhku, dia hanya menyentuh ku di saat ingin memanasi wanita sialan itu padahal selama ini dia sangat mencintaiku." Geram Melisa.
"Ahk...Ahk...Ahk...sth...Ahk... Sas...sa..yang...Akh..." Melisa terus saja meracau tak karuan di saat lelaki di atas tubuhnya terus bergerak maju mundur, dengan hentakan demi hentakan yang terus saja ditekan membuat Melisa kembali terbuai dengan permainan lelaki itu.
"Bagaimana,? apa kau menyukai permainanku,? aku lebih suka mendengar suaramu yang ini, dari pada mendengar ocehanmu tentang keluarga suamimu itu. Aku juga sangat mencintaimu sayang, apa yang ada padamu adalah milikku seutuhnya, Kalau saja aku tidak memikirkan tentang tujuanmu maka sudah kupastikan suamimu itu akan tiada di tanganku!"
"Iya,, Aku tau, kau sangat mencintaiku, dan aku pun begitu sangat mencintaimu sayang..." Timpal Melisa.
"Sayang,, kau memang selalu pandai untuk membuatku bahagia, dan kau adalah satu-satunya orang yang mengerti cara membuatku senang," Ucap sambil sesekali menjambaki rambut pasangan mesumnya itu, saat kedua gundukannya kembali di sesap bergiliran, sedangkan sesuatu di bagian intinya terus menyentak di bawah sana.
"Sa...yang...aku ingin__"
"Kita keluarkan sama-sama" Ucap Hendrick, memberikan tekanan demi tekanannya lebih cepat, hingga mereka pun Sama-sama terkulai dengan nafas yang memburu.
"Aku harap kali ini aku mengandung anakmu, agar rencanaku berjalan lancar, jika aku dapat memberikan anak Laki-laki maka seluruh kekayaan milik keluarga Abraham akan menjadi milik kita.''
Keduanya pun tertawa penuh kelicikan.
"Sebaiknya Aku pulang sekarang, aku tak ingin suami tercinta dan mertua tersayang ku itu pusing memikirkan menantu terbaiknya ini," ucapnya segera bangkit dari ranjang, panasnya.
"Tunggu dulu sayang...'' Hendrick menahan langkah Melisa dengan menarik pinggang wanita itu.
"Hentikan Hendrick,! aku mau mandi." ucapnya dengan suara manjanya yang menggoda, sambil mengelus dada bidang milik Hendrick.
"Tentu saja, sayang karena kita akan mandi bersama," Tampalnya dengan seringai di bibir.
"Aku tahu kau tidak akan pernah cukup dengan satu kali permainan, makanya kau akan melakukannya di dalam kamar mandi juga kan,?"
"Kalau kau sudah tau mari kita lakukan sekali lagi." Ajak Hendrick dengan mengangkat tubuh Melisa ala bridal style lalu membawa nya masuk.
__ADS_1