Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)

Chasing My Wife'S Lost Love, (Mengejar Kehilangan Cinta Istriku.)
Part 79


__ADS_3

Seminggu berlalu, Semenjak pertemuan Amara dengan Jelita di rumah sakit, mereka pun semakin akrab dan selalu saling mengunjungi, apa lagi di saat mereka semua tahu kalau Lara adalah Amara yang sesungguhnya, Namun Amara tetap belum menyadari siapa dirinya sebenarnya.


"Apa kau yakin akan melakukannya Ndra?"


tanya Cleo pada sang putra tercintanya.


"Iya Mom, Semua berkas sudah lengkap tinggal menunggu persidangan saja," ucap Darandra yang tengah sibuk memakai baju kebesaran nya.


"Mungkin seminggu lagi suratnya akan keluar, dan setelah itu semuanya benar-benar akan berakhir Mom," ucap Darandra sendu.


"Momy minta maaf karena semua ini Momy juga yang ikut andil," sesal Cleo yang ikut menyesali apa yang di rencanakan Anthony yang ingin memeberi pelajaran hidup untuk putranya itu.


"Mom…semua sudah ada yang mengatur nya Andra berterima kasih sama Daddy yang sudah melakukan semuanya untuk Amara dan si kembar, kalau tidak mungkin Andra bukanlah Andra yang sekarang Mom,"


Darandra pun memeluk sangat Momy yang terlihat begitu bersedih dengan semuanya.


"Mom…sudahlah semua sudah berlalu, lagi pula Amara tidak akan jauh-jauh dari kita lagi kok, dia hanya akan menikah dengan orang lain saja, untuk itu sebaiknya kita berdoa untuk kebahagiaan Amara Mom…"


Mesti tedengar tegar, namun di dalam hati Darandra begitu hancur. Tapi la tidak ingin terpuruk dalam kesedihannya, karena ada yang jauh lebih penting yang harus la lakukan dari pada bersedih, yaitu kedua putra dan putri nya. Iya berusaha selalu kuat di depan kedua anaknya-anaknya karena sebagai Laki-laki la tidak ingin terlihat lemah.


"Sebaiknya Aku menemui anak-anak dulu Mom…" Darandra memilih pergi meninggalkan sang Mommy, sedangkan Cleo hanya bisa menatap punggung putranya yang semakin menjauh. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang menguping daritadi pembicaraan mereka.


*


"Ada apa kau memanggilku kesini? apa kau tau aku sedang sibuk, ada banyak pasien yang tengah menunggu ku." Cecar Darandra di saat tiba di sebuah taman.


"Apa ini…? tadi pagi kau mengirimkan aku surat perceraian di saat besok aku akan menikah? jika kau merasa aku pernah menjadi istri mu, lalu kenapa kau tidak ingin mempertahankan ku, aku tidak mengingatmu sama sekali, tapi kalau aku boleh jujur semenjak aku bertemu aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dalam sini." Tunjuk Amara pada dada sebelah kirinya.


"Apa kau kira aku tidak berusaha, Aku sangat ingin kau kembali kepelukan ku tapi melihat mu mencintai seseorang yang sangat kamu cintai apa aku tega melukaimu lagi, sudah cukup luka yang aku torehkan selama ini, aku yang membuatmu pergi dari sisiku, aku yang membuatmu lupa tentang kita selama, bahkan mungkin aku tak pantas jika harus menyebutnya tentang kita, karena aku tahu kau berjuang sendiri melawan sakit yang pernah kau torehkan padamu." Ujar Darandra, yah ia sadar selama ini ia bersalah, dan ia pun berusaha melupakan egonya beberapa waktu yang lalu saat ia ingin berjuang mendapatkan Amara, setelah menculik Amara dan meninggalkan nya selama satu minggu di apartemen, ia sadar jika yang dilakukan nya itu salah, untuk itu lah ia mengalah, apa lagi saat mengetahui kalau Khalid sangat mencintai Amara dan sebaliknya Amara juga mencintai Khalid.


"Jika kau adalah jodoh yang memang sudah di tetap kan untuk ku maka selamanya tak akan ada yang mampu memisahkan kita kecuali kematian. Sekarang pulanglah, aku juga harus segera pergi. Karena banyak pasien yang sedang menunggu, dan kau tidak baik keluar jauh-jauh kau itu seharusnya di pingit, kau boleh tanda tangan di situ setelah itu baru aku tanda tangan."


"Kenapa bukan kau saja tanda tangan lebih dulu,?"


"Itu akan aku simpan dengan baik sebagai tanda aku sudah pernah menikah denganmu."


"Baiklah tapi sebaiknya kau saja yang menandatangani nya lebih dahulu, dan jangan khawatir aku akan mengembalikannya padamu," setelah berucap Amara pun pergi begitu saja Entah mengapa ia ingin marah pada Darandra tapi ia tak tau apa alasannya.


Darandra menatap Amplop yang di dapatnya dari pengadilan Agama itu, sungguh dia tidak pernah menyang jika akan berakhir sesakit ini.

__ADS_1


"Amara…" sesaat ia tersadar kalau Amara sudah beranjak pergi.


"Amara tunggu…" panggil nya namun Amara tetap saja berlalu, yang membuat Darandra mengejarnya dari belakang.


"Amara awas…!" Dan bukan saja Darandra yang berteriak tapi Khalid juga yang tiba-tiba muncul.


Brak…


"Darandra…!" teriak Amara begitu kencang di saat lekaki itu mendorong tubuhnya ketepi jalan hingga membuat kepalanya terbentur sisi jalan, dan dengan cepat ia bangkit berdiri meski dengan kepala yang sedikit berdenyut.


Tubuh Amara hampir saja limbung saat kakinya bergetar tak mampu menahan bobot tubuh nya saat menatap cairan merah bau anyir di depan matanya itu.


"Andara…!" lirihnya dengan suara yang tercekat.


"Lara…Darandra…" cicit Khalid begitu khawatir.


"Lara…Lara…Lara bangun" Khalid mengguncang tubuh Lara yang sudah tetkulai pingsan Khalid pun berteriak meminta tolong saat melihat tubuh Darandra yang sudah berlumuran darah terkapar tak berdaya di tengah jalan.


Satubulan kemudian di sebuah Ballroom hotel nampak sebuah acara akan segera di gelar, saat para tamu undangan sudah hadir nampak sang calon mempelai wanita duduk dengan gelisah.


"Pa, bagaimana ini? kenapa dia lama sekali?"


Dan tak lama kemudian para tamu undangan pun memberi selamat kepada pasangan yang tengah berbahagia itu.


"Mamy…Mamy…Mamy…" cicit si kembar yang tidak kalah cantik dan tampan nya, Amara pun mencium keduanya begitu gemas.


"Udah sayang sisakan buatku juga" ujar lelaki yang kini tengah memeluk pinggang nya begitu erat.


"Ehem…kalian ini merusak mata dan mematahkan hatiku saja.


Semoga kalian selalu berbahagia ya, dan jangan saling menyakiti."


"Terima kasih dan semoga kau juga segera mendapatkan seorang wanita yang mencintaimu,"


"Dan aku rasa aku tidak akan melakukan hal itu, karena bagiku kau adalah cinta pertama dan terakhirku,"


"Heiii apa kau masih berharap akan wanita ku?"


"Tidak apa-apa kan kalau dia mau?"

__ADS_1


"Kau…!


"Sudah-sudah, kalian ini kaya Tom&Jerry saja, setiap bertemu pasti akan bertengkar" kesal Amara meninggalkan kedua lelaki tersebut, ia memilih masuk dikamar hotel, yang sudah di tata sedemikian rupa. Sedang sang suami mengejarnya dari belakang.


"Hai…sayang, apa kau masih marah denganku?" ucapnya meraih pinggang sang istri lalu mendekap nya erat.


"Tentu saja!" ketus Amara.


"Auhk…sayang… apa yang akan kau lakukan?" pekik Amara saat merasakan tubuhnya melayang di udara, Bahkan sang suami kini sudah melepaskan semua tuxedo yang di pakainya.


"Tentu saja ingin membuat Adik untuk si kembar" kelakar nya.


"Tapi sayang aku sedang marah!" sungut Amara memasang wajah juteknya.


"Baiklah kita akan lihat sejauh mana kau akan menolakku"


"Ahk…Andra sayang…aku…" Amara menjeda kalimat desahannya di saat Darandra dengan begitu lihai mempermainkan dirinya bahkan serangan demi serangan dilancarkan dengan begitu lembut oleh Darandra, ia sudah tidak peduli, jika di luar sana para tamu belum sepenuhnya pulang di acara resepsi pernikahannya dengan Amara.


"Aku akan melakukannya pelan-pelan sayang" bisik Darandra lembut saat Amara menahan tubuhnya, Amara pun hanya mengangguk pelan, mempercayakan semuanya karena ia yakin Darandra tidak akan menyakitinya lagi.


Kini Darandra pun merasakan miliknya begitu susah untuk menembus benteng pertahanan Amara sama saat baru pertama kali ia menyentuh Amara dulu, itu semua terjadi karena Amara pernah melakukan operasi keperawanan, dan itu sengaja di lakukan oleh Nyonya Bianca agar tidak dituduh wanita macem-macem oleh lelaki yang akan menjadi suaminya, kelak karena Amara yang susah untuk mengingat masa lalunya.


Namun keajaiban itu terjadi ketika kecelakaan yang menimpa Darandra ternyata mampu mengembalikan semua ingatannya kembali.


Semua itu terjadi di saat Amara terbangun dari pingsannya, tanpa dia sadari dia sedang menggenggam kalung yang bergambar sepasang merpati, dan beruntung luka di kepala Darandra juga tidak terlalu parah.


Sedangkan Khalid memilih mengalah setelah mendengar semua percakapan keduanya waktu ditaman, tidak mungkin dia harus menikah dengan orang yang sudah bersuami dan dokter James pun menceritakan siapa Amara yang sesungguhnya. Meski rasa cintanya untuk Amara begitu dalam, ia harus merelakan semuanya, hingga Darandra pun memutuskan untuk kembali menggelar akat nikah di Rumah sakit, dan di hari ini ia menggelar resepsi pernikahannya itu.


*


Darandra memeluk tubuh Amara dari belakang yang saat ini memunggunginya karena kelelahan, seandainya Amara tidak capek mungkin Darandra akan melakukan sampai pagi.


"Terima kasih sayang karena masih mau menjadi istri dan ibu dari anak-anakku."


"Aku juga berterima kasih padamu sayang, kau sudah menjadi Ayah sekaligus ibu untuk mereka, kau sudah membuktikan kalau kau adalah Ayah sekaligus suami yang baik, dan berjanjilah kita akan terus seperti ini hingga akhir" Amara berbalik dan menatap pada suaminya, Darandra kembali menghujani wajah Amara dengan ciuman penuh cinta, dan sesaat kemudian mereka kembali mereguk nikmat cinta yang setelah beberapa lama mereka tak bersua.


TAMAT.


Alhamdulillah akhirnya udah berahir cerita mereka ya, makasih atas dukungan kalian semua jangan lupa beri dukungan untuk Yumna juga ya🤗

__ADS_1



__ADS_2