
Setelah di periksa sangat lama akhirnya dokter mengatakan kalau Khalid untuk sementara ini harus istirahat total dengan kata lain dia tidak boleh kemana-mana jika mau keluar harus ada yang menemani dan mengawasinya di rumah, kalau tidak dokter mengatakan kakinya akan semakin parah.
Bahkan bisa di amputasi, mendengar hal itu Lara pun terkejut dan semakin merasa bersalah, karena kejadian itu semua karena dirinya, tapi tidak kalau saja lelaki Playboy cap kelinci itu tidak memaksanya tentu saja kejadian nya tidak akan seperti ini, tapi kalau dia tidak buru-buru melarikan diri mungkin juga tidak akan terjadi kejadian seperti ini.
Dan ya Khalid pada kenyataannya mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Lara.
"Maafkan Aku, semuanya salahku sekarang apa yang harus aku lakukan padamu, Aku orang yang tidak suka berhutang budi atau segala yang berurusan dengan hutang piutang, tapi pleaseee apa yang harus aku lakukan untuk membayarnya?" tanya Lara begitu ia masuk menemui Khalid.
"Atau kau butuh uang untuk biaya pengobatan mu,? sebutkan berapa yang kau minta aku akan memberikan ceknya untukmu."
"Dasar gadis sombong, apa kau kira aku butuh uangmu, apa kau kira aku semiskin itu untuk tidak mampu membayar pengobatanku sendiri.?" kesal Khalid merasa dirinya sangat di pandang miskin oleh wanita yang di depannya itu.
"A-aku t-tidak bermaksud seperti itu tapi_"
"Keluarlah atau aku akan marah dan tidak peduli kalau kau itu seorang wanita!" potong Khalid mengusir Lara. Namun Lara bergeming pada tempatnya.
"Kenapa kau masih berdiri disitu,? keluar lah, anggap saja hutang mu sudah lunas, sekarang kau boleh pergi!"
"Aku akan menjaga dan merawatmu hingga kau sembuh," ucap Lara pelan sambil menunduk karena ia tidak ingin mendapatkan penolakan.
"Apa kau kira Aku ma__Ap-apa kau bilang tadi? kau akan menjaga dan merawat ku hingga aku sembuh?"
"l-iya…" jawab Lara meragu.
"Baiklah Aku akan mempertimbangkannya."
Ucap Khalid dengan nada suara yang sangat terpaksa, padahal di dalam hatinya bersorak penuh kemenangan, karena apa yang menjadi tujuannya kini tinggal selangkah lagi.
*
__ADS_1
*
*
Dan seperti apa yang telah di katakan Lara ia pun benar-benar memenuhi janjinya untuk menjaga dan merawat Khalid, Namun dasar lelaki itu memang tidak tau Terima kasih, Dia dengan seenaknya menyuruh Lara membersihkan tempat tinggalnya yang luas itu lantaran tidak ada ART yang bekerja di rumahnya alasannya semua pelayan yang bekerja pulang kampung untuk berlibur. Lara pun mau tidak mau mengikuti semua yang di tugaskan Khalid padanya tanpa rasa curiga sedikitpun.
"Lara…Lara… cepat…! kau kemana saja? aku sudah sangat lapar, kenapa kau lelet sekali dalam bekerja?!" teriaknya terus memanggil P
Lara yang sedang sibuk mencuci piring memasak sambil mencuci pakaian untuknya.
"Tunggu sebentar, Tidak lama lagi selesai," ucap Lara yang begitu sabar dan telaten terus melayani keinginannya yang terkadang minta ini dan itu, belum lagi kalau permintaan nya yang aneh-aneh, contohnya ia kadang minta di suapin, bahkan menyuruh Lara mengipas tubuhnya dengan kertas, sampai ia bisa tertidur pulas, padahal sudah ada AC, dan kipas di rumahnya. la beralasan kalau kakinya terkena AC terlalu dingin maka kakinya akan semakin ngilu atau tidak bisa di gerakkan, dan kalau memakai kipas tentu saja ia akan masuk angin.
"Ayo cepatlah, bukanlah hari ini jadwal kau check up" ucap Lara mengingatkan pada Khalid. Lara pun segera mendorong kursi roda dan membawanya kemeja makan, dengan telaten Lara pun menyendokkan makanan di atas piring milik Khalid.
"Hari ini kau harus makan sendiri karena aku sangat sibuk, hari ini, ucap Lara meninggalkan meja makan.
"Apa kau tidak sarapan dulu?" tanya Khalid.
Lara menghentikan langkah nya di saat mendengar pertanyaan Khalid karena menurutnya ini kali pertama lelaki itu memperhatikan nya.
"Nanti saja, aku masih sangat sibuk, pekerjaanku belum selesai." Ucap Lara kembali lalu meneruskan langkahnya, kini ia menuju kamar mandi untuk menyelesaikan cucian nya dan sekaligus mandi karena sudah bertempur di dapur.
Setelah semua selesai ia pun kembali menemui Khalid untuk segera menemaninya untuk terapi dan Check up.
"Apa kau sudah siap, ayo kita berangkat." Ajak Lara pada Khalid yang baru saja menyelesaikan makannya.
"Sebaiknya kau makan dulu,"
"Aku tidak lapar," ucap Lara, karena rasa laparnya kini hilang diganti rasa capek yang mendominasi.
__ADS_1
"Terserah kau saja." Ucap Khalid cuek padahal di dalam hatinya ia begitu khawatir dengan keadaan Lara yang kadang suka makan terlambat, bahkan terkadang ia langsung tidur tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu. Dan ntah mengapa ia begitu kagum dengan wanita ini selain keras kepala ia juga penyabar dan juga bertanggung jawab.
"Ayo kita berangkat!" Ajak Lara kembali, membuat Khalid tersadar dari lamunannya.
"Aku heran kenapa kakimu tidak ada perubahan, padahal kita sudah satu bulan ini terus, saja memenuhi jadwal check up dan juga terapi, tapi kenapa dokter mengatakan kekimu semakin parah?" tanya Lara sambil menyetir.
"Apa kau mencurigaiku? kalau Aku berbohong padamu tentang sakitku ini? bahkan kau tau sendiri dokternya siapa, dan bahkan kau bertemu langsung dengan nya," ucap Khalid menutupi kegugupan nya karena ia takut jika Lara mengetahui apa yang di rencanakan nya selama ini.
"Aku tidak mengatakan kalau aku mencurigaimu. Aku kan hanya mengatakan kalau aku heran kenapa tidak ada perubahan pada kakimu itu,? apa sebaiknya kita pindah ke tempat pengobatan yang jauh lebih baik lagi," tawar Lara.
"Tidak…!" Jawab Khalid cepat, membuat Lara mengerutkan alisnya, dan menatap Khalid dengan tatapan tanpa berkedip.
"Mam-maksudku Aku sudah merasa nyaman di sana, lagi pula ini baru satu bulan,"
Sriiiit.
Lara yang merasa kesal dengan ucapan Khalid, langsung mengerem mobilnya secara mendadak, dan itu mampu membuat Khalid terkejut.
"Baru katamu,? apa kau tidak lihat bukan kau saja yang akan aku urus? aku juga punya kedua orang tua, yang membutuhkan ku, karena merawatmu aku pun membohongi mereka berdua kalau aku sedang bekerja di Singapura!" kesal Lara menatap tajam.
Gleg.
Dengan susah payah Khalid menelan salivanya.
"Kita akan lihat hari ini, jika tidak ada perubahan, maka aku akan memecat dokter itu, dan menyuruh papaku yang akan memeriksa kakimu," tutur Lara kembali, sambil kembali menyetir mobilnya.
"Apa…? Papamu?"
"lya Papaku, karena Papaku seorang dokter." Ucap Lara. Dan tentu saja itu membuat Khalid semakin takut, takut kalau Lara mengetahui kebohongannya selama ini.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Lara, karena Lagi-lagi Khalid seperti melamun seolah sedang memikirkan sesuatu.
"A-aku tidak apa-apa, aku hanya sedang memikirkan saranmu saja, seperti nya tidak ada salahnya kalau di coba." Bohongnya dengan sedikit gugup.